Seorang Miliarder Hidup Hemat dengan Cari Makan dari Tempat Sampah, Kok Bisa?

Seorang Miliarder Hidup Hemat dengan Cari Makan dari Tempat Sampah, Kok Bisa?

Nasional | karawang.inews.id | Senin, 26 Februari 2024 - 12:13
share

JAKARTA, iNewsKarawang.id - Sulit untuk dipercaya, pria berusia 80 tahun Heinz B adalah seorang miliarder, hidup hemat dengan mencari makan dari tempat sampah. Viral di media sosial.

Bahkan dia dijuluki sebagai jutawan paling hemat di dunia meski memiliki beberapa properti bernilai jutaan euro.

Anehnya, dia terlihat seperti seorang tunawisma yang tidak punya apa-apa, namun penampilan bisa menipu. Pria Jerman itu mungkin hanya memiliki USD16 atau Rp249 ribu di rekening banknya saat ini.

Namun, itu karena dia baru saja menarik USD756 ribu untuk membeli rumah baru yang menjadi hunian ke-10. Sisa 100 ribu euro atau Rp1,6 miliar ditransfer ke deposito berjangka untuk menghasilkan bunga.

Dia mungkin tidak terlihat kaya, tetapi pria ini memiliki kekayaan beberapa juta dolar dan tahu cara meningkatkan kekayaannya. Dia mengaku hemat sepanjang hidupnya, sehingga tidak terlalu membutuhkan uang untuk bertahan hidup.

Dilansir dari Oddity Central, Minggu (25/2/2024) pria itu sangat senang hidup dari makanan yang ditemukan di tempat sampah dan menimbun segala macam barang yang dibuang orang lain.

“Mungkin saya akan membeli minyak untuk menggoreng atau semacamnya jika habis, tapi sebagian besar makanan saya temukan di tempat sampah,” kata Heinz kepada tabloid Jerman Bild.

“Orang-orang boros dan membuang begitu banyak uang sehingga bisa memberi makan seluruh keluarga. Misalnya, orang membeli sebungkus sosis, memakannya, lalu membuang sisanya ke tempat sampah,” sambungnya.

Pensiunan dari Darmstadt di Jerman barat daya ini pertama kali menjadi berita utama pada 2021, ketika dilaporkan bahwa dia memiliki tujuh rumah dan dua apartemen. Selain itu, dia memiliki sekitar USD540 ribu atau Rp8,4 miliar di rekening banknya.

Sejak saat itu, dia terus mengembangkan kekayaannya, dan baru-baru ini menginvestasikan 700 ribu euro atau Rp11 miliar untuk membeli rumah lain. Menariknya, dia memastikan untuk membeli properti di daerahnya, sehingga dapat menjangkau properti tersebut dengan sepeda jika memerlukan perbaikan.

Bukannya dia bersedia membayar seseorang untuk melakukannya ketika bisa melakukannya sendiri. “Pengrajin mengenakan biaya 55 euro untuk setiap setengah jam perbaikan,” jelas Heinz seraya menambahkan bahwa sebagian besar rumahnya bahkan tidak disewakan karena harga sewanya tidak dapat menutupi biaya pemeliharaan properti.

Pensiunan insinyur kelistrikan ini mendapat uang pensiun bulanan sebesar USD3,900 atau Rp60 juta serta uang pensiun lainnya sebesar USD169 atau Rp2,6 juta yang sebagian besar masuk ke rekening banknya, karena dia tidak punya apa-apa untuk dibelanjakan.

Selain 5 euro atau Rp84 ribu yang dia habiskan untuk makan setiap bulan, pengeluarannya hanya mencakup koneksi internet untuk laptopnya. Ponsel tidak mungkin digunakan, karena itu akan dikenakan biaya tambahan 10 euro atau Rp168 ribu.

Heinz menghabiskan sebagian besar waktunya menimbun barang-barang yang dibuang orang lain, mengayuh sepedanya berkeliling Daarmstadt dalam pencarian barang-barang baru yang tiada henti. Dia jarang menggunakan sebagian besar hasil pertaniannya, malah menukarnya dengan tetangganya, biasanya dengan imbalan makanan yang tidak mereka perlukan.

Karena tidak adanya keluarga dekat yang dapat berbagi kekayaannya, Heinz tidak benar-benar tahu kepada siapa dia akan mewariskan hartanya ketika dia meninggal. Namun, pria ini punya beberapa sepupu jauh, tapi mereka menolak membayar pajak warisan sehingga mempertimbangkan untuk menyerahkan sebagian propertinya kepada penyewa.

Topik Menarik