Kejagung Periksa Tenaga Ahli dan ASN BGN terkait Kasus Dugaan Korupsi Tata Kelola MBG

Kejagung Periksa Tenaga Ahli dan ASN BGN terkait Kasus Dugaan Korupsi Tata Kelola MBG

Berita Utama | sindonews | Selasa, 1 September 2026 - 05:57
share

Yunani menandatangani kesepakatan senjata dengan Israel yang mencakup pengiriman sistem pertahanan udara berlapis senilai USD3,5 miliar atau senilai Rp62 triliun ke Athena; ini merupakan perjanjian pertahanan terbesar yang pernah disepakati oleh kedua negara.

Kesepakatan yang ditandatangani pada hari Senin di Tel Aviv ini terjadi di tengah memburuknya hubungan Yunani dengan negara tetangga sekaligus rivalnya, Turki. Namun, langkah ini juga menandai perubahan sikap dari kecenderungan umum Eropa yang selama ini enggan terlihat terlalu dekat dengan Israel—menyusul perang genosida di Gaza dan upaya Israel yang semakin terang-terangan untuk mencaplok wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Yunani dan Israel telah lama menjalin hubungan ekonomi dan diplomatik. Keduanya juga secara rutin mengadakan latihan militer bersama. Pembelian baru ini merupakan bagian dari rencana Yunani untuk memodernisasi militernya pada tahun 2030. Athena akan menghabiskan sekitar 28 miliar euro (32 miliar dolar AS) hingga tahun 2036 untuk membangun sistem pertahanan Israel—yang secara kolektif dikenal di Yunani sebagai "Achilles Shield" (Perisai Achilles)—serta untuk membeli hingga 40 jet tempur F-35 dari Amerika Serikat dan kapal fregat dari Prancis dan Italia.

Achilles Shield, yang negosiasinya memakan waktu tiga tahun, akan dikirimkan secara bertahap. Sistem ini dijadwalkan mencapai kesiapan operasional penuh dalam waktu 35 bulan.

 

Bermusuhan dengan Turki, Yunani Borong Rudal Israel Senilai Rp62 Triliun

1. Memborong Persenjataan Canggih

Menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Israel, Achilles Shield terdiri dari tiga sistem inti:David’s Sling dikembangkan oleh Organisasi Pertahanan Rudal Israel (Israeli Missile Defense Organization). Ini adalah sistem pertahanan udara dan rudal canggih yang dirancang untuk mencegat rudal balistik taktis, rudal jelajah, serta roket jarak menengah hingga jarak jauh melalui benturan kinetik langsung. Sistem ini melaju dengan kecepatan supersonik dan dapat menghadapi ancaman dari jarak 40 km hingga 300 km (25 mil hingga 185 mil).

Spyder diproduksi oleh Rafael Advanced Defense Systems. Sistem rudal permukaan-ke-udara ini dirancang untuk menghadapi ancaman udara ketinggian rendah seperti pesawat terbang, helikopter, pesawat nirawak (drone), dan amunisi berpemandu.

Sistem pertahanan multimoda Barak MX diproduksi oleh Israel Aerospace Industries. Sistem ini mampu menghadapi spektrum ancaman yang lebih luas—termasuk rudal jelajah, rudal balistik, jet tempur, helikopter, dan kendaraan udara nirawak—dari jarak 35 km hingga 150 km (55 mil hingga 240 mil) menggunakan empat model pencegat.

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Israel juga akan mengirimkan radar multimisi untuk pengawasan udara, serta pusat komando berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mengintegrasikan seluruh teknologi tersebut. Pernyataan dari juru bicara Kementerian Pertahanan Israel juga menambahkan bahwa sebuah kesepakatan tambahan senilai 26 juta euro (30 juta dolar AS) akan mencakup penjualan sistem pertahanan anti-drone (Drone Dome) oleh Israel kepada Yunani.

2. Dipicu Ketakutan Ancaman Serangan Iran

Para analis mengatakan Yunani semakin khawatir akan ancaman yang timbul akibat konflik antara AS-Israel dan Iran, terutama karena Teheran telah melancarkan serangan terhadap sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk.

"Perlu disadari bahwa Yunani menjadi tuan rumah bagi pangkalan angkatan laut Amerika, dan pangkalan-pangkalan tersebut bisa saja menjadi sasaran serangan Iran di masa depan," ujar Wolfgang Pusztai, seorang analis kebijakan keamanan yang pernah menjabat sebagai atase pertahanan Austria di Yunani, kepada Al Jazeera."Ini adalah kemampuan yang mungkin dibutuhkan oleh Yunani dan negara-negara Eropa lainnya jika Iran juga melayangkan ancaman terhadap mereka," tambahnya, merujuk pada sistem pertahanan tersebut.

Meskipun sistem pertahanan Patriot milik AS sangat diminati, beberapa negara Eropa mulai beralih ke sistem David's Sling buatan Israel yang lebih murah dan lebih efektif, kata Pusztai. Stok rudal Patriot milik AS sendiri juga sedang menipis secara kritis. Pada bulan Mei, Swiss diberitahu bahwa pengiriman Patriot dari AS akan tertunda dan biayanya menjadi lebih mahal di tengah situasi konflik dengan Iran.

3. Mewaspadai Militer Turki

Para analis mengatakan bahwa mereka juga mewaspadai kemampuan drone Turki yang terus meningkat. Ankara dan Athena telah lama berselisih mengenai batas-batas wilayah laut, termasuk kendali atas wilayah sengketa di Laut Aegea dan Mediterania Timur. Ketegangan antara Turki dan Israel juga meningkat akibat tindakan genosida Israel di Gaza.

"Ini tentu menjadi alasan mengapa [Yunani] akan mengerahkan elemen-elemen pertama dari sistem Achilles Shield di Laut Aegea," tambah Pusztai.

Turki belum memberikan tanggapan terhadap kesepakatan pertahanan baru ini. Hubungan militer yang kian erat antara Yunani, Israel, dan Siprus—negara yang juga memiliki sengketa wilayah dengan Turki—sebelumnya telah memicu reaksi negatif dari Ankara.

"Kami sudah mendengar sejumlah analis Turki berbicara kepada media setempat mengenai bagaimana kesepakatan pengadaan senjata Yunani dari Israel secara efektif membuat Yunani turut bertanggung jawab atas segala tindakan Israel di Tepi Barat yang diduduki dan di Gaza," ujar John Psaropoulos dari Al Jazeera, melaporkan dari Athena.Pada bulan Desember lalu, Siprus menjadi negara pertama yang membeli sistem pertahanan Barak buatan Israel.

Saat itu, para pengamat pertahanan Turki mengecam pembelian tersebut.

"Pemerintahan Siprus Yunani kini telah sepenuhnya menjadi proksi bagi AS dan Israel," kata Cem Gurdeniz, seorang pensiunan laksamana muda terkemuka sekaligus pendukung utama doktrin maritim "Tanah Air Biru" (Blue Homeland) milik Turki, yang menegaskan kedaulatan Ankara atas wilayah sengketa yang luas di Laut Aegea, Laut Hitam, dan Mediterania Timur.

4. Yunani Jadi Satelit Israel

Seperti halnya di beberapa negara Eropa lainnya, banyak warga Yunani menentang tindakan genosida Israel di Gaza serta upaya mempererat hubungan dengan Israel.

Menurut jajak pendapat Pew Research Center yang dirilis pada bulan Juni, sekitar 76 persen warga Yunani tidak yakin bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan mengambil langkah yang tepat dalam urusan dunia.

Tokoh oposisi dan kalangan intelektual secara vokal mengkritik langkah Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis dalam memperkuat hubungan dengan Israel, serta menuduh Israel berupaya menjadikan negara mereka sebagai proksi.

"Transformasi Yunani menjadi negara satelit Israel sedang berlangsung dengan kecepatan yang sangat tinggi," tulis mantan Menteri Keuangan Yunani, Yanis Varoufakis, di platform X pekan lalu. "Hal ini menjadi pertanda buruk bagi sebagian besar warga Yunani, bagi perdamaian di kawasan kita, serta bagi Eropa dan Asia Barat secara lebih luas. Hal ini harus dilawan."

Topik Menarik