Kilas Balik Peristiwa 17 Januari: Gempa Dahsyat di Jepang hingga Pengaktifan 'Jam Kiamat'

Kilas Balik Peristiwa 17 Januari: Gempa Dahsyat di Jepang hingga Pengaktifan 'Jam Kiamat'

Nasional | okezone | Sabtu, 17 Januari 2026 - 07:03
share

BERBAGAI peristiwa penting dan bersejerah terjadi pada 17 Januari dari tahun ke tahun. Mulai dari bencana alam, kecelakaan penerbangan, hingga penyetelan 'jam kiamat'.

Berikut rangkuman sejumlah peristiwa penting yang terjadi pada 17 Januari, dirangkum dari berbagai sumber, salah satunya wikipedia.

- Kecelakaan Udara di Palomares

Insiden Palomares merupakan kecelakaan tabrakan di udara antara pesawat pembom B-52 dengan pesawat pengisi bahan bakar KC-135 Stratotanker di atas wilayah Spanyol. Peristiwa ini menewaskan tujuh awak dari kedua pesawat.

Selain menimbulkan korban jiwa, kecelakaan tersebut juga berdampak serius karena pesawat pembom diketahui membawa empat bom nuklir berkekuatan sekitar 70 kiloton. Tiga bom jatuh di sekitar wilayah Palomares del Río, sementara satu bom lainnya jatuh ke Laut Mediterania. 

Insiden ini terjadi saat proses pengisian bahan bakar di udara, yang diduga gagal akibat jarak kedua pesawat yang terlalu dekat.

- Gempa Besar Hanshin-Awaji di Jepang

Pada 17 Januari 1995, Jepang diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 yang melanda wilayah Hanshin dan Pulau Awaji sekitar pukul 05.46 waktu setempat. 

Gempa yang kemudian dikenal sebagai Gempa Besar Hanshin-Awaji ini menewaskan sedikitnya 6.433 orang dan menyebabkan kerugian material yang diperkirakan mencapai 100 miliar dolar Amerika Serikat.

Gempa tersebut berpusat di bagian utara Pulau Awaji dan dipicu aktivitas tiga lempeng tektonik besar, yakni Lempeng Filipina, Pasifik, dan Eurasia. Kota Kobe menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah. 

Hingga kini, setiap 17 Januari diperingati di Kobe dengan berbagai kegiatan untuk mengenang para korban.

- Jam Kiamat Diaktifkan 

Jam Kiamat (Doomsday Clock) merupakan simbol peringatan yang menggambarkan seberapa dekat dunia dengan kehancuran global. Jam ini dikelola oleh Science and Security Board sejak pertama kali diperkenalkan pada 1947.

Pada 17 Januari 2007, Jam Kiamat disetel menjadi pukul 23.55 atau lima menit menjelang tengah malam. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan sejumlah faktor global, seperti uji coba rudal Korea Utara, ambisi nuklir Iran, kebijakan senjata nuklir Amerika Serikat, serta ancaman perubahan iklim.

Sejak diluncurkan, Jam Kiamat telah mengalami penyesuaian sebanyak puluhan kali. Pada awal kemunculannya di era Perang Dingin, jam ini menunjukkan tujuh menit menuju tengah malam. Saat ini, jaraknya ditetapkan sekitar dua setengah menit menuju tengah malam, menandakan tingkat ancaman global yang masih tinggi.

- Insiden Boeing 777 di London

Kecelakaan pesawat juga terjadi pada 17 Januari 2008, ketika pesawat Boeing 777 milik British Airways dengan nomor penerbangan 38 jatuh saat hendak mendarat di Bandara Heathrow, London. Pesawat tersebut terbang dari Beijing menuju London.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden ini menyebabkan 47 penumpang mengalami luka-luka, dengan satu orang dilaporkan mengalami cedera serius. Dari total 152 orang di dalam pesawat—terdiri dari 136 penumpang dan 16 awak—seluruhnya berhasil selamat. 

Investigasi menyebutkan kecelakaan dipicu oleh berkurangnya daya mesin akibat terganggunya aliran bahan bakar ke mesin pesawat.

- Banjir Besar Jakarta 2013

Bencana banjir besar melanda Jakarta pada Januari 2013, sehingga Gubernur DKI Jakarta saat itu, Joko Widodo (Jokowi), menetapkan status tanggap darurat mulai 17 hingga 27 Januari 2013. Keputusan ini diambil menyusul banjir yang berlangsung selama sekitar 10 hari.

Banjir merendam puluhan kecamatan di Ibu Kota, menewaskan sejumlah warga, serta melumpuhkan berbagai aktivitas. Sejumlah jalan utama seperti Jalan MH Thamrin, Bundaran HI, Dukuh Atas, dan Jalan Sudirman turut tergenang air. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga meliburkan sekolah-sekolah yang terdampak banjir.

- Penandatanganan Perjanjian Renville

Pada 17 Januari 1948, Indonesia dan Belanda menandatangani Perjanjian Renville sebagai upaya penyelesaian konflik pasca-Perjanjian Linggarjati. Penandatanganan dilakukan di atas kapal perang Amerika Serikat, USS Renville.

Perjanjian ini menetapkan garis demarkasi antara wilayah Republik Indonesia dan daerah pendudukan Belanda yang dikenal sebagai Garis Van Mook. Dalam kesepakatan tersebut, Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatra sebagai wilayah Republik Indonesia, serta mewajibkan penarikan pasukan TNI dari wilayah kantong di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Amir Syarifuddin, dengan anggota antara lain Ali Sastroamijoyo dan H. Agus Salim. Delegasi Belanda diwakili oleh R. Abdul Kadir Wijoyoatmojo dan sejumlah pejabat lainnya, sementara PBB bertindak sebagai mediator.

Topik Menarik