Pangkas Produksi Batu Bara dan Nikel, Bahlil: Saya Tahu Banyak yang Benci

Pangkas Produksi Batu Bara dan Nikel, Bahlil: Saya Tahu Banyak yang Benci

Ekonomi | okezone | Kamis, 22 Januari 2026 - 19:03
share

JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan kebijakan pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi batu bara dan nikel dilakukan untuk menjaga kepentingan negara, meningkatkan pendapatan nasional, serta memastikan keberlanjutan lingkungan.

RKAB, menurut Bahlil, merupakan instrumen pemerintah untuk mengendalikan dan mengawasi pengelolaan sumber daya alam agar sejalan dengan desain pembangunan nasional. Kebijakan ini tidak semata-mata mempertimbangkan kepentingan industri, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan bagi generasi mendatang.

"RKAB ini adalah instrumen pemerintah untuk memastikan pengelolaan sumber daya alam kita secara terencana, mengedepankan kepentingan negara, pendapatan negara, dan lingkungan," ujar Bahlil dalam Raker bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (22/1/2026).

Ia memaparkan, konsumsi batu bara dunia saat ini mencapai sekitar 8,9 miliar ton per tahun. Namun, volume yang benar-benar diperdagangkan di pasar global hanya berkisar 1,3 hingga 1,4 miliar ton per tahun.

Dari jumlah tersebut, Indonesia memasok sekitar 516 juta ton atau setara 43 persen dari total batu bara yang diperdagangkan di pasar internasional.

Dengan porsi pasar sebesar itu, Bahlil mempertanyakan mengapa harga batu bara justru terus mengalami penurunan. Ia menilai kondisi tersebut tidak lepas dari kelebihan pasokan (oversupply) di pasar.

"Masa market 43 persen kita kuasai, tapi harganya dikendalikan orang lain. Ini hukum supply dan demand, teori dasar ekonomi. Kalau suplai berlebih sementara permintaan tidak besar, harga pasti jatuh," tegasnya.

Karena itu, pemerintah memutuskan untuk memangkas RKAB sebagai langkah korektif untuk menyeimbangkan pasokan dan menjaga stabilitas harga. Menurut Bahlil, jika produksi dibiarkan terus meningkat tanpa kendali, maka Indonesia berisiko gagal dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

"Kalau kita biarkan, berarti kita gagal paham. Kita gali terus seolah-olah tidak ada lagi anak cucu kita," katanya.

 

Bahlil mengakui kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan resistensi dari sebagian pelaku usaha. Namun, ia menegaskan tidak akan mundur karena keputusan itu diambil demi kepentingan bangsa dan negara.

"Saya tahu ini pasti banyak orang yang membenci saya karena RKAB dipotong. Tapi untuk ibu pertiwi, saya tidak akan mundur, jangankan selangkah, sejengkal pun saya tidak akan mundur, dan saya akan hadapi semuanya," pungkasnya.

Sekedar informasi, Kementerian ESDM menetapkan produksi batu bara pada tahun 2026 dijaga di bawah 600 juta ton. Sementara untuk komoditas nikel, produksinya dibatasi di angka 250-260 juta ton.

Topik Menarik