5 Fakta Pilu Siswa SD di Ngada NTT Bunuh Diri, Nomor 3 Bikin Nyesek

5 Fakta Pilu Siswa SD di Ngada NTT Bunuh Diri, Nomor 3 Bikin Nyesek

Nasional | inews | Rabu, 4 Februari 2026 - 17:16
share

Disclaimer: Artikel ini terkait kasus bunuh diri, mungkin sensitif bagi sebagian orang. Segera hubungi profesional apabila mengalami dorongan serupa.

NGADA, iNews.id – Sejumlah fakta terungkap dalam tragedi memilukan seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), nekat bunuh diri. 

Korban diketahui berinisial YBS (10), siswa kelas IV SD yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh tidak jauh dari pondok sederhana tempat tinggalnya bersama sang nenek.

Belum diketahui pasti penyebab aksi nekat bocah tersebut, namun dugaan awal hanya karena sang bocah kecewa tidak bisa membeli pena atau alat tulis sekolah. Kasus tersebut pun mengejutkan publik hingga mengundang keprihatinan mendalam semua pihak.

Berikut dereta fakta yang terungkap dalam kasus bocah SD nekat bunuh diri.

5 Kasus Siswa SD di Ngada NTT Bunuh Diri

1. Kronologi Kejadian

Berdasarkan keterangan keluarga, sebelum peristiwa siswa SD gantung diri di Ngada ini terjadi, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Permintaan itu tidak dikabulkan karena sang ibu tidak memiliki uang.

Korban berinisial YBS (10), siswa kelas IV SD itu kemudian memilih jalan pintas. Dia ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh tidak jauh dari pondok sederhana tempat tinggalnya bersama sang nenek.

Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman untuk memastikan seluruh rangkaian peristiwa, termasuk latar belakang yang melatarbelakangi siswa SD bunuh diri di Ngada tersebut.

2. Tulis Surat untuk Ibu

Informasi diperoleh, kejadian siswa SD gantung diri di Ngada ini pertama kali diketahui warga sekitar yang kemudian melaporkannya kepada polisi.  Dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP), anggota Polres Ngada menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis korban sebelum meninggal dunia. Surat tersebut ditemukan di sekitar lokasi kejadian.

Surat itu ditujukan kepada sang ibu dan ditulis menggunakan bahasa daerah Ngada. Di bagian akhir surat, korban juga menggambar simbol wajah menangis.

Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus E Pissort, membenarkan adanya temuan surat tersebut. Dia mengatakan tulisan dalam surat memiliki kemiripan dengan tulisan korban di buku sekolahnya.

“Berdasarkan hasil pencocokan dengan beberapa buku tulis korban, penyidik menemukan adanya kecocokan tulisan,” ujar Benediktus dikutip dari iNews TTU, Selasa (3/2/2026).

3. Isi Surat Bikin Nyesek

Isi surat tersebut antara lain menyebutkan permintaan agar sang ibu tidak menangis dan merelakan kepergiannya. Surat itu memperkuat dugaan bahwa korban mengakhiri hidupnya dengan sadar.

Dalam surat yang ditulis tangan menggunakan bahasa daerah Ngada, korban menyampaikan pesan perpisahan kepada sang ibu yang ia sebut dengan panggilan Mama Reti. Surat ini beredar luas dan viral di media sosial.

Tulisan tangan tersebut diawali dengan kalimat “Kertas Tii Mama Reti” yang berarti surat untuk Mama Reti, lalu dilanjutkan dengan pesan “Mama Galo Zee” atau mama, saya pergi dulu.

Korban juga menuliskan permintaan agar ibunya merelakan kepergiannya serta tidak menangis, yang tertuang dalam kalimat “Mama molo Ja'o” dan “Galo mata Mae Rita ee Mama”.

Dalam bagian lain surat itu, korban menyampaikan agar sang ibu tidak mencari atau merindukannya, sebelum menutup pesan dengan kalimat perpisahan “Molo Mama” yang berarti selamat tinggal, Mama.

Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) 

Mama Galo Zee (Mama, saya pergi dulu) 

Mama molo Ja'o ( Mama, relakan saya pergi) 

Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis, Mama) 

Mama jao Galo Mata (Mama, saya pergi) 

Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya) 

Molo Mama (Selamat tinggal, Mama) 

Di akhir tulisan tangan ini ada gambar anak yang menangis.

4. Respons Pemerintah

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan duka mendalam atas tragedi siswa SD bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa memilukan ini disebut menjadi perhatian serius pemerintah pusat. 

Menanggapi kasus ini, Gus Ipul menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah agar warga miskin mendapat perlindungan sosial yang layak.

“Ya, tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka, ya. Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama,” ujar Gus Ipul di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Gus Ipul menilai tragedi ini harus menjadi pelajaran penting, khususnya dalam penanganan kemiskinan dan perlindungan sosial. Kunci utama ada pada akurasi data warga penerima bantuan.

5. Polda NTT Turunkan Tim Konselor

Kasus siswa SD bunuh diri di Kabupaten Ngada menjadi perhatian Polda Nusa Tenggara Timur (NTT). Polisi bergerak cepat dengan menerjunkan tim konselor psikologi untuk memberikan pendampingan mental kepada keluarga korban, khususnya orang tua.

Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko mengatakan, tim pendamping telah diberangkatkan ke Kabupaten Ngada untuk memberikan penguatan psikologis pascakejadian tersebut.

“Tim sudah ke Kabupaten Ngada hari ini dan memberikan pendampingan serta penguatan bagi keluarga korban,” kata Kapolda NTT di Kupang, Rabu (4/2/2026).

Topik Menarik