Kadin Waspada AS Berpotensi Ambil Jalan Pintas saat China Kuasai Mineral

Kadin Waspada AS Berpotensi Ambil Jalan Pintas saat China Kuasai Mineral

Ekonomi | okezone | Kamis, 15 Januari 2026 - 20:17
share

JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai dinamika geopolitik global saat ini, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Venezuela, dan negara lain, tidak sekadar berupa perang dagang, tetapi telah bergeser menjadi konflik fisik yang nyata.

Ketua Umum Kadin, Anindya Novyan Bakrie, menyoroti adanya ambisi ekspansionis dari kekuatan besar yang sulit dibendung, terutama ketika persaingan sumber daya strategis seperti mineral kritis serta minyak dan gas semakin memanas antara Barat dan Timur.

"Dua tahun yang lalu kita bicara kebanyakan tentang perang dagang dengan tarif, tapi setahun yang lalu, sekarang sudah berbicara tentang perang fisik. Jadi, apa… libido untuk ekspansionisme dari 'tax americana' ini nggak bisa dibendung," ujar Anindya di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Menurut Anindya, dominasi China dalam penguasaan mineral kritis serta sektor energi (minyak dan gas) memicu kekhawatiran bagi negara adikuasa lainnya.

Ia mengingatkan adanya potensi pengambilan "jalan pintas" berupa akuisisi paksa atau intervensi demi mengamankan sumber daya tersebut, yang pada akhirnya hanya akan memperparah ketidakpastian ekonomi global.

"Ketika Kadin berbicara tentang China yang menguasai mineral kritis, China menguasai oil and gas, negara adikuasa mungkin berpikir jalan pintas, bahwa akuisisi adalah jalan yang tercepat. Tapi itu hanya menciptakan ketidakpastian," tegasnya.

 

Menghadapi situasi dunia yang tidak lagi stabil, Anindya mengimbau para pelaku usaha dan publik untuk tetap tenang namun waspada dalam berhitung. Ia juga menyinggung kembali pesan Presiden Prabowo Subianto mengenai tiga pilar kekuatan sebuah negara adikuasa, yakni militer, ekonomi, dan teknologi.

Anindya menekankan bahwa ketika suatu negara merasa telah menguasai ketiga unsur tersebut, mereka cenderung merasa di atas angin. Hal inilah yang harus diantisipasi oleh Indonesia sebagai negara yang berupaya menjaga keseimbangan kepentingan di tengah dinamika Barat dan Timur.

"Negara itu bisa jadi negara adikuasa karena militer, karena ekonomi, karena teknologi. Ketika suatu negara merasa mempunyai ketiganya, benar atau tidak, nah ini membuat mereka merasa seperti di atas angin. Tapi karena negara itu negara adikuasa, ada di Barat, kita juga harus berhitung mesti seperti apa," pungkasnya.

Topik Menarik