TUKULILING: Cara TUKU Hadir Lebih Fleksibel di Berbagai Momen Kebersamaan

TUKULILING: Cara TUKU Hadir Lebih Fleksibel di Berbagai Momen Kebersamaan

Nasional | inews | Rabu, 11 Februari 2026 - 15:12
share

JAKARTA, iNews.id — Menjawab kebutuhan akan layanan kopi dan hospitality yang semakin beragam di luar toko, Toko Kopi Tuku (TUKU) memperkenalkan TUKULILING, sebuah identitas baru yang merangkum cara TUKU hadir lebih fleksibel, adaptif dan eksploratif di berbagai konteks kebersamaan, mulai dari ruang publik, perkantoran, hingga kolaborasi lintas sektor. 

TUKULILING menjadi langkah strategis TUKU dalam memperluas cara hadirnya di luar toko, seiring perubahan ritme berkumpul dan kebutuhan konsumen yang semakin dinamis. Identitas ini diperkenalkan kepada mitra dan pemangku kepentingan dalam forum diskusi Kumpul Tetangga TUKULILING yang berlangsung pekan lalu di Toho Cafe.

Acara ini menjadi ruang dialog tentang bagaimana ritme berkumpul terus berubah, serta bagaimana TUKULILING hadir sebagai respons yang relevan. 

Dalam sesi pembuka, COO TUKU Rully Gumilar menegaskan bahwa alasan orang terus memilih TUKU selalu kembali pada hal yang sederhana: rasa dekat.

“Orang merasa dekat dengan TUKU karena mereka merasa jadi bagian dari cerita, bukan sekadar pembeli. Dan di 2026, fleksibilitas menjadi kunci, bagaimana TUKU bisa mengikuti ritme kebutuhan Tetangga. Di situlah TUKULILING mengambil peran,” katanya. 

Fleksibilitas tersebut diwujudkan melalui berbagai format layananan, mulai dari pop up store, coffee serving, Mobile Cafe Tukuliling Rangga, hingga format praktis seperti vending machine, yang memudahkan pengalaman TUKU hadir di lebih banyak titik masyarakat. Pendekatan ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan dan evolusi customer experience yang menuntut kehadiran yang lebih cepat, praktis, dan kontekstual. 

Dari perspektif pengelola ruang publik, aktivasi TUKULILING terbukti memberi dampak pada dinamika ruang urban. VP Commercial and Retail Division PT MRT Jakarta (Perseroda),  Jacques Ricardo Daniel Soleman menyampaikan bahwa selama periode pop-up, jumlah pengunjung stasiun meningkat sekitar 3.000 orang per hari.

“Itu menunjukkan ruang publik bisa hidup ketika pengalaman yang dihadirkan relevan dengan kebutuhan orang untuk bertemu,” ujarnya. 

Dari sisi penyelenggaraan acara, TUKULILING dalam format coffee serving yang adaptif juga menjadi dukungan operasional yang signifikan. Citra Aurora Paramita, CEO Swasana, Gunawarman, Pakubuwono Wedding Organizer, menyoroti tekanan yang kerap muncul menjelang hari pelaksanaan.

“Menjelang hari-H, fokus penyelenggara seharusnya ada pada jalannya acara dan pengalaman tamu. Dukungan TUKULILING membantu kami mengelola kebutuhan teknis tanpa mengganggu alur utama acara,” ucapnya. 

Menutup diskusi, CEO and Founder TUKU Andanu Prasetyo menegaskan bahwa bagi TUKU, pertumbuhan adalah konsekuensi dari relevansi dan kedekatan yang dijaga secara konsisten.

“Bisnis itu konsekuensi. Yang kami cari adalah bagaimana kebersamaan bisa terasa, dan dari situ nilai serta hubungan bisa tumbuh,” tuturnya.

Dia menambahkan bahwa TUKU ingin terus hadir sebagai brand yang hangat dan relevan, dengan cara-cara yang semakin kontekstual.

Melalui TUKULILING, TUKU memperluas cara hadirnya di luar toko, membawa kopi, kehangatan, dan nilai-nilai TUKU ke lebih banyak ruang, ritme, dan lebih banyak bentuk kebersamaan, Forum Kumpul Tetangga TUKULILING menjadi salah satu langkah awal untuk membuka ruang dialog dengan para mitra dan pemangku kepentingan, sekaligus menandai fase baru perkalanan TUKU dalam merespons kebutuhan komunitas yang terus berkembang. 

Topik Menarik