Susaningtyas Kertopati: Indonesia Menganut Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta

Susaningtyas Kertopati: Indonesia Menganut Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta

Nasional | okezone | Minggu, 7 Januari 2024 - 21:48
share

JAKARTA - Ketua DPP Partai Perindo Bidang Pertahanan Keamanan dan Siber, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati mengungkapkan bahwa Indonesia menganut Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata).

"Berdasarkan pengalaman sejarah perang kemerdekaan yang kemudian diamanatkan ke dalam UUD 1945, maka RI menganut Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata)," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (7/1/2024).

Sistem tersebut, menurut Nuning, sapaan akrabnya, juga terbukti memadamkan berbagai pemberontakan dan gerakan separatis. Sistem tersebut juga handal mendeteksi sekaligus mengatasi aksi terorisme.

"Sishankamrata mengutamakan integrasi komponen utama, komponen cadangan, dan komponen pendukung. Ketiga komponen tsb berperan penting dalam mengalahkan Belanda, dan Inggris dalam perang kemerdekaan RI," imbuhnya.

Nuning menambahkan, rakyat sebagai komponen pendukung Sishankamrata terbukti handal mendukung komponen utama. Berdasarkan Sishankamrata, maka pola operasi militer TNI baik pada masa damai maupun masa perang menggunakan paradigma Defensif-Aktif.

"Artinya, pola operasi tidak ditujukan untuk tujuan menyerang negara lain tapi ditujukan untuk bertahan dari serangan negara manapun. Meskipun pemikian, pola operasi pertahanan tidak bersifat pasif, melainkan harus aktif," tuturnya.

Meskipun proses pemilihan dan pengadaan Alutsista tersebut sudah menggunakan mekanisme yang benar. Namun, negara lain sebagai produsen Alutsista juga tidak selalu bisa menjual produk Alutsista yang kita butuhkan.

"Beberapa kali proses pemilihan dan pengadaan Alutsista menginginkan produk yang betul-betul baru tetapi kenyataan yang ada ternyata hanya tersedia produk bekas," katanya.

Produk Alutsista yang baru memiliki harga yang sangat mahal dan proses konstruksi bisa 4 sampai 5 tahun.

"Itulah mengapa kita terpaksa membeli Alutsista bekas. Tuntutan waktu dan alokasi anggaran acapkali lebih menonjol dibandingkan mutu Alutsista," ujarnya.

"Oleh karenanya, kita harus mampu membeli Alutsista yang kita butuhkan sesuai dengan kemampuan anggaran dan ketersediaan dari negara produsen," katanya.

Topik Menarik