Bukan Kain Biasa, Ini Kisah di Balik Bendera Pusaka Merah Putih Buatan Fatmawati

Bukan Kain Biasa, Ini Kisah di Balik Bendera Pusaka Merah Putih Buatan Fatmawati

Nasional | sindonews | Selasa, 18 Agustus 2026 - 06:14
share

PROKLAMASI Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta dilanjutkan dengan berkibarnya Sang Saka Merah Putih. Bendera pusaka yang dijahit langsung oleh Ibu Negara Fatmawati itu kemudian menjadi salah satu simbol paling bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Namun, di balik bendera pusaka tersebut tersimpan kisah menarik mengenai asal-usul kain merah dan putih yang digunakan Fatmawati untuk menjahitnya.

Baca juga: Kisah Gatot Iskandar, Bocah 15 Tahun Jadi Kurir Kemerdekaan: Keliling Sumatera Sebarkan Kabar Proklamasi

Dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno, Volume 1 yang terbit pada 1978, Fatmawati mengungkap cerita mengenai kain yang kelak menjadi Bendera Pusaka.

Saat itu, sekitar Oktober 1944, usia kandungan Fatmawati telah memasuki sembilan bulan. Putra pertamanya bersama Soekarno, Guntur Soekarnoputra, kemudian lahir pada 3 November 1944.

Di tengah kondisi tersebut, seorang perwira Jepang datang membawa dua blok kain. Satu berwarna merah dan lainnya berwarna putih.

Baca juga: Haji Darip, Jawara Betawi yang Berani Keroyok Tentara Jepang dan Belanda hingga Kocar Kacir

"Yang satu blok berwarna merah sedangkan yang lain berwarna putih. Mungkin dari kantor Jawa Hokokai," tutur Fatmawati dalam catatannya.

Kain tersebut kemudian dijahit Fatmawati menggunakan mesin jahit tangan. Bendera itu dipersiapkan sebagai simbol Merah Putih yang kelak berkibar dalam momentum kemerdekaan Indonesia.

Kain dari Perwira Jepang

Lantas, siapa perwira Jepang yang membawa kain tersebut? Dalam memoar Chairul Basri berjudul Apa yang Saya Ingat, disebutkan bahwa kain merah dan putih itu berkaitan dengan Hitoshi Shimizu, Kepala Sendenbu atau Departemen Propaganda pada masa pendudukan Jepang.Chairul Basri kala itu diminta Shimizu mengambil kain dari sebuah gudang milik Jepang di kawasan Pintu Air, Jakarta Pusat, tepat di depan bekas Bioskop Capitol.

"Saya diminta oleh Shimizu untuk mengambil kain itu dan mengantarkannya kepada Ibu Fatmawati," kenang Chairul dalam memoarnya.

Cerita tersebut kembali terungkap pada 1978 ketika Shimizu diundang Presiden Soeharto ke Indonesia untuk menerima penghargaan dari pemerintah. Shimizu dianggap berjasa dalam meningkatkan hubungan Indonesia-Jepang.

Dalam kesempatan bertemu kembali dengan kawan-kawannya semasa pendudukan Jepang, Fatmawati disebut menceritakan kepada Shimizu bahwa kain bendera pusaka berasal darinya.

"Pada kesempatan itulah Ibu Fatmawati bercerita kepada Shimizu bahwa bendera pusaka kainnya dari Shimizu," ujar Chairul.Pada kesempatan lain, Shimizu juga menceritakan kepada Chairul bahwa dirinya memang pernah memberikan kain merah dan putih untuk diserahkan kepada Fatmawati.

Versi Kain Merah dari Tenda Soto

Namun, terdapat versi lain mengenai asal-usul kain merah yang digunakan untuk menjahit Bendera Pusaka. Kisah ini menyebut kain merah tersebut didapat dari sebuah warung tenda soto dan dibeli dengan harga Rp500 sen.

Cerita bermula ketika Fatmawati sebenarnya telah membuat bendera Merah Putih sebelum 16 Agustus 1945. Namun, ukuran bendera tersebut dinilai terlalu kecil karena panjangnya hanya sekitar 50 sentimeter.

Fatmawati kemudian berencana membuat bendera baru yang lebih besar. Ketika membuka lemari pakaian, Fatmawati hanya menemukan kain putih bersih yang disebut merupakan bahan seprai. Persoalannya, dia tidak memiliki kain berwarna merah.

Saat itu, seorang pemuda bernama Lukas Kustaryo berada di kediaman Soekarno. Fatmawati kemudian meminta Lukas mencari kain merah untuk melengkapi bahan bendera.

Menurut penuturan Lukas Kustaryo yang dimuat Majalah Intisari edisi Agustus 1991, dia berkeliling mencari kain merah hingga akhirnya menemukan kain yang digunakan sebagai tenda sebuah warung soto. Kain tersebut kemudian ditebus dengan harga Rp500 sen dan dibawa kepada Fatmawati.Malam itu juga, Fatmawati menjahit bendera Merah Putih berukuran sekitar 276 x 200 sentimeter. Bendera tersebut kemudian dikibarkan pada Jumat, 17 Agustus 1945, saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56.

Bendera itulah yang kemudian dikenal sebagai Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih. Bendera Pusaka terakhir kali dikibarkan pada 1969. Setelah itu, pemerintah membuat bendera duplikat berukuran 300 x 200 sentimeter untuk digunakan dalam upacara kenegaraan.

Terlepas dari adanya sejumlah versi mengenai asal-usul kainnya, Bendera Pusaka Merah Putih tetap menjadi saksi bisu lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka pada 17 Agustus 1945.

Topik Menarik