Tarif Ragunan Bakal Naik Rp10.000, Komisi C DPRD Jakarta: Untuk Peningkatan Kualitas

Tarif Ragunan Bakal Naik Rp10.000, Komisi C DPRD Jakarta: Untuk Peningkatan Kualitas

Nasional | sindonews | Jum'at, 4 September 2026 - 11:05
share

Rencana penyesuaian tarif masuk Taman Margasatwa Ragunan (TMR) memasuki babak baru. Komisi C DPRD DKI Jakarta dan pengelola Ragunan telah menyepakati adanya kenaikan harga ke depannya.

Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Dimaz Raditya mengatakan, rencana penyesuaian tarif diambil demi meningkatkan fasilitas dan layanan di area Ragunan. Tarif Rp4.000 untuk dewasa dan Rp3.000 untuk anak-anak dirasa kurang relevan dengan pendapatan warga Jakarta saat ini.

"Tarif Ragunan ini sudah 20 tahun tidak pernah naik. Sementara, kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta terus meningkat. Tarif sekarang paling mahal Rp4.000, rencana dinaikkan menjadi Rp10.000, tetapi masih terus kami kaji perihal angka," ujarnya, Jumat (4/9/2026).

Baca juga: Buntut Pengunjung Masuk Kandang Gajah, Ragunan Perketat Pengawasan

Maka itu, kata dia, Komisi C DPRD DKI Jakarta berencana melakukan penyesuaian tarif masuk Ragunan di angka Rp10.000. Angka Rp10.000 masih rasional dan ramah di kantong jika dibandingkan dengan beberapa destinasi wisata di Jakarta, seperti Ancol dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).Senada, anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth menilai, penyesuaian tarif memang perlu dilakukan demi membenahi berbagai sarana dan prasarana di Ragunan. Misalnya dari sisi tingkat keamanan kandang, masih ada sejumlah kandang yang tingkat keamanannya perlu diperhatikan.

Kenneth mencontohkan, pada Mei 2026 lalu ada seorang anak terjatuh ke kandang gajah sehingga perlu ada evaluasi peningkatan sektor keamanan kandang sehingga kejadian serupa tak terulang. Penyesuaian tarif tiket masuk dapat mengurangi beban subsidi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jakarta karena APBD masih menanggung biaya operasional Ragunan hingga 70.

"Beberapa waktu lalu ada anak yang terjatuh ke area kandang gajah. Nah, ini menjadi salah satu catatan kami dan kami berharap standar keamanan bisa ditingkatkan seiring penyesuaian tarif.

Lihat video: 600 Ribu Pengunjung Padati Ragunan Jakarta Pada Libur Nataru

Adanya peningkatan tarif ini adalah Taman Margasatwa Ragunan bisa mandiri secara finansial. Efisiensi pada anggaran APBD nantinya bisa digunakan untuk program lain yang lebih membutuhkan," tuturnya.

Pria yang akrab disapa Bang Kent itu menerangkan, dengan tarif baru, Ragunan diharapkan mampu secara bertahap mentransformasikan diri menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang mandiri. Dia pun membeberkan sejumlah catatan evaluasi kritis dari hasil inspeksi lapangan yang dilakukan beberapa waktu lalu.Dia mengungkap, penambahan pendapatan dari penyesuaian harga tiket masuk harus dialokasikan pada aspek-aspek vital, seperti perbaikan sanitasi, kebersihan toilet, hingga program pemuliaan satwa serta kesejahteraan pegawai dan unsur pendukung Ragunan harus bisa diprioritaskan.

"Kondisi satwa harus tetap prima. Bahkan untuk satwa besar seperti gorila jantan yang saat ini belum memiliki pasangan, kita dorong agar ada skema pertukaran satwa antar kebun binatang agar bisa mendapatkan gorila betina sehingga mereka bisa berkembang biak dengan layak. Kesejahteraan pegawai dan petugas teknis di lapangan juga harus diperhatikan. Semua ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit," bebernya.

Politisi PDI Perjuangan itu menjabarkan, penambahan pemasukan yang diterima pengelola Ragunan dari penyesuaian harga tiket masuk dapat dimanfaatkan untuk menambah jumlah dokter hewan. Sebabnya, jumlah dokter hewan di Taman Margasatwa Ragunan belum sebanding dengan jumlah satwa yang berjumlah lebih dari 2.200 satwa.

"Ada lebih dari 2.200 jumlah satwa di Taman Margasatwa Ragunan, tetapi jumlah dokter hewannya hanya berjumlah 8 orang, kan timpang sekali ini. Kalau penyesuaian tarif tiket masuk bisa menambah pemasukan, maka penambahan dokter hewan harus menjadi hal prioritas yang wajib dilakukan," ungkapnya.Kepala Taman Margasatwa Ragunan, drh. Endah Rumiyanti menyambut baik adanya wacana penyesuaian harga tarif masuk. Pihaknya terlalu bergantung dengan APBD DKI Jakarta setiap tahunnya. Sementara, pendapatan tiket masuk cenderung stagnan selama 20 tahun terakhir.

"Total kebutuhan anggaran operasional kami per tahunnya mencapai sekitar Rp160 miliar, tapi pendapatan mandiri yang mampu kami kumpulkan baru sekitar Rp30 miliar per tahun. Artinya, tingkat subsidi dari pemerintah daerah masih berada di kisaran 70 persen," terangnya.

Namun, tambahnya, wacana penyesuaian tarif bukanlah bentuk komersialisasi kawasan, melainkan upaya reorientasi pelayanan publik agar Ragunan dapat merealisasikan masterplan pengembangan kawasan secara sistematis.

"Bila penyesuaian tarif ini terlaksana, fokus utama kami adalah pembenahan fasilitas pendukung, perbaikan serta pemeliharaan kandang satwa, hingga penataan sistem zonasi kawasan berdasarkan masterplan yang telah disusun. Goal utamanya adalah menghadirkan ruang terbuka hijau dan kebun binatang berstandar internasional yang aman, nyaman, dan edukatif," katanya.

Ari Sandita Murti-Sindonews

Topik Menarik