Nama Cucu Pendiri NU Gus Salam Mencuat sebagai Calon Ketua Umum PBNU

Nama Cucu Pendiri NU Gus Salam Mencuat sebagai Calon Ketua Umum PBNU

Nasional | okezone | Senin, 5 Januari 2026 - 21:01
share

JAKARTA - Nama Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang Kiai Abdussalam Shohib alias Gus Salam mencuat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) menggantikan Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya. Gus Salam merupakan cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Bisri Syansuri.

Hal itu diungkapkan Pengasuh Pondok Pesantren Ma'hadul Ilmi Asy Syar'ie(MIS) Sarang, Rembang,  Kiai Imam Baehaqi, Senin (5/1/2026).

"Hingga saat ini, kemelut yang membelit PBNU belum tampak ujung jalan keluar. Gus Yahya, Ketua Umum yang diberhentikan Syuriyah PBNU dan Rais Aam, KH Miftachul Akhyar,” ujar Kiai Imam Baehaqi.

‘’Namun, sampai saat ini belum ada kemajuan signifikan, makanya kita butuh figure baru untuk memimpin PBNU, yakni Gus Salam," lanjutnya.

Menurut Kiai Imam, konsisten terhadap komitmen moral tersebut menjadi parameter untuk menilai orientasi khidmat keduanya. Namun, kedua pihak bersama kelompoknya belum terlihat maju untuk menjalankan solusi bersama.

"Yang dirugikan adalah NU secara jam’iyyah dan Nahdliyyin sebagai warga anggota beserta kekuatan penopang NU, yakni entitas pondok pesantren," kata dia.

Dikatakannya, semua unsur didalam NU bersepakat bahwa Muktamar, baik percepatan waktunya maupun bersifat luar biasa merupakan mekanisme legitimate untuk mengakhiri kemelut PBNU.

‘’Muktamar menjadi forum untuk menimbang masalah, tingkat pelanggaran, sanksi para pelanggar dan solusi atas dampak masalah dari kemelut PBNU. Dengan begitu, solusi kemelut PBNU demikian terang benderang untuk jalani,’’ ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, melalui Muktamar selanjutnya harus terpilih nakhoda baru PBNU agar kapal induk jam’iyyah NU bisa mengarungi samudera pengkhidmatan memasuki abad keduanya.

 

"NU dikembalikan pada poros utama, penggerak ulama pesantren beserta entitas sosial budayanya untuk berkhidmat pada Islam ASWAJA dan tegaknya NKRI menuju Indonesia emas demi mewujudkan kemashlahatan bersama dan peradaban yang berkeadilan sosial," tutur dia.

Menurutnya, sosok-sosok ulama muda dari pesantren harus tampil dengan wajah terbuka dan teruji dalam memajukan kemashlahatan Nahdliyyin, memimpin jam’iyyah NU.

‘’Memiliki pribadi konsolidatif  bagi berbagai kekuatan NU di arus bawah. Supaya arus bawah NU tetap dengan ragam inisiatif pengembangan kemajuan jam’iyyah dan jama’ah,’’ujarnya.

"Kiai Abdussalam Shohib, dikenal dengan Gus Salam, cucu Kiai Bishri Syansuri, salah satu pendiri jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Gus Salam sepupuan dengan Gus Dur dan Kiai Hasyim Wahid (Gus Iim, adik Gus Dur) dimana ibunda Gus Dur dan Gus Iim adalah Bu De atau kakak kandung dari ayahanda Gus Salam,"lanjutnya.

 

Kiai Imam Baehaqi menambahkan, Gus Dur dan Gus Salam dilahirkan di rumah yang sama, yakni Ndalem Kasepuhan Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang Jawa Timur. Dari jalur ibu, Gus Salam adalah kerabat dari keluarga besar PP Tarbiyatun Nasiin, KH Aziz Mansur, Paculgowang Jombang dan PP Lirboyo, Kediri Jawa Timur.

Dia melanjutkan, Gus Salam dipercaya menjadi pengurus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Kediri pada usia 25 tahun. Gus Salam juga menjadi penggerak dari Forum Bahtsul Masail Pondok Pesantren (FBMPP) se-Jawa Timur dan Madura," katanya.

Tahun 2015, di PBNU kepemimpinan KH Said Aqil Siradj, Kiia Abdussalam Shohib dipercaya untuk menjadi Katib PBNU. Dan di tahun 2018, Gus Salam lebih memilih berkhidmat di PWNU Jawa Timur sebagai Wakil Ketua PWNU.

“Selama di PWNU Jawa Timur, Gus Salam benar-benar menemukan lingkungan tepat untuk mengeksplorasi gagasan, ide dan pengkhidmatannya kepada jam’iyyah dan jamaah NU,” ujarnya.

 

Melalui jalur Koordinatorat Bidang Pengkaderan PWNU Jawa Timur, Gus Salam menggerakkan pengkaderan berbasis agenda secara masif se-Jawa Timur.

‘’Disertai upayanya, mendorong dan memfasilitasi agenda pengembangan inisiatif-kreatif dan inovasi di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan budaya NU ditingkat cabang. Karenanya PWNU Jawa Timur bergerak pada 5 program prioritas yang dikenal dengan Panca Gerak,” ungkapnya.

Sedangkan antar pondok pesantren, Gus Salam memfasilitasi forum-forum silaturrohim untuk menguatkan karakter pesantren.

“Tradisi nadhoman (syair tata bahasa) dan membaca kitab kuning dikuatkan dengan kompetisi antar pesantren. Kreativitas dan kegemaran santri didorong melalui panggung-panggung ekspresi,”tandasnya.

Topik Menarik