Diagnosa Kesehatan Pesantren: Jangan Salah Obat
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta
Beberapa bulan ini, kami banyak mendapat keluhan tentang sepinya pendaftar di pesantren, lalu tidak sedikit pengasuhnya yang mengambil langkah dengan memasang spanduk di mana-mana, ada juga pesantren yang ramai pengunjung, tapi sedikit yang daftar dan fenomena yang lebih unik lagi, pesantren santrinya banyak, tapi keuangannya tekor.
Saya sering menemukan ini. Para kiai panik, lalu memberi "obat" yang salah sasaran.
Padahal, setiap masalah punya akar yang berbeda. Beda penyakit, beda obat.
Baca juga: Buntut Pendiri Ponpes Cabul, Kemenag Pindahkan Santri ke Sejumlah Sekolah di Pati
Pernah saya menonton video seorang pengusaha kopi menjelaskan kerangka diagnosis bisnis. Ini mungkin bisa kita jadikan pembelajaran, Ia bilang, jika toko sepi, masalahnya di pemasaran. Jika ramai tapi sedikit yang beli, masalahnya di strategi menjual atau target pasar. Jika pelanggan tidak pernah kembali, masalahnya di produk.
Kerangka itu sangat logis. Dan ternyata, pesantren pun bisa didiagnosis dengan cara yang sama.
Kita bisa belajar dari diagnosa ini. Mari kita bedah satu per satuPertama, Santri Sepi, Masalahnya Pemasaran
Baca juga: Prabowo Tanda Tangani Perpres Pembentukan Ditjen Pesantren
Kami pernah diundang ke pesantren di Riau. Pengasuhnya gelisah. "Ust, tahun ini pendaftar cuma 40 orang, padahal tahun lalu 80."
Saya tanya, "Lokasi pesantrennya di mana?"
"Di dalam gang, agak masuk dari jalan raya. Tidak ada papan nama."
Saya tertawa kecil. Bukan menghina, tapi kasihan. Pesantrennya bagus, pengajiannya rutin, tapi tidak ada yang tahu karena tidak kelihatan.
Nah disini, obatnya pasang papan nama yang jelas. Aktif di media sosial. Jalin kerja sama dengan SD/MI sekitar. Jangan cuma promosi pas mau pendaftaran, lalu diturunkan lagi.
Kedua, Ramai Survei, Tapi Sedikit Daftar Masalah Strategi Menjual atau Target Salah.Ini lebih menjebak. Banyak orang datang lihat-lihat, senyum-senyum, tapi yang daftar hanya segelintir.
Bisa dilihat dari dua hal lagi. Promosi salah sasaran. Misalnya, ada yang buka pesantren tahfidz, tapi yang datang anak-anak yang tidak minat hafalan. Kemudian masalah lainnya, tim kita mungkin tidak bisa "menjual" pesantren, artinya mensyiarkan nilai positif pesantrenya. Seperti kurang ramah, kurang meyakinkan, atau tidak bisa menjawab pertanyaan calon wali santri.
Solusinya, pertegas target pasar. Mau melayani siapa? Lalu lakukan pelatihan tim PPDB pesantrennya. Bagaimana cara menyambut, menjelaskan, juga menindaklanjuti calon santri.
Ketiga, santri Masuk, Tapi Banyak Keluar, tidak betah, apa masalahnya, Produk (Pendidikan dan Pengasuhan) di pesantren.
Ini yang paling menyakitkan. Pesantren ditinggal santri, Santri datang, lalu pergi. Tidak betah. Kabar burungnya cepat menyebar.
Salah satu tandanya, wali santri komplain. "Anak saya tidak kerasan, makanannya tidak enak, gurunya galak."
Apa yang bisa dilakukan, evaluasi total. Bukan hanya kurikulum, tapi juga pengasuhan, makanan, kebersihan, keamanan, suasana kekeluargaan. Jika santri betah, itu pertanda produk (Pengasuhan dan pendidikan) pesantren baik.
Keempat, Santri Betah, Pendaftar Banyak, Tapi Keuangan Mandek, masalahnya ada di Akuntansi (Keuangan)Ini jebakan klasik. Pesantren ramai, uang kas masuk setiap bulan, tapi di akhir tahun tekor. Kok bisa?
Sebagai contoh, biaya tak terduga membengkak. Harga bahan makanan naik, gaji guru membengkak. Pemasukan besar, tapi pengeluaran lebih besar.
Apa yang perlu dilakukan, rapikan catatan keuangan. Hitung ulang biaya per santri. Apakah iuran bulanan sudah sesuai? Jangan sampai loyalitas santri dimanfaatkan dengan dalih "ikhlas". Ini bukan tidak beriman, tapi soal manajemen.
Kelima, Pesantren santrinya makin banyak, Tapi Kiai makin sibuk, ini masalahnya di Sistem dan Kepercayaan
Tahap ini paling melelahkan. Pesantren berkembang, tapi semua keputusan masih bergantung pada kiai. Ketika kiai sakit, kegiatan macet. Ketika keluar kota, panitia bingung.
Artinya tidak ada SOP, tidak ada delegasi. Tidak ada sistem, Semua harus "minta ke kiai".
Apa yang harus dilakukan, bangun sistem. Latih tim. Percayakan kepada orang yang kompeten. Kiai harus naik peran dari operator menjadi pemimpin sejati.
Keenam, semua oke, Tapi puluhan tahun Gitu-Gitu aja, ini artinya StagnasiIni banyak dialami pesantren besar yang sudah mapan. Pendaftar selalu penuh, keuangan aman, sistem jalan. Tapi tidak ada perkembangan. Kurikulum tidak berubah. Tidak ada inovasi.
Cirinya semuanya rutin. Para pengurus dan santri mulai bosan.
Nah di sini kita harus kembali berpikir segar. Evaluasi visi. Cari ide baru. Perlu buka cabang? Perlu digitalisasi? Stagnasi adalah kemunduruan perlahan.
Jadi, Jangan Panik
Pertanyaan terakhir untuk kita renungkan, sebagai para pengelola pesantren: sekarang, pesantren kita ada di tahap mana?
Jangan sampai kita memberi obat yang salah. Beda penyakit, beda obat.
Selamat mendiagnosa.










