Sukses Membuat Kue, Program Sandi Inspirasi Ratusan UMKM
Keberhasilan meningkatkan UMKM menjadi inspirasi ratusan UMKM. Salah satunya Riva Cake yang kini dikenal dengan produk unggulannya, Kue Sarmut berbahan dasar talas, tersimpan perjalanan panjang penuh jatuh bangun yang dialami pemiliknya, Vini.
Perempuan asal Cigombong, Kabupaten Bogor itu mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan tata boga sekolah perhotelan NHI Bandung. Pada 2010, Vini mulai menekuni usaha roti burger setelah melihat peluang pasar di lingkungan pesantren di wilayah Sukabumi.
"Dulu saya produksi roti burger untuk pesantren-pesantren dari Cigombong sampai Cibadak. Produksinya bisa mencapai 800 roti per hari," ujarnya kepada wartawan, Kamis (30/7/2026).
Baca juga: Jelang Ramadan, Sandi Uno Beri Pelatihan Pembuatan Kue untuk UMKM di Bekasi
Keberhasilan usaha tersebut membuatnya semakin yakin mengembangkan bisnis kuliner. Pada 2014, modal sekitar Rp100 juta hasil usaha burger digunakan untuk menyewa ruko dan membangun usaha bakery.
Pesan WA Terakhir Siswa Korban Perundungan di Lumajang kepada Kakak: Mengeluh Sakit Hampir Mati
Namun langkah tersebut justru menjadi awal masa sulit dalam hidupnya. Tanpa bekal pengetahuan bisnis yang memadai, usaha bakery yang dibangun tidak berjalan sesuai harapan.Vini mengaku saat itu belum memahami pentingnya riset pasar dan strategi usaha. Produk bakery yang ditawarkan ternyata kurang sesuai dengan karakter konsumen di wilayah Cigombong.
Dalam waktu sekitar satu tahun, modal usaha habis. Untuk mempertahankan usaha, ia bahkan mengagunkan mobil pribadi. Namun karena kondisi keuangan terus memburuk, kendaraan tersebut akhirnya disita pihak leasing.
Situasi itu membuat dirinya dan sang suami memutuskan meninggalkan Bogor dan mencoba peruntungan baru di Palembang. "Kami berangkat hanya membawa satu mesin giling mie. Peralatan bakery yang lain ditinggalkan karena tidak punya biaya untuk mengangkutnya," kenangnya.
Di Palembang, pasangan tersebut membuka usaha mie ayam. Usaha itu sempat berkembang dan menarik minat calon mitra. Namun cobaan kembali datang ketika adik bungsu Vini meninggal dunia sehingga ia harus pulang ke Bogor untuk merawat ibunya.
Usaha mie ayam yang dirintis di Palembang akhirnya berhenti beroperasi. Titik balik kehidupan Vini datang saat mendapat ajakan dari ketua RT setempat untuk mengikuti bazar Ramadan.
Awalnya ia kembali mencoba menjual burger, namun tidak mendapat respons pasar. Vini kemudian beralih menjual kue sus, risoles, dan lemper dalam jumlah terbatas.
Di luar dugaan, seluruh dagangan habis terjual sebelum waktu berbuka puasa. Keberhasilan kecil tersebut menjadi pemantik semangat baru. Ia mulai menambah variasi produk kue basah dan menerima pesanan dari kantor maupun sekolah di sekitar tempat tinggalnya.Meski masih trauma membuka toko fisik, Vini memberanikan diri berjualan menggunakan etalase sederhana di area parkir sebuah ruko. Dari tempat itulah usaha yang kini dikenal sebagai Riva Cake mulai berkembang.
Perjalanan usaha Vini memasuki babak baru setelah bergabung dengan komunitas UMKM dan mengikuti berbagai pelatihan. Salah satunya pelatihan yang digelar Yayasan Indoensia Setara (YIS).
Dalam program Desa Emas itu, dia menyadari pentingnya memiliki produk khas yang dapat menjadi identitas usaha. Kesempatan itu datang ketika mengikuti program pangan lokal yang mendorong pemanfaatan talas, komoditas unggulan Bogor.
Berbagai percobaan dilakukan untuk mengolah tepung talas menjadi produk yang memiliki cita rasa berbeda. Setelah melalui proses yang panjang, Vini menemukan formulasi yang cocok dengan mengombinasikan tepung talas dan kue karamel sarang semut.
Produk tersebut kemudian diberi nama Kue Sarmut. Awalnya, produk ini kurang mendapat perhatian karena dianggap sebagai kue tradisional biasa. Namun melalui strategi pembagian sampel kepada pelanggan, Kue Sarmut mulai dikenal dan diterima pasar.
Kini produk tersebut menjadi salah satu oleh-oleh khas Cigombong dan dijual sekitar Rp60.000 per boks. Berkat konsistensinya mengembangkan produk berbasis talas, Vini beberapa kali dipercaya mewakili Kabupaten Bogor dalam pameran tingkat nasional yang diselenggarakan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI).
Saat ini, kapasitas produksi Riva Cake mencakup sekitar 20 jenis kue basah, lapis talas, serta Kue Sarmut yang mampu diproduksi hingga puluhan boks setiap hari. Tidak hanya fokus mengembangkan usaha sendiri, Vini juga membangun komunitas Riva Baking Class (RBC) yang menjadi wadah berbagi ilmu bagi pelaku usaha kuliner.Komunitas yang dirintis sekitar lima tahun lalu itu kini memiliki lebih dari 120 anggota yang berasal dari Bogor, Tangerang, hingga Jakarta. Melalui kelas tersebut, peserta belajar membuat berbagai produk makanan, mulai dari roti, bagelan, dimsum, hingga produk frozen food.
Beberapa anggota bahkan berhasil mengembangkan usaha sendiri setelah mengikuti pelatihan tersebut. Bagi Vini, keberhasilan tidak hanya diukur dari perkembangan bisnis yang dijalankan, tetapi juga dari kemampuan membantu orang lain berkembang.
"Saya merasa sukses kalau saya bisa membuat orang lain sukses," ujarnya.
Founder Yayasan Indonesia Setara (YIS), Sandiaga Salahuddin Uno, menilai perjalanan Vini menjadi contoh nyata bahwa pelaku UMKM dapat bangkit dari keterpurukan ketika mendapatkan pendampingan yang tepat, kemauan belajar, dan keberanian untuk terus berinovasi.
Menurutnya, Program Desa Emas memang dirancang untuk membantu pelaku usaha mengembangkan potensi lokal menjadi produk bernilai tambah sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Melalui program tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan teknis, tetapi juga pendampingan dalam manajemen usaha, pemasaran, pengembangan produk, hingga perluasan jejaring bisnis.
"Yang kita kejar adalah dampak sosial dan pertumbuhan bersama. Dari usaha kecil yang naik kelas, akan lahir peluang kerja baru di masyarakat," kata Sandiaga Uno.Dirinya menyebut sosok Vini menunjukkan bagaimana pelaku usaha yang sempat mengalami kegagalan dapat bangkit kembali melalui inovasi dan pemanfaatan potensi daerah.
Produk Kue Sarmut berbahan dasar talas yang dikembangkan Vini dinilai sejalan dengan semangat Desa Emas yang mendorong lahirnya produk unggulan berbasis sumber daya lokal.
"Program ini bertujuan memberdayakan pelaku usaha melalui pengembangan produk unggulan berbasis potensi lokal. Dengan dukungan pendampingan dan partisipasi aktif masyarakat, UMKM dapat menjadi motor kemandirian ekonomi daerah," ujar Sandiaga.
Ia menambahkan, keberhasilan UMKM tidak hanya diukur dari peningkatan omzet, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Karena itu, kisah Vini yang kini membina pelaku usaha melalui komunitas Riva Baking Class menjadi contoh multiplier effect yang ingin diwujudkan dalam setiap program pemberdayaan UMKM.
Kepada para pelaku UMKM, Sandiaga berpesan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan usaha. Menurutnya, tantangan merupakan bagian dari proses membangun bisnis yang berkelanjutan.
"Jangan takut memulai dan jangan takut gagal. Terus belajar, berinovasi, manfaatkan potensi lokal, serta bangun jejaring dan kolaborasi. UMKM yang mau beradaptasi dan meningkatkan kapasitas diri akan memiliki peluang lebih besar untuk naik kelas," pungkasnya.









