Penyemprotan Air Redakan atau Malah Memperburuk Polusi Udara? Begini Penjelasan Pakar
PEMKOT DKI Jakarta terus berupaya untuk meminimalisir polusi udara yang masih belum membaik. Salah satu upaya yang dilakukan dengan cara penyemprotan air.
Akan tetapi, upaya penyemprotan air tengah menuai pro dan kontra dari beberapa pihak. Sebab ada yang mengatakan bahwa tindakan tersebut hanya akan menambah beban polusi PM 2.5. Selain itu ada juga yang berpendapat cara tersebut adalah upaya menurunkan kadar polusi.
Akibatnya beberapa penelitian pun dikeluarkan sebagai perbandingan, dan dari penelitian tersebut menunjukkan hasil yang beragam. Pada penelitian di China pada Juni 2021 dalam jurnal Toxics, menunjukkan hasil yang mengejutkan.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof Tjandra Yoga Aditama pun memberikan penjelasannya berdasarkan hasil penelitian dalam studi yang diperolehnya.
"Penyemprotan jalan menggunakan air dalam skala besar berkontribusi, bukan mencegah, polusi udara. Kami menemukan bahwa penyemprotan air keran atau air sungai dalam jumlah besar ke jalan menyebabkan peningkatan konsentrasi dan kelembapan PM 2.5. Dan penyemprotan terus menerus setiap hari menghasilkan efek kumulatif pada polusi udara," tulis penelitian tersebut, seperti yang dirangkum Okezone, Rabu (30/8/2023).

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa menyemprot jalan dengan air justru meningkatkan, bukan menurunkan, konsentrasi PM 2.5 sehingga merupakan sumber baru aerosol antropogenik dan polusi udara," tulisnya.
Selain itu, Prof Tjandra Yoga Aditama juga membandingkan dampak penyemprotan air berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jurnal Environmental Chemistry Letters Volume. Penelitian tersebut memberikan pendapat bahwa dengan penyemprotan air yang dilakukan justru akan membuat kadar polusi PM 2.5 menurun.
Terjadinya perbedaan dua pendapat pada penelitian itu, menyebabkan penelitian tersebut harus dilakukan perbandingan lebih lanjut.
Di sisi lain, India juga menerapkan hal yang sama. Pada penelitian yang dilakukan di New Delhi sebagai cara meminimalisir polusi udara saat itu, India melakukan penyemprotan air melalui cerobong besar dengan mengeluarkan semacam kabut atau uap.
Meskipun belum diketahui secara pasti tentang hasil yang didapat. Akan tetapi, menurutnya cara itu mungkin akan efektif dilakukan apabila pada daerah yang sedang melakukan pembangunan sehingga menimbulkan banyak debu. Debu yang terbawa angin akan mencemari udara ketika angin bertiup dengan kencang.
"Dengan penjelasan dari beberapa penelitian itu memang harus betul-betul dianalisa terlebih dahulu secara ilmiah untuk dapat menggunakan cara yang digunakan untuk mengatasi polusi udara," ujar Prof Tjandra Yoga Aditama.










