KIP Kuliah Harus Tepat Sasaran, Ibas: Jangan Lagi Ada Mahasiswa Putus Kuliah
Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono menegaskan pentingnya memastikan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) tepat sasaran dan benar-benar menjangkau mahasiswa yang membutuhkan. Ibas, sapaan akrabnya menyatakan hal itu saat mengunjungi Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung.
Ibas menyampaikan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, parlemen, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah untuk memastikan akses pendidikan tinggi yang berkualitas dan berkeadilan. Negara harus hadir membantu anak-anak bangsa yang memiliki kemampuan dan potensi akademik, tetapi menghadapi keterbatasan kemampuan finansial untuk melanjutkan pendidikan.
Baca juga: 85.390 Mahasiswa Wilayah 3T Jadi Penerima KIP Kuliah 2026
“Program seperti Kartu Indonesia Pintar Kuliah atau KIP Kuliah ini sangat dinanti dan dimanfaatkan oleh kampus-kampus di Indonesia. Negara harus hadir agar anak-anak kita yang cerdas, mampu, dan memiliki kapasitas tidak kehilangan kesempatan hanya karena keterbatasan fiskal keluarga,” ujar Ibas dalam keterangannya, dikutip Kamis (1/10/2026).
Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR ini juga menekankan bahwa persoalan akses pendidikan tidak berhenti pada tersedianya program beasiswa. Implementasi di lapangan juga harus diperhatikan, termasuk persoalan administrasi dan validitas data penerima.“Jangan sampai mereka yang sangat mampu secara akademik dan sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi mahasiswa, akhirnya terkendala dan putus kuliah karena faktor administrasi teknis,” kata Ibas.
Baca juga: Anggaran KIP Kuliah Naik Tiap Tahun: 2027 Capai Rp15,37 Triliun
Karena itu, diperlukan sosialisasi, pendampingan, serta asistensi yang lebih baik kepada calon penerima maupun mahasiswa penerima bantuan pendidikan.
Hal tersebut juga dirasakan Amailawati Tsabita, salah satu mahasiswa penerima KIP Kuliah Unpad. Ia menceritakan bahwa kondisi ekonomi keluarga sempat membuatnya khawatir tidak dapat melanjutkan pendidikan setelah dirinya tidak tercantum dalam daftar penerima KIP Kuliah.Setelah dilakukan pengawalan terhadap persoalan tersebut, Amailawati akhirnya mendapatkan kembali KIP Kuliah dan dapat melanjutkan perkuliahannya. Kini, mahasiswa Fakultas Peternakan Unpad tersebut telah memasuki semester ketiga dan berharap kesempatan pendidikan yang diterimanya dapat menjadi jalan untuk meraih masa depan yang lebih baik sekaligus membantu keluarganya.
“Bagi saya, KIP Kuliah sangat berarti karena memberikan kesempatan untuk tetap melanjutkan pendidikan. Saya bersyukur bisa mendapatkan kembali KIP Kuliah dan melanjutkan kuliah. Saya berharap bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik dan memberikan masa depan yang lebih baik untuk keluarga,” ujar Amailawati.
Dalam kesempatan itu, Ibas juga menyoroti pentingnya pembenahan data sosial ekonomi dalam penyaluran program pemerintah. Menurutnya, kategorisasi berdasarkan desil dapat menjadi instrumen untuk menentukan kelompok masyarakat yang berhak menerima bantuan. Namun, data tersebut harus terus diperbarui dan divalidasi agar tidak terjadi ketidaktepatan sasaran.
“Desil satu sampai empat itu memang yang berhak. Tetapi persoalannya adalah masih ada data yang belum tervalidasi dan belum dicocokkan dengan kebutuhan di kewilayahan,” ujarnya.
Menurut Ibas, persoalan tersebut membutuhkan kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi.
“Ini tugas kita semuanya. Perlu kolaborasi, perlu sinergi. Sedikit, tetapi membawa dampak,” tegasnya.










