Korban dan Pelaku Mutilasi Sleman Ikut Komunitas Tak Wajar, Ini Kata Kriminolog soal Sadomasokisme

Korban dan Pelaku Mutilasi Sleman Ikut Komunitas Tak Wajar, Ini Kata Kriminolog soal Sadomasokisme

Nasional | BuddyKu | Selasa, 25 Juli 2023 - 18:36
share

JAKARTA - Kasus mutilasi mahasiswa UMY membuat geger Tanah Air. Hingga kini, jasad korban R (20) masih berada di Rumah Sakit Bhayangkara.

Kasus ini berawal dari ditemukannya potongan tubuh manusia berupa satu bagian tangan kiri dan dua potongan bagian kaki di wilayah Kelor, Sleman, Yogyakarta pada 12 Juli 2023 lalu.

Polisi telah mengamankan dua tersangka, yakni pria berinisial W dan RD. Keduanya merupakan warga Magelang dan Jakarta Selatan. Pihak kepolisian masih mendalami motif para pelaku, tetapi mereka telah mengungkapkan jika korban dan kedua pelaku tergabung dalam sebuah komunitas yang memiliki aktivitas tak wajar.

Korban dan kedua pelaku juga disebut melakukan aktivitas kekerasan satu sama lain secara berlebihan, sehingga mengakibatkan korban meninggal dunia.

Namun polisi enggan membeberkan secara lebih rinci mengenai komunitas serta aktivitas kekerasan yang dilakukan oleh korban dan kedua pelaku. Hal ini kemudian memunculkan banyak dugaan dalam masyarakat. Korban dan kedua pelaku diduga terlibat hubungan sesama jenis serta melakukan aktivitas kekerasan berupa sadomasokisme.

Menanggapi hal ini, Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala, mengatakan jika yang dilakukan oleh pihak kepolisian merupakan hal yang dapat dimengerti. Sebab polisi khawatir terlalu mengungkap pada publik suatu hal yang dianggap tabu dan ditolak masyarakat.

Lebih lanjut, Adrianus menjelaskan bahwa sadomasokisme merupakan kegiatan terkait hubungan seksual dimana mesti ada foreplay berupa menyakiti pasangan. Rasa sakit yang muncul konon bersifat pleasure increasing, yakni meningkatkan kesenangan.

Meskipun berkaitan dengan kekerasan, pelaku sadomasokisme tidak dapat dikatakan rentan melakukan kejahatan, sebab biasanya mereka telah membentuk sebuah komunitas yang tidak mudah dimasuki orang luar.

Biasanya mereka sudah membentuk komunitas yang close-knit alias tidak gampang dimasuki orang luar. Atau mengajak orang luar. Jadi, kalau terjadi kejahatan, ya kemungkinan besar antar mereka sendiri ujar Adrianus Meliala, kepada Okezone, dikutip, Selasa (25/7/2023).

Terkait motif kedua pelaku pada kasus tersebut, Adrianus menyimpulkan jika sadomasokisme merupakan gaya bercinta yang dilakukan atas adanya ikatan hati dari kedua belah pihak.

Maka jika salah satu pihak merasa tersinggung, pola penyiksaan yang dilakukan dapat lebih mudah diteruskan menjadi sebuah pembunuhan.

Sadomasokis itu kan gaya bercinta. Jangan lupa, keduanya pasti sudah ada ikatan hati,"ujar mantan anggota Kompolnas tersebut.

Nah ketika ada yang merasa sakit hati atau tersinggung atau terhina, maka pola menyiksa yang selama ini dilakukan sebagai bagian untuk mendapatkan kepuasan seksual bisa lebih mudah diteruskan menjadi pembunuhan pungkasnya.

Topik Menarik