Lahir Terbungkus Ari-Ari Mirip Anak Gajah, Bayi Ini Menjelma Jadi Jenderal Nomor 1 TNI AD
JAKARTA – Sejarah militer Indonesia mencatat jabang bayi dari Kota Malang telah menjelma jadi seorang jenderal TNI AD paling dihormati. Bukan hanya pernah memegang tongkat komando tertinggi Mabesad, kelak dia juga awet berada di lingkaran elite Istana sebagai menteri dalam negeri.
Sosok tersebut Jenderal TNI (Purn) Rudini. Lahir di siang bolong tepatnya pada 15 Desember 1929 pukul 12.00 WIB, kelahiran anak ketiga dari pasangan Raden Ismangoen Poespohandojo dan Raden Ajoe Koesbandijah itu mengagetkan karena tak biasa.
“Rudini lahir dengan tubuh yang terbungkus ari-ari seperti anak gajah yang baru keluar dari rahim induknya. Itulah sebab orantuanya menjuluki Rudini sebagai anak gajah,” tulis buku biografi “Rudini: Potret Pengabdian Prajurit Angkatan Darat” yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat, dikutip Sabtu (4/4/2026).
Menurut Disjarahad, julukan itu bukan bermaksud menghina atau menjelekkan anak sendiri, melainkan bentuk ekspresi kasih saying. Terbukti, Rudini juga terkesan dengan julukan itu ditandai dengan banyaknya suvenir anak berbentuk gajah di rumahnya.
Dalam kepercayaan Jawa, jabang bayi yang lahir terbungkus ari-ari kerap dipersepsikan sebagai ‘anak ajaib’. Mereka diyakni akan membawa peruntungan atau bakal menjadi ‘orang besar’.
Terlepas dari mitos tersebut, faktanya Rudini di kemudian hari memang menjadi salah satu tokoh nasional. Kariernya melesat hingga ditunjuk menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ke-14 periode 1983-1986.
Tampilnya Rudini sebagai orang nomor satu di Mabesad tidak datang tiba-tiba. Kemampuannya tertempa sejak kecil. Begitu pula kala menempuh pendidikan militer.
“Jenderal Rudini bila ditelusuri riwayat karier militernya memang sudah tampak menonjol sejak menjadi taruna di KMA Breda, Nederland. Pada ujian akhir tahun 1955, ia tercatat sebagai rangking 1 di kelompok infanteri angkatannya” ujar Moekhardi dalam buku ‘Pendidikan Pembentukan Perwira TNI AD Tahun 1950-1956’.
Gagal di AU, Sukses di AD
Orangtua Rudini sesungguhnya berharap sang anak menjadi dokter. Namun jalan berbeda ditempuh Rudini yang lebih memilih untuk berkarier sebagai tentara.
Untuk itu, selepas lulus SMA Katolik Santo Albertus Malang, Rudini semula mendaftar sebagai taruna TNI AU. Sayang harapannya kandas. Anak ketiga dari 10 bersaudara ini gagal karena tinggi badan tak memenuhi syarat.
Bukan tanpa alasan Rudini ingin menjadi anggota TNI. Dia sangat terinspirasi kisah heroik pasukan Batalyon 3000 dan Batalyon 5000 Brigde XVII/Detasemen I Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Jawa Timur melawan Belanda. Pertempuran tentara pelajar itu terjadi di Malang, tak jauh dari tempat tinggalnya.
Dalam perang yang tak seimbang, 35 anggota TRIP gugur. Namun justru itu yang menggelorakan jiwa Rudini. “Perjuangan anggota TRIP Malang senantiasa menjadi motivasi Rudini selepas SMA. Jiwa militansi tumbuh untuk menjadi prajurit yang gagah berani seperti TRIP,” tulis Disjarahad.
Gagal masuk AU, Rudini pada akhirnya sukses merenda karier sebagai prajurit Angkatan Darat. Anak pegawai dinas pekerjaan umum itu lolos masuk pendidikan taruna Koninlijke Militaire Academie (KMA), Breda, Belanda.
Untuk diketahui, pendidikan taruna TNI sebenarnya bermula di Militaire Academie (Akademi Militer) Yogyakarta yang didirikan pada 31 Oktober 1945. Pada 1950 setelah meluluskan dua angkatan, MA ditutup sementara karena alasan teknis.
“Taruna angkatan ketiga menyelesaikan pendidikannya di KMA Breda, Nederland,” tulis keterangan resmi Akmil.
Dalam perkembangannya, Rudini menjelma jadi anggota TNI. Berbagai jabatan dan penugasan termasuk operasi pertempuran melawan pemberontak dijalaninya.
Rudini tercatat pernah menjadi Komandan Batalyon 401/Banteng Raiders, Komandan Brigade Infanteri Linud 18/Kostrad, hingga Kepala Staf Komando Tempur Lintas Udara. Man instruktur AMN itu lantas melesat jadi Kaskostrad, Pangdam XIII/Merdeka, dan Pangkostrad.
”Puncak kariernya tercapai ketika ia meraih jabatan KSAD menggantikan Jenderal Poniman, KSAD terakhir dari generasi perwira TNI AD eks PETA,” ujar Moehkardi dalam buku 'Akademi Militer Yogyakarta dalam Perjuangan Fisik 1945-1949'.
Melesat Jadi KSAD
Ada cerita tersendiri mengenai Rudini yang dipercaya jadi pemegang tongkat komando tertinggi AD. Ketika Poniman hendak diganti, Ibu Negara Tien Soeharto sebenarnya berharap Pangdam Udayana Mayjen TNI Dading Kabualdi yang akan jadi pengganti.
Keinginan itu diutarakan dalam sebuah makan malam di Cendana bersama Soeharto dan menantunya, Prabowo Subianto.
“Itu lho Pak, sing apik iku (yang bagus itu) Pangdam Bali Pak Dading. Tinggi, gagah, dan ganteng. Cocok itu, sebaiknya dia yang jadi KSAD, Pak,” ujar Ibu Tien dikisahkan kembali Prabowo dalam bukunya ‘Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letjen TNI Prabowo Subianto’.
Pada makan malam berikutnya Ibu Tien kembali menanyakan hal sama. Dia kembali berharap Dading Kalbuadi yang dipilih. Sama seperti sebelumnya, Pak Harto hanya tersenyum.
Beberapa hari kemudian, media massa ramai memberitakan KSAD telah terpilih. Sosok tersebut Rudini yang ketika itu menjabat Pangkostrad. Dalam sebuah makan malam yang kembali dihadiri Prabowo, Ibu Tien terlihat kecewa. “Bapak (Soeharto) itu nggak mau dengar saran Ibu,” kata Tien.
Setelah tak lagi di militer, Rudini dipercaya Soeharto untuk menjabat Menteri dalam negeri dalam Kabinet Pembangunan V. Jenderal "antipeluru' itu selanjutnya juga menjadi ketua Komisi Pemilihan Umum (1999).
Rudini meninggal dunia pada 21 Januari 2006. Jenazah suami dari Oddyana Rudini ini dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.










