Hari Ini Prabowo Resmikan 895 Jembatan Merah Putih Presisi yang Dibangun Polri
Sekitar 100 cendekiawan dari Indonesia dan Malaysia akan berkumpul dalam Persidangan Kedua Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia (Madani Malindo). Pertemuan tersebut rencananya digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, pada 20-23 Agustus 2026.
Ketua Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Din Syamsuddin mengatakan, forum tahunan yang telah memasuki penyelenggaraan kedua ini bertujuan mempertemukan para cendekiawan dari kedua negara untuk mempererat silaturahmi sekaligus bertukar gagasan mengenai konsep negara madani.
"Ini disebut persidangan tahunan dan ini kali kedua dari Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia atau Madani Malindo yang mempertemukan sekitar 99 cendekiawan dari kedua negara," kata Din, Kamis (13/8/2026).
Baca juga: Indonesia Tuan Rumah Konferensi MHM Tingkat Asia Tenggara, Bahas Agama dan Perubahan Iklim
Menurut Din, tema utama yang akan dibahas dalam persidangan tersebut adalah wawasan negara madani yang digagas Perdana Menteri Malaysia Dato' Seri Anwar Ibrahim. Ia menilai konsep tersebut memiliki kesamaan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Negara Pancasila."Bertujuan selain untuk silaturahim tapi juga silatulfikri membincangkan satu tema besar yaitu wawasan negara Madani yang digagas oleh Perdana Menteri Malaysia Dato' Seri Anwar Ibrahim yang bagi kita di Indonesia wawasan negara Madani itu adalah Negara Pancasila itu sendiri," ujarnya.
Ia menjelaskan, forum tersebut juga dimaksudkan untuk memperkuat wawasan negara madani dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan di tengah situasi global yang dinilainya sedang mengalami berbagai kerusakan.
Lihat video: Bertemu Dubes Iran untuk Indonesia, Din Syamsuddin Doakan Perang Segera Berakhir
"Maka persidangan ini bertujuan untuk memperkuat wawasan negara Madani ya terutama di dalam menghadapi tantangan masa depan dan tengah di tengah kerusakan dunia sekarang ini untuk kita wujudkan dan Indonesia serta Malaysia bisa menjadi role model bagi sebuah negara Madani yang tiada lain negara yang sejahtera lahir dan batin," katanya.Dalam kesempatan itu, Din juga berharap Presiden Prabowo Subianto dapat berkenan membuka pertemuan para cendekiawan Indonesia dan Malaysia tersebut di Istana Merdeka pada 21 Agustus 2026.
"Dan secara khusus kami ingin sekali Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto berkenan untuk membuka pertemuan seratusan cendekiawan dari dua negara ini di Istana Merdeka pada hari Jumat 21 Agustus 2026 setelah salat Jumat," ucapnya."Karena persidangan pertama di Kuala Lumpur tahun lalu ikut dibuka oleh Perdana Menteri Malaysia Dato' Seri Anwar Ibrahim, maka eloklah kalau Presiden Prabowo ikut bersama menerima ya para cendekiawan dari dua negara ini," sambungnya.
Sementara itu, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro menilai forum tersebut penting karena mempertemukan kalangan cendekiawan dari dua negara untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi di tengah berbagai tantangan yang dihadapi kawasan.
"Jadi kolaborasi sinergi itu sangat diperlukan tidak hanya secara internal tapi juga antar negara. Dan inilah saatnya kita bisa tidak hanya berkompetisi tapi masing-masing saling memperkuat," kata Siti.
Ia berharap forum tersebut dapat menghasilkan rumusan yang lebih utuh mengenai konsep negara madani yang berakar pada nilai-nilai Pancasila dan pengalaman Indonesia sejak kemerdekaan.
"Ini yang kita harapkan memang nantinya ada perumusan, formulasi yang lebih utuh. Kita memahami negara Madani itu yang betul-betul mengacu pada katakan gitu ya apa yang sudah nilai-nilai yang sudah kita miliki dan bahkan ideologi yang kita sudah jalani sejauh- sejak merdeka sampai saat ini," ujarnya.








