Postingan DPR soal Siswa SD Bunuh Diri di NTT Malah Dirujak Netizen: Kemarin ke Mana Aja?
JAKARTA - Akun media sosial (medsos) Instagram DPR RI mengunggah soal tragedi siswa SD bunuh diri lantaran diduga kecewa permintaannya untuk membeli peralatan tulis tidak dikabulkan orangtuanya yang terkendala masalah ekonomi. Tragedi ini menjadi tamparan keras untuk dunia pendidikan Tanah Air.
Seorang anak berinisial YBR (10) ditemukan meninggal gantung diri di pohon di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT pada Kamis (29/1/2026). Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi jasad siswa kelas IV SD itu.
Surat berbahasa daerah Bajawa itu ditulis YBR dan ditujukan kepada ibunya. Hingga kini, kepolisian masih menyelidiki latar belakang peristiwa itu, termasuk dugaan kekecewaan korban yang tidak dibelikan peralatan tulis oleh ibunya karena terkendala ekonomi keluarga.
"Kepergian seorang siswa SD (10 tahun) di NTT adalah tamparan keras bagi wajah pendidikan kita. Di usia 80 tahun kemerdekaan Indonesia, tragedi ini menjadi bukti nyata bahwa amanat UUD 1945 Pasal 31 bahwa pemerintah wajib membiayai Pendidikan dasar belum sepenuhnya hadir menaungi anak bangsa," demikian keterangan postingan tersebut, Rabu (4/2/2026).
Disebutkan, kasus ini adalah "alarm bahaya" bahwa kebutuhan dasar sekolah masih menjadi barang mewah bagi sebagian masyarakat.
"Seperti sorotan tajam dari Komisi X DPR RI, satu pena tidak sebanding dengan nyawa. Kita semua memiliki utang moral untuk memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang merasa putus asa dan kehilangan harapan hidup hanya karena keterbatasan biaya," katanya.
Negara dituntut untuk hadir secara nyata, bukan sekadar janji di atas kertas. "Fakir miskin dan anak terlantar harus benar-benar dipelihara, bukan dibiarkan berjuang sendirian dalam sunyi. Mari kawal kasus ini sebagai teguran keras agar reformasi sistem pendidikan segera dilakukan secara menyeluruh dan berkeadilan," katanya.
Postingan ini menarik perhatian netizen. Ratusan komentar sudah meramaikan postingan tersebut.
Ada yang mempertanyakan peran anggota para dewan. Ada pula netizen yang kecewa kondisi ini baru mendapat perhatian setelah adanya korban.
"Udah ada tragedi baru sibuk. Dari dulu Kerjaan kalian apa aja," tulis akun @florent**********.
"Setelah di posting dan di evaluasi seperti ini, apakah bakalan ada perubahan untuk pendidikan di negeri kita," tulis akun andr********.










