7 Orang Tewas dalam Karamnya Kapal Wisata Pulau Tikus, Menteri Pariwisata Sampaikan Belasungkawa
Sri Lestari Yuniarti
Widya Prada Ahli Muda di Ditjen GTK Kemendikdasmen
Siswa nakal dikirim ke barak militer. Ide Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tersebut ramai diberitakan belakangan ini. Gagasan tersebut kemudian diformulasi menjadi kebijakan, dan sudah diterapkan mulai bulan Mei ini.
Nakal yang disebutkan Gubernur Jawa Barat tersebut merujuk pada perilaku siswa yang melanggar norma agama, sosial, dan pendidikan. Tidak patuh pada orang tua, sering melanggar peraturan sekolah, terlibat tawuran, dan bentuk kekerasan lainnya adalah contoh penyebabnya.
Angka kekerasan di kalangan siswa remaja memang tidak pernah surut. Tindak kekerasan yang dilakukan pun makin sadistik. Tidak lagi hanya melukai, berita terenggutnya nyawa ulah anak dan remaja juga meningkat.
Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) yang dipimpin Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA, 2024) menyebutkan sebanyak 11,5 juta atau 50,78 anak usia 13-17 tahun, pernah mengalami salah satu bentuk kekerasan atau lebih di sepanjang hidupnya.
Pada pengalaman yang lebih baru, yaitu dalam 12 bulan terakhir, diperkirakan sebanyak 7,6 juta anak usia 13-17 tahun atau 33,64 mengalami salah satu bentuk kekerasan atau lebih. Meski demikian, diduga angka tersebut bisa saja lebih besar, mengingat secara faktual, remaja enggan melaporkan peristiwa kekerasan yang dialaminya.
Terpantik karena fenomena yang memprihatinkan tersebut, Dedi Mulyadi meluncurkan gebrakan. Banyak pihak telah berkomentar atas gebrakan tersebut. Namun, bagaimana sebaiknya penanganan problem siswa nakal?
Betulkah Masa Remaja Masa Krisis?
Badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) mengatakan remaja merupakan masyarakat yang berada di rentang usia 10 sampai 19 tahun. Santrock mendefinisikan masa remaja sebagai masa peralihan dari masa anak–anak menuju ke arah dewasa, yang ditandai dengan perubahan fisik maupun emosi. Stanley Hall menggambarkannya masa yang penuh dengan konflik dan ketegangan.Pada dasarnya, setiap fase perkembangan memiliki pokok masalahnya masing-masing. Namun, ketika remaja dihadapkan pada permasalahan, ada kecenderungan akan kesulitan untuk mengatasinya sendiri.
Hal ini dikarenakan mereka yang tengah berupaya menemukan identitas pribadi mereka, mencari siapa diri mereka, tetapi di sisi lain ada kecenderungan juga mereka ingin dilihat oleh dunia.
Jika potensi problematika remaja ini tidak disadari, tidak didukung dan diarahkan dengan tepat, risiko kenakalan remaja menjadi besar. Dukungan ini terutama dari keluarga dan lingkungan sekolah sebagai lingkungan pertemanan utamanya.
Metamorfosa Kekerasan
Kekerasan menurut Standard Definition for Childhood Injury Research adalah perilaku terhadap orang lain yang menyimpang dari norma tingkah laku dan mempunyai risiko substantial yang menyebabkan kejahatan fisik dan emosional dengan subkategori penyerangan fisik dan seksual, penyerangan emosional dan penelantaran yang menyebabkan kerugian yang berat, ringan ataupun tidak timbul dengan segera.Sementara jika kita mengerucut kepada kekerasan yang sering dialami oleh anak dan remaja di antaranya perundungan (bullying), ini terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain berupa verbal, fisik dan mental dan ia takut bila perilaku buruk tersebut akan terjadi lagi serta merasa tak berdaya mencegahnya.
Cyber bullying, kekerasan yang terjadi di dunia maya yang memiliki efek yang lebih parah dari bullying verbal dan fisik karena informasinya yang mudah tersebar di sosial media dan cenderung membentuk opini masyarakat luas yang dapat memberikan efek tekanan secara sosial.
Kekerasan telah menjelma menjadi perilaku sadistik. Tidak saja melukai, bahkan merenggut nyawapun tega dilakukan.
Segala bentuk tindak kekerasan pada remaja ini tentu saja memiliki dampak seperti gangguan emosi ringan bahkan hingga berat, cacat bahkan kematian. Bahkan korban berisiko menjadi pelaku kekerasan.
Kekerasan di kalangan remaja ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya krisis identitas, kontrol diri yang lemah, kurangnya perhatian dari keluarga, perceraian orang tua, pergaulan, dampak penggunaan media sosial atau perkembangan teknologi komunikasi, serta kurangnya media atau fasilitas untuk menyalurkan bakat atau hobi.
Rupa Sekolah yang Diinginkan
Sayangnya, kondisi banyak sekolah kurang mendukung pada perjuangan remaja dalam menemukan jati dirinya. Alih-alih dapat berkontribusi dengan prestasi dan kreativitas mereka yang tengah mencapai potensi puncaknya, remaja menjadi nakal.Perubahan pandangan sekolah dari "transfer pengetahuan" menjadi "fasilitasi pembelajaran" membutuhkan komitmen dari seluruh ekosistem pendidikan.
Ketika siswa melihat relevansi, merasakan keterlibatan, dan memiliki kendali dalam proses belajar mereka, pembelajaran akan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.
Pandangan sekolah sebagai fasilitator pembelajaran siswa harus juga menjadi budaya. Siswa menjadi pusat dari pembelajaran (student-centered learning), apapun kurikulum yang akan digunakan. Sekolah juga diharapkan mengintensifkan komunikasi dengan keluarga siswa, agar proses pendidikan berjalan harmoni dan sinergis antara sekolah dan rumah.
Wadah belajar orang tua menjadi penting mengingat banyak orang tua yang kebingungan di tengah banjirnya informasi mengenai pengasuhan. Terlalu banyak, namun tidak memiliki peta dan kompas pengasuhan. Mana yang utama dan ke mana arah yang tepat. Meski demikian, keluarga yang tidak memiliki akses atas informasi pengasuhan yang tepat juga masih menjadi pekerjaan rumah.
Pendidikan Keluarga adalah Kunci
Anak menghabiskan lebih banyak waktunya di luar sekolah. Dan lingkungan yang pertama dan utama untuk anak belajar adalah keluarga. Temuan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga (saat ini tidak lagi eksis di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) di tahun 2015-2020, banyak keluarga merasa memerlukan wadah untuk meningkatkan kapasitas pengasuhan mereka. Besarnya harapan atas anak, tidak dimanifestasikan dengan cara-cara yang tepat. Problemnya, bukan tidak mau. Tapi tidak tahu caranya.Khususnya dalam mendampingi anak dan remaja bertumbuh, banyak keluarga masih menerapkan pola pengasuhan yang otoriter. Komunikasi cenderung searah, minim dialog. Padahal sejatinya, remaja perlu sekali didengar, didampingi, baik di saat mengukir prestasi atau saat memiliki masalah.
Haruskah ke Barak?
Jika niatannya adalah melatih kedisiplinan, memupuk rasa percaya diri dan meluaskan pergaulan yang positif, tentu perlu didukung. Namun, pendidikan ala militer di barak harus dibarengi dengan pendekatan belajar lainnya. Memenuhi kebutuhan psikologis anak menjadi utama. Misalnya dengan adanya sesi konseling, kegiatan penyaluran bakat minat dan sesi ngobrol bersama orang tua/keluarga.Kolaborasi semua elemen juga penting. Sebagaimana peribahasa Afrika, "It takes a village to raise a child". Peribahasa ini menggambarkan pentingnya peran komunitas secara keseluruhan dalam membesarkan dan mendidik anak. Makna peribahasa ini menekankan bahwa tanggung jawab pengasuhan anak tidak hanya terletak pada orang tua, tetapi juga pada seluruh masyarakat yang berinteraksi dengan anak.
*Tulisan adalah pendapat/pandangan pribadi.










