Gegar di Lantai Bursa: Ketika Para Penjaga Gerbang Memilih Hengkang
Riza AwaluddinMahasiswa Program Studi Magister Ilmu KomunikasiFISIP UMJ
AKHIR Januari lalu, publik Indonesia dikejutkan oleh drama di panggung ekonomi. Bukan karena gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat anjlok, melainkan karena sebuah kejadian yang tak lazim: para petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak mengundurkan diri. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, lebih dulu pamit. Disusul kemudian oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Inarno Djajadi, dan dua pejabat tinggi lainnya .
Fenomena "mundur berjamaah" ini tentu bukan pemandangan biasa. Apalagi, ini terjadi di tengah sorotan tajam atas kinerja pasar modal setelah IHSG berkali-kali menyentuh batas trading halt dan rencana indeks saham Indonesia ditangguhkan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pertanyaannya, gejala apa ini? Mengapa para penjaga gerbang ekonomi memilih hengkang di saat krisis? Untuk membedahnya, kita bisa menggunakan kacamata teori komunikasi krisis dari pakar ternama, Timothy Coombs.
Bukan Sekadar Mundur, tapi Isyarat KrisisSecara kasatmata, alasan yang dikemukakan oleh Mahendra Siregar adalah "tanggung jawab moral" untuk mendukung pemulihan di tengah gejolak pasar. Namun, dalam teori komunikasi krisis, tindakan ini adalah sebuah isyarat kuat yang disebut Coombs sebagai bagian dari manajemen reputasi.Timothy Coombs, dalam Handbook of Crisis Communication dan Situational Crisis Communication Theory (SCCT)-nya, menyatakan bahwa setiap organisasi yang dilanda krisis harus membaca situasi dengan cermat. Coombs mengkategorikan krisis berdasarkan seberapa besar tanggung jawab yang diatribusikan publik kepada organisasi tersebut. Apakah krisis ini disebabkan oleh victim (korban), accidental (kecelakaan), atau preventable (dapat dicegah)?
Nah, dalam kasus dugaan "penggorengan saham" atau praktik pump and dump, kategorinya jelas mengerucut ke arah yang paling berbahaya: krisis yang dapat dicegah. Praktik pump and dump adalah skema manipulasi pasar di mana oknum menaikkan harga saham secara artifisial melalui informasi palsu atau menyesatkan, lalu menjual saham mereka setelah harga melambung, meninggalkan kerugian bagi investor ritel.
Ketika skandal seperti ini merebak, publik dan investor akan mencari siapa yang paling bertanggung jawab. Apakah para manipulator? Tentu. Namun, dalam logika SCCT, sorotan juga akan tertuju pada otoritas pengawas. OJK dan BEI-lah yang seharusnya menjadi benteng terakhir. Kegagalan pengawasan yang berujung pada maraknya praktik manipulasi akan membuat publik menempatkan tanggung jawab terbesar di pundak mereka.
Tekanan Eksternal dan "Keretakan Elite"Di sinilah kita menemukan jawaban atas pertanyaan mengapa mereka mundur massal. Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menangkap adanya "tekanan eksekutif, termasuk dari kepala negara" di balik pengunduran diri ini. Ia bahkan menyebutnya sebagai bentuk "kritik langsung dan vulgar terhadap tekanan dari presiden".
Dalam kacamata Coombs, ini adalah puncak dari krisis yang lebih dalam, yaitu hilangnya independensi. Coombs menekankan pentingnya komunikasi yang konsisten dan dapat dipercaya (credible) di masa krisis. Ketika lembaga pengawas diduga kehilangan independensinya karena intervensi politik, maka apapun pernyataan yang mereka keluarkan tidak akan lagi memiliki bobot. Investor akan melihatnya sebagai "kebun binatang" yang dijaga oleh satwa yang sama, bukan oleh penjaga profesional.Komentar di The Jakarta Post bahkan menyebut fenomena ini sebagai bagian dari "pembusukan institusional" (institutional decay), di mana garis antara kepentingan eksekutif dan otoritas moneter menjadi kabur . Pengunduran diri para pejabat ini bisa diartikan sebagai sinyal "putus asa" atau bentuk perlawanan diam-diam atas tekanan yang membuat mereka tidak bisa lagi menjalankan amanat secara profesional.
"Stealing Thunder" yang Gagal?Dalam strategi komunikasi krisis, ada istilah stealing thunder, yaitu ketika organisasi secara proaktif mengumumkan kabar buruk tentang dirinya sendiri sebelum pihak lain yang melakukannya. Tujuannya adalah untuk mengontrol narasi dan menunjukkan bahwa mereka transparan.
Apakah pengunduran diri ini merupakan upaya stealing thunder yang gagal? Bisa jadi. Dengan mundur, mereka berusaha mengambil kendali atas narasi bahwa mereka memiliki "tanggung jawab moral". Namun, karena diikuti oleh rangkaian peristiwa lain dan isu intervensi politik yang menguat, publik tidak melihatnya sebagai tindakan heroik, melainkan sebagai konfirmasi bahwa sistem sedang tidak baik-baik saja.
Krisis Kepercayaan yang Lebih BesarAkhirnya, apa yang tersisa setelah para petinggi ini mundur? Bukan sekadar kursi kosong di OJK dan BEI. Yang lebih mahal adalah kepercayaan. Coombs mengingatkan bahwa reputasi adalah aset paling berharga yang bisa hancur dalam sekejap di mata publik .
Pengunduran massal para direksi BEI dan OJK, di tengah isu manipulasi saham dan tekanan politik, menciptakan sebuah narasi bahwa lembaga pengawas kita rapuh. Jika para penjaga gerbang memilih pergi karena gerbangnya sendiri jebol, lalu siapa yang akan dipercaya investor untuk menjaga uang mereka?
Personel Polda Aceh Jadi Tentara Rusia, DPR Minta Pemerintah Tak Tergesa-Gesa Cabut Kewarganegaraan
Gejala ini adalah alarm keras bagi kita semua bahwa membangun institusi yang kuat dan independen bukan hanya soal undang-undang, tetapi juga tentang keberanian untuk melawan segala bentuk intervensi yang dapat merusak tatanan ekonomi. Jika tidak, krisis yang lebih besar dari sekadar gejolak IHSG akan segera menjemput.










