Kisah Mulyono Tinggalkan UGM karena Lihat Taruna Gagah Pakai Seragam Tentara

Kisah Mulyono Tinggalkan UGM karena Lihat Taruna Gagah Pakai Seragam Tentara

Nasional | sindonews | Sabtu, 3 Mei 2025 - 16:32
share

Jenderal TNI (Purn) Mulyono mencapai puncak karier saat ditunjuk menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) periode 2015-2018. Namun, siapa sangka bahwa dirinya sebelum mengabdi di dunia militer sempat diterima menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Kisah ini berawal saat Mulyono lulus SMA. Waktu itu, ia mendaftar ke UGM dan sempat diterima.

Akan tetapi, garis takdir membawanya menuju jalan lain. Mulyono kemudian meninggalkan UGM setelah sempat tak masuk kuliah sampai tiga bulan.

Kisah Mulyono Tinggalkan UGM karena Lihat Taruna ABRI

Tamat pendidikan menengah atas, Mulyono awalnya ingin masuk kuliah seperti yang dicita-citakan oleh orang tuanya. Dulu, mereka berpesan agar dirinya tidak perlu memikirkan biaya, karena sudah kewajiban orang tua untuk membekali agar anaknya hidup layak di masa depan.

Setelahnya, Mulyono mendaftar kuliah di UGM. Berasal dari latar belakang keluarga petani, ia memikirkan tiga pilihan jurusan, yakni pertanian, peternakan, dan dokter hewan.

Sambil menunggu pengumuman dari UGM, Mulyono berlibur di rumah tantenya di Magelang. Kebetulan, pamannya di sana adalah seorang anggota TNI AD berpangkat Sersan Dua.

Suatu hari, Mulyono yang sedang mengantar tantenya melihat sekelompok remaja berseragam yang tengah berjalan dengan gagahnya. Penasaran, ia bertanya kepada tantenya.

“Mereka itu siapa Bulek?” tanya Mulyono.

“Itu taruna AKABRI (TNI),” jawab Buleknya.

Setelah melihat taruna AKABRI itu, hati Mulyono seakan tergugah ingin menjadi seorang prajurit TNI. Pada akhirnya, ia pun mendaftar AKABRI.

Bagi Mulyono, pengalamannya bertemu para taruna mengubah pandangannya. Menurutnya, mereka yang sedang belajar di AKABRI kelihatan gagah perkasa dengan badan yang kekar, kuat, dan berpenampilan disiplin.

Tekad Mulyono masuk ABRI semakin bulat saat menerima bimbingan dari pamannya yang berpangkat Sersan Dua. Ia banyak membantunya melakukan serangkaian latihan fisik dalam rangka persiapan mendaftar menjadi prajurit.

Nah, saat menunggu pengumuman tes masuk AKABRI, Mulyono mendapat kabar diterima di Fakultas Peternakan UGM. Ia lalu mendaftar ulang sebagai mahasiswa baru dengan menghubungi bagian akademik kampus.

Namun, karena terbatasnya keuangan, waktu itu Mulyono bisa dicicil setengah semester. Meski sudah diterima di UGM, ia masih berharap terhadap pengumuman di AKABRI.

Saat kuliah sekitar satu bulan, datang kabar dari temannya untuk mengikuti tes lanjutan masuk AKABRI di Semarang. Meski surat panggilan resmi belum sampai di rumahnya, Mulyono tetap berangkat ke Semarang.

Berselang sepuluh hari melaksanakan tes, akhirnya surat panggilan tes AKABRI baru datang dan dibawakan oleh pamannya. Mulyono dinyatakan lulus dan diterima menjadi taruna AKABRI.

Diterima di AKABRI, Mulyono masih berstatus mahasiswa UGM. Akan tetapi, ia tidak pernah masuk kuliah selama tiga bulan berjalan, sehingga pihak kampus bertanya.

Namun, orang tua Mulyono tidak pernah membalas karena orang kampung tidak tahu prosedurnya. Pada akhirnya, nama Mulyono dicoret dari status mahasiswa Fakultas Peternakan UGM.

Topik Menarik