Mudik Setelah 15 Tahun Kabur Dari Thailand Thaksin Siap Dipenjara

Mudik Setelah 15 Tahun Kabur Dari Thailand Thaksin Siap Dipenjara

Nasional | BuddyKu | Rabu, 23 Agustus 2023 - 04:08
share

Eks Perdana Menteri (PM) Thailand Thaksin Shinawatra akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, setelah 15 tahun terakhir hidup di pengasingan. Merasa bahagia dan ingin menetap di Thailand, Thaksin mengaku siap menghadapi kasus hukum yang melilitnya.

Thaksin tiba di Thailand pada Selasa (22/8) pagi waktu setempat, di Bandara Don Mueang. Para pendukung setianya, massa berkaos merah, memadati bandara sejak dini hari.

Sorak sorai massa berkaos merah membahana, saat sebuah pesawat jet pribadi mendarat pukul 09:00 pagi. Dari pesawat yang berangkat dari Singapura tersebut, Thaksin keluar mengenakan setelan jas bernuansa gelap. Dia melambaikan tangan pada pendukungnya yang sudah menanti sambil bernyanyi dan membentangkan spanduk selamat datang.

Saat memasuki lobi bandara, mantan pemilik klub sepak bola Manchester City ini tidak lupa mengalungkan kalung bunga ke foto Raja Rama Vajiralongkorn, sebagai tanda penghormatan. Dia mengaku senang bisa kembali ke negara asalnya.

Thaksin sudah lama melarikan diri dari berbagai dakwaan yang ditujukan padanya. Pada 2008, dia kabur ke luar negeri untuk menghindari dakwaan penyalahgunaan kekuasaan. Setelah mengkudetanya pada 2006, militer menuduhnya telah melakukan korupsi dan menghina keluarga kerajaan. Semua tuduhan tersebut dibantah Thaksin.

Kali ini, Thaksin mengaku siap menghadapi segala tuduhan yang dilemparkan kepadanya. Dia hanya berharap bisa pulang ke kampungnya dan bertemu keluarga besar serta cucu-cucunya.

Saya meminta diizinkan kembali ke tanah kelahiran saya dan kembali menghirup udara yang sama dengan saudara-saudara saya, cuit Thaksin dalam akun media sosial X, sebelumnya Twitter.

Meski beberapa dakwaan yang ditujukan kepada Thaksin ada yang sudah kedaluarsa, dia tetap akan menjalani proses hukum yang kemungkinan besar menjebloskannya ke penjara maksimal 10 tahun.

Iring-iringan mobil yang membawa Thaksin dari bandara bergerak menuju Mahkamah Agung. Di sana, dia akan mendengarkan putusan atas dakwaan yang menderanya. Sepanjang jalan Thaksin menuju Mahkamah Agung, para pendukung setianya, massa kaos merah, berjejer memberikan semangat.

Media Thailand menyebut, Thaksin mungkin akan bermalam di rumah sakit penjara. Prediksi banyak kalangan: dia tidak akan menetap dalam tahanan untuk waktu yang lama.

Meski sudah 15 tahun kabur dari Negeri Gajah Putih, Thaksin masih menjadi sosok politisi paling berpengaruh dalam sejarah modern negara tersebut. Di satu sisi, dia dicintai rakyat di pedesaan, karena kebijakan layanan kesehatan murah dan upah minimum yang manusiawi.

Di sisi lain, dia dibenci elite pro-militer dan keluarga kerajaan. Pemerintahannya dinilai korup, otoriter, dan membawa ancaman bagi tatanan sosial Thailand.

Kepulangan Thaksin ini juga dibayang-bayangi pemilihan PM baru oleh parlemen pada petang harinya. Parlemen diprediksi akan menunjuk taipan bisnis Srettha Thavisin sebagai PM. Srettha sebelumnya sudah memberikan sambutan pada Thaksin dalam akun X-nya.

Selamat pada keluarga Shinawatra dan mantan PM Thaksin. Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar selain kembali ke tanah kelahiran dan bertemu dengan keluarga, kicau Srettha dikutip AP, kemarin.

Srettha adalah sosok yang diajukan Partai Pheu Thai sebagai PM. Pheu Thai, partai terkait Thaksin, mengungkapkan bahwa upayanya membentuk pemerintahan baru di Thailand sudah mendapat dukungan dari 14 partai, termasuk dua partai yang berafiliasi dengan militer.

Selama berpekan-pekan parlemen Thailand menemui jalan buntu dalam membentuk pemerintahan baru, setelah pemilu 14 Mei lalu. Pemilu itu didominasi dua partai oposisi. Move Forward Party (MFP) yang memperoleh suara terbanyak dan Pheu Thai yang menduduki urutan kedua terbanyak. Kedua partai itu mengalahkan partai-partai konservatif pro-militer dalam pemilu.

Pemilu kali ini dianggap sebagai penolakan publik terhadap sembilan tahun pemerintahan yang dipimpin atau didukung militer, yang menggulingkan pemerintahan Thaksin pada 2006 saat Thaksin berada di New York, Amerika Serikat, menghadiri pertemuan PBB. Taipan Thailand itu menjabat sebagai PM dari 2001.

Setelah kudeta itu, Thaksin sempat kembali ke Thailand, hingga akhirnya melarikan diri pada 2008 karena tuduhan korupsi. Dia terancam dipenjara 10 tahun karena tuduhan itu.

Pada 2014, Mahkamah Konstitusi mencopot adik Thaksin, Yinluck Shinawatra dari jabatan PM karena dianggap melakukaan penyalahgunaan kekuasaan karenamemindahkan Kepala Dewan Keamanan Nasional, Thawil Pliensri, ke jabatan lain pada 2011. Hal ini dilakukan supaya Priewpan Damapong, kerabat Yingluck Shinawatra, bisa menduduki jabatan sebagai Kepala Dewan Keamanan Nasional.

Sekarang, Srettha Thavisin dari Pheumendapat dukungan dari 14 partai untuk menjadi perdana menteri dalam pemungutan suara parlemen. Partai itu mengambil alih prakarsa membentuk pemerintahan baru Thailand, setelah partai progresif Move Forward gagal membentuk pemerintahan bulan lalu. Kegagalan Move Forward itu menunjukkan perlawanan sengit kaum konservatif terhadap agenda anti-kemapanan, yang diusung partai itu.

Move Forward sudah menyatakan tak akan mendukung koalisi multipartai Pheu Thai. Alasannya, langkah itu mendistorsi hasil pemilu dan bertentangan dengan keinginan rakyat. Srettha (60), yang merupakan pendatang baru dalam politik Thailand, membutuhkan dukungan 375 anggota parlemen atau lebih dari separuh gabungan Majelis Tinggi dan Rendah Parlemen Thailand, agar bisa disahkan sebagai PM dan membentuk pemerintahan berikutnya.

Topik Menarik