Tax Payer Community: Uang Pajak Bukan untuk Perang
Tax Payer Community menuntut penghentian segera berbagai konflik bersenjata di dunia, termasuk agresi militer terbaru yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di Iran. Organisasi tersebut menegaskan bahwa dana pajak rakyat seharusnya tidak digunakan untuk membiayai perang.
Ketua Tax Payer Community, Abdul Koni menegaskan, uang pajak seharusnya diprioritaskan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat layanan publik, serta membangun masa depan yang lebih aman dan sejahtera.
"Kami menegaskan bahwa uang pajak rakyat bukan untuk membiayai perang, melainkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di negaranya masing-masing," ujar Koni dalam siaran persnya, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, para pembayar pajak tidak rela dana yang mereka bayarkan digunakan untuk menimbulkan kerusakan dan bahkan menghilangkan nyawa manusia akibat konflik bersenjata.
Jadi Korban Pencurian Malah Ditersangkakan, Selebgram Nabilah OBrien Bakal Ajukan Praperadilan
Pernyataan ini disampaikan seiring dengan aksi unjuk rasa damai di Times Square, New York City. Ribuan warga Amerika Serikat turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan terhadap eskalasi agresi militer di Iran. Para demonstran membawa poster bertuliskan "Stop the War" dan "Tax Dollars for People, Not War", menyerukan agar konflik dihentikan dan penyelesaian ditempuh melalui jalur diplomasi.Tax Payer Community menilai penggunaan anggaran publik untuk operasi militer luar negeri bertentangan dengan prinsip akuntabilitas fiskal dan kepentingan rakyat.
Setiap tahun, anggaran pertahanan Amerika Serikat mencapai ratusan miliar dolar. Dalam kondisi ekonomi yang masih menghadapi tekanan inflasi, kenaikan biaya hidup, krisis perumahan, serta kebutuhan reformasi layanan kesehatan dan pendidikan, pengeluaran perang dinilai berpotensi memperbesar defisit dan mengalihkan sumber daya dari kebutuhan domestik yang mendesak.
"Rakyat Amerika bekerja keras dan membayar pajak dengan harapan dana tersebut digunakan untuk memperbaiki kualitas hidup mereka, bukan untuk memperluas konflik bersenjata di luar negeri," kata Koni.
Ia menambahkan, perang hanya akan melahirkan penderitaan tanpa memberikan solusi jangka panjang.
Konflik di Iran juga dinilai meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta memicu ketidakpastian global. Eskalasi militer berpotensi menimbulkan korban sipil, krisis kemanusiaan, serta gangguan stabilitas kawasan.Selain itu, ketegangan di sekitar Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga energi global. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan harga bahan bakar, memperburuk inflasi, serta menambah beban masyarakat berpenghasilan rendah dan kelas menengah.
Ketidakpastian geopolitik juga berdampak pada pasar energi dan keuangan internasional, yang pada akhirnya memberi tekanan tambahan terhadap perekonomian global.
Tax Payer Community menilai aksi demonstrasi di Times Square mencerminkan meningkatnya kesadaran publik bahwa perang bukanlah jalan keluar dari konflik internasional.
Organisasi tersebut juga meminta pemerintah Amerika Serikat dan Kongres menjalankan fungsi pengawasan secara ketat terhadap penggunaan anggaran militer agar tetap transparan dan sesuai kepentingan nasional.
Kemenhaj: 14.796 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air Pasca Perang AS-Israel dengan Iran
Tax Payer Community mendesak tiga langkah utama, yakni penghentian segera eskalasi militer di Iran, prioritas pada diplomasi dan negosiasi damai, serta pengalihan anggaran perang untuk kebutuhan rakyat seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan stabilitas ekonomi domestik.
"Perang tidak pernah membawa kemenangan absolut. Yang ada hanyalah penderitaan manusia, kerusakan sosial, dan beban ekonomi jangka panjang," ujar Koni.










