Dokter Tifa Dukung Anies Baswedan Jadi Menteri Prabowo, Ini Alasannya

Dokter Tifa Dukung Anies Baswedan Jadi Menteri Prabowo, Ini Alasannya

Berita Utama | sindonews | Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:54
share

Ilmuwan dan Praktisi Neuropolitika Tifauzia Tyassuma (Dokter Tifa) mengaku sependapat dengan Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI Syahganda Nainggolan yang menyarankan Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerima tawaran menjadi menteri apabila Presiden Prabowo Subianto benar-benar menawarkannya. Syahganda bahkan menyebut posisi Menteri Pendidikan sebagai salah satu pilihan yang cocok bagi Anies.

Namun, sampai saat ini, wacana tersebut belum berarti sudah ada tawaran resmi dari Prabowo. “Bagi saya, ada pelajaran penting dari sejarah politik Indonesia,” ujar Dokter Tifa dalam cuitannya di X dikutip Selasa (13/10/2026).

Dia mengungkapkan, Prabowo Subianto pernah menjadi rival politik Joko Widodo (Jokowi), tetapi akhirnya bersedia masuk ke dalam pemerintahan sebagai Menteri Pertahanan. Dia menambahkan, Prabowo tidak harus menjadi presiden terlebih dahulu untuk ikut bekerja bagi negara. “Mengapa Anies tidak bisa mengambil pelajaran serupa?” tutur Tifa.

Baca juga: Dokter Tifa Tantang Jokowi Tunjukkan Ijazah di Hadapannya

Tifa mengingatkan bahwa Pilpres 2024 sudah berlalu. Anies kalah dalam kontestasi tersebut. “Saya memahami bahwa seorang tokoh politik tentu memiliki cita-cita dan agenda besar untuk bangsanya. Tetapi pengabdian kepada bangsa tidak semestinya berhenti hanya karena seseorang belum berhasil menjadi presiden,” jelasnya.

Sudah lebih dari dua tahun sejak Pilpres Februari 2024, dia menunggu kiprah Anies, menunggu gagasan besar yang diwujudkan menjadi gerakan nyata, menunggu gebrakan yang dampaknya bisa dirasakan masyarakat luas.

“Dengan nama besar, pengalaman sebagai Gubernur DKI Jakarta, latar belakang akademik, dan modal kepercayaan publik yang dimilikinya, Anies semestinya dapat terus berkarya melalui berbagai jalan,” jelasnya.

Dia mengatakan, jangan sampai energi politik habis untuk menunggu momentum pilpres berikutnya. “Jika kesempatan menjadi menteri benar-benar datang, mengapa tidak dimanfaatkan untuk membenahi satu sektor penting dalam kehidupan bangsa? Pendidikan, misalnya, merupakan fondasi masa depan Indonesia. Ada begitu banyak persoalan yang membutuhkan pemikiran, keberanian, dan kerja nyata,” ujarnya.

Dia mengatakan, tentu saja, menerima jabatan bukan berarti harus kehilangan sikap kritis. Menurut dia, bergabung ke pemerintahan tidak berarti harus membenarkan semua kebijakan. Dikatakannya, justru seorang tokoh yang memiliki gagasan berbeda dapat memberikan perspektif baru dari dalam pemerintahan, sepanjang ia tetap berpegang pada integritas dan prinsipnya.“Dan jika akhirnya tidak ada tawaran menjadi menteri, Anies tetap mempunyai ruang luas untuk berkarya: membangun pusat pemikiran, mengembangkan gagasan pendidikan, menggerakkan masyarakat, membina generasi muda, dan menawarkan solusi konkret bagi persoalan bangsa,” ujarnya.

Sebab, dia berpendapat, yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar nama besar yang terus dipelihara, melainkan pemikiran yang diwujudkan menjadi tindakan. “Anies, bangsa ini tidak bisa terus menunggu. Menjadi presiden adalah satu jalan pengabdian. Menjadi menteri adalah jalan yang lain. Di luar keduanya, masih ada begitu banyak ruang untuk membuat perubahan,” katanya.

Pada akhirnya, lanjut Tifa, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah hampir menjadi presiden. Dia melanjutkan, sejarah juga mencatat siapa yang benar-benar bekerja dan memberikan manfaat bagi rakyat. “Jabatan boleh berganti. Kontestasi boleh dimenangkan atau dikalahkan. Tetapi pengabdian kepada bangsa tidak boleh berhenti,” pungkasnya.

Topik Menarik