BNPB Ungkap Kekeringan Landa Wilayah Jawa Timur Akibat Musim Kemarau

BNPB Ungkap Kekeringan Landa Wilayah Jawa Timur Akibat Musim Kemarau

Nasional | sindonews | Kamis, 30 Juli 2026 - 20:26
share

Kekeringan masih mendominasi kejadian bencana di berbagai wilayah akibat musim kemarau pada Selasa-Rabu 28-29 Juli 2026. Adapun daerah yang mengalami kekeringan yakni, di Lamongan, Jawa Timur.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menyebutkan, selain kekeringan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian nasional di sejumlah wilayah Indonesia.

"Penanganan dampak kekeringan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur terus dilakukan melalui penyaluran bantuan air bersih kepada warga terdampak. Berdasarkan laporan Rabu (29/7), BPBD Kabupaten Lamongan telah melaksanakan distribusi air bersih di Desa Kedungkumpul, Kecamatan Sarirejo, dengan distribusi ke lima titik/RT di Dusun Walangkopo," ujarnya, Kamis (30/7/2026).

Baca juga: 72,8 Wilayah Indonesia Kemarau, BMKG: Jateng Terkering, 80 Hari Tak Diguyur Hujan

Menurut Abdul Muhari, seluruh kegiatan penyaluran bantuan telah terlaksana dengan baik berkat dukungan pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat. Kekeringan dipicu oleh cuaca panas akibat musim kemarau dan berdampak pada sekitar 150 kepala keluarga atau 600 jiwa di Desa Kedungkumpul. Tidak terdapat kerugian materiil yang dilaporkan dalam kejadian ini."BPBD Kabupaten Lamongan terus berupaya memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat melalui pendistribusian bantuan ke wilayah terdampak. Kabupaten Lamongan saat ini masih berstatus Siaga Darurat Bencana Kekeringan hingga 31 Oktober 2026, sementara Pemerintah Provinsi Jawa Timur menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan hingga 6 Oktober 2026," tuturnya.

Sementara itu, di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara, karhutla telah berhasil diselesaikan. Berdasarkan laporan Rabu (29/7/2026), api yang sebelumnya membakar lahan di Desa Binuanga, Kecamatan Bolangitang Timur, kini telah padam.

Lihat video: Imbas Kekeringan, Tinggi Air Bendungan Katulampa Bogor di Bawah 0 Sentimeter

"Kebakaran terjadi pada Selasa, 28 Juli 2026 sekitar pukul 13.00 WITA di lahan kering yang dipenuhi dedaunan dan rumput kering. Kondisi cuaca panas disertai angin menyebabkan api dengan cepat merambat hingga berdampak pada sekitar 5 hektare lahan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini," jelasnya.

Abdul Muhari menerangkan, penanganan karhutla di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, juga telah selesai. Berdasarkan laporan Rabu, 29 Juli 2026, api yang membakar lahan di Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, telah berhasil dipadamkan. Kebakaran terjadi pada Minggu, 26 Juli 2026 pukul 18.39 WIB, saat api diketahui membakar lahan jati di Padukuhan Kuwon Kidul. Peristiwa ini mengakibatkan sekitar 3 hektare lahan terbakar tanpa menimbulkan korban jiwa.

Lalu, karhutla juga dilaporkan dari Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya. Berdasarkan laporan BPBD Kota Sorong hingga Rabu, 29 Juli 2026 pukul 08.48 WIB, seluruh titik kebakaran telah berhasil dipadamkan. Meski demikian, dampak kebakaran mengakibatkan sekitar 24 hektare lahan terbakar dan satu tiang listrik mengalami kerusakan yang menyebabkan sebagian aliran listrik ke rumah warga di Kelurahan Matalamagi, Distrik Sorong Utara, sempat terputus."Karhutla pertama kali terdeteksi pada Selasa, 21 Juli 2026 sekitar pukul 12.30 WIT di wilayah Gunung Kali Ampat, meliputi Distrik Malaimsimsa dan Distrik Sorong Utara. Kobaran api kemudian membesar pada sore hari akibat kondisi kemarau dan angin kencang. Kebakaran kembali terjadi pada Kamis, 23 Juli 2026 di kawasan hutan Gunung Woroth, Kelurahan Kakublik, Distrik Sorong Kota," paparnya.

Abdul Muhari mengungkap, kejadian ini berdampak pada lima distrik dan delapan kelurahan, yaitu Distrik Malaimsimsa, Sorong Utara, Sorong Kota, Sorong Timur, dan Maladum Mes. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Selama penanganan, BPBD Kota Sorong melakukan pemantauan di titik-titik kebakaran serta pendataan dampak kejadian.

BNPB, tambahnya, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap ancaman potensi bahaya hidrometeorologi. Terkait dengan bahaya karhutla, BNPB mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, serta segera melaporkan kepada aparat setempat apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sedini mungkin.

"Sedangkan menghadapi kekeringan, masyarakat diimbau untuk menggunakan air secara bijak, menghemat konsumsi air bersih, serta mengikuti arahan pemerintah daerah apabila terjadi gangguan ketersediaan air selama musim kemarau," katanya.

Topik Menarik