Rupiah Melemah ke Rp16.896, Rosan: Masih dalam Range yang Acceptable

Rupiah Melemah ke Rp16.896, Rosan: Masih dalam Range yang Acceptable

Ekonomi | okezone | Kamis, 15 Januari 2026 - 20:14
share

JAKARTA - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menilai depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) tidak menjadi hambatan bagi masuknya investasi ke RI. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 31 poin atau sekitar 0,18 ke level Rp16.896.

Rosan menilai fluktuasi nilai tukar sudah menjadi salah satu pertimbangan investor sebelum menanamkan modalnya di Indonesia. Pelemahan nilai tukar yang belakangan terjadi dianggap masih dalam ambang batas yang bisa diterima oleh investor.

"Sebetulnya ini kan kalau kita lihat, USD itu kan bukan suatu kenaikan yang meningkat terus. Ini kan masih naik turun. Saya melihat ini masih dalam range yang sangat-sangat acceptable oleh investor luar juga," ujar Rosan usai konferensi pers realisasi investasi tahun 2025 di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Rosan menilai calon investor, baik asing maupun dalam negeri, sudah memperhitungkan potensi-potensi yang terjadi akibat pelemahan nilai tukar, misalnya biaya investasi yang membengkak baik dari sisi konstruksi maupun pengadaan bahan baku. Sebab, hal tersebut sudah menjadi paket kesatuan dari perencanaan awal investasi terkait profil risiko.

"Jadi, mereka sudah memperkirakan pergerakan dari mata uang kita pada saat mereka berinvestasi ke Indonesia. Jadi pergerakan itu masih dalam range yang sangat-sangat acceptable," lanjutnya.

Pada kesempatan itu, Rosan menampik anggapan pertumbuhan investasi asing yang melambat sepanjang tahun 2025. Tercatat realisasi investasi asing pada tahun 2025 sebesar Rp900,9 triliun atau hanya tumbuh 0,1 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Ia menjelaskan porsi investasi asing yang terkikis tersebut bukan karena minat investor asing yang melambat, melainkan pertumbuhan investasi dalam negeri yang menguat pesat. Porsi investasi asing yang masuk ke RI pada tahun 2025 sebesar 46,6 persen, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berkontribusi sebesar 53,4 persen.

 

"Sebetulnya bukan PMA-nya yang melambat kalau saya melihatnya, dalam negerinya yang lebih cepat," tambahnya.

Menurut Rosan, kehadiran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menjadi faktor yang mengerek realisasi PMDN sepanjang tahun 2025. Bahkan, porsi investasi asing pada tahun 2026 diproyeksikan bakal makin terkikis akibat investasi yang akan dilakukan oleh Danantara sepanjang tahun.

"Jadi saya yakin sekali bahwa memang akan ada kenaikan di dalam negerinya, terutama karena faktor Danantara itu akan cukup signifikan, sehingga kenaikan secara persentase itu dalam negerinya akan meningkat lebih banyak daripada luar negerinya," pungkas Rosan.

Topik Menarik