Tumbal-Tumbal Perbudakan Seksual di Indonesia

Tumbal-Tumbal Perbudakan Seksual di Indonesia

Nasional | BuddyKu | Selasa, 15 November 2022 - 09:08
share

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Guna memenuhi hasrat seksual tentara Jepang di Indonesia, praktik jugun ianfu dilakukan dengan menumbalkan perempuan dari kalangan Indonesia dan Belanda.

Indonesia pada 1942, ibarat tanah yang berganti tuannya. Karena pada saat itu Jepang meraup wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Selain eksploitasi sumber daya alam Indonesia, Jepang juga mengeksploitasi penduduk Indonesia

Dikuasai oleh Jepang, Indonesia mengalami tahun-tahun yang keras. Penduduk dikerahkan untuk kepentingan Jepang dalam peperangan, kerja paksa, hingga sebagai hiburan. Terutama bagi korban jugun ianfu , kehidupan pada masa Jepang adalah kenangan yang kelam.

Banyak di antara perempuan baik dari kalangan Indonesia maupun Belanda yang dijadikan budak seks tentara Jepang, praktik ini disebut jugun ianfu . Perempuan mengalami eksploitasi seksual. Mereka kerap diperlakukan tidak manusiawi oleh tentara Jepang demi kesenangan banal (kejahatan yang dianggap wajar).

Jugun ianfu berbeda dengan pelacuran. Perempuan di pelacuran bekerja dengan sukarela dan mendapatkan bayaran atas pelayanannya. Sedangkan perempuan jugun ianfu adalah korban paksaan atau tipu muslihat serta tidak mendapatkan bayaran.

Pada awal kedatangannya di Indonesia, jugun ianfu masih banyak didatangkan dari Jepang, Cina, dan Korea. Karena muncul berbagai permasalahan yang membuat jugun ianfu sulit didatangkan dari sana. Maka dimulailah perekrutan dari kalangan Indonesia dan Belanda.

Dalam merekrut jugun ianfu dari kalangan Indonesia, tentara Jepang bekerja sama dengan camat, lurah, ataupun tonarigumi (cikal bakal RT). Meskipun pada dasarnya terdapat aturan dari Kekaisaran Jepang di Tokyo yang melarang perekrutan jugun ianfu dengan paksaan. Namun pada kenyataannya larangan ini tidak diindahkan (Suliyati, 2018).

Perekrutan seringkali dilakukan dengan paksaan, ancaman, kekerasan, dan tipuan. Mereka ditipu dengan iming-iming pekerjaan atau pendidikan. Mereka yang mengalami himpitan ekonomi dan berpendidikan rendah dijebak dalam tawaran pekerjaan yang menjanjikan.

Selain itu, banyak para orang tua yang terbuai dengan tawaran Jepang untuk menyekolahkan anak gadisnya. Ketika petugas yang merekrut sampai di desa-desa, janji tersebut menjadi berlainan. Namun karena ketakutan akan hukuman tentara Jepang, maka orang tua menyerahkan anak gadisnya (Listiyani, 2008).

Sedangkan perekrutan dari kalangan Belanda, Ami M. Van De Ryt dalam tulisannya Japanese Occupation of Indonesia mengungkapkan kondisi perempuan Belanda yang ditawan dalam kamp konsentrasi. Banyak di antara mereka yang dikirim ke rumah bordil militer. Mereka bekerja di bawah sistem kuota.

Pada pagi hari mereka melayani 20 prajurit, di sore hari melayani 2 tentara dengan tingkatan yang lebih tinggi, pada malam hari melayani tentara senior. Menolak sama dengan kelaparan, penyiksaan, dan kematian. Banyak di antara mereka yang mengalami depresi hingga bunuh diri (Van de Ryt, 2002).

Perempuan yang sudah ditargetkan menjadi jugun ianfu akan dijemput dan dikirim ke berbagai daerah di dalam hingga luar Indonesia.

Sebelum dikirim ke ianjo (tempat praktik jugun ianfu), perempuan akan diperiksa kesehatannya terlebih dahulu. Meskipun pelayanan seks dilakukan dengan sistem karcis, para perempuan jugun ianfu ini tidak pernah mendapatkan bayaran.

Perempuan jugun ianfu rutin mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Mereka yang menderita penyakit kelamin akan diberi obat-obatan. Sedangkan yang hamil dipaksa melakukan aborsi (Listiyanti, 2008).

Kejahatan seksual yang dialami oleh perempuan selama di ianjo mengakibatkan luka fisik dan psikis. Mereka tidak bisa melarikan diri, karena ianjo dijaga ketat oleh tentara. Selain itu mereka juga tidak punya uang untuk bepergian.

Tidak berhenti setelah praktik jugun ianfu berakhir, penderitaan korban juga masih berlanjut karena stigma yang dilekatkan kepada mereka. Seperti halnya Mardiyem, seorang mantan jugun ianfu asal Yogyakarta. Fakta bahwa Mardiyem pernah menjadi jugun ianfu membuatnya dikucilkan di masyarakat (Wargiati, 2021).

Peperangan telah mengorbankan banyak pihak yang tak berdosa. Masyarakat dipaksa untuk menyokong kebutuhan perang mulai dari tenaga perang, kerja paksa, hingga penghiburan bala tentara. Kejahatan yang dianggap wajar ini justru membekaskan penderitaan berkepanjangan baik fisik maupun psikis, terutama bagi perempuan jugun ianfu.

Penulis: Ays Nur Adillah

Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Referensi

Listiyanti, D.K. J ugun Ianfu Pada Masa Pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945) . 2008.Depok: FIB Universitas Indonesia.

Suliyati, T. 2018. Jugun Ianfu: Derita Perempuan dalam Pusaran Perang. Kiryoku, 2(3).

Van De Ryt, A.M. 2002. Japanese Occupation of Indonesia. Journal of Alpha Beta Phi, vol.17.

Wargiati, dkk. 2021. Jugun Ianfu dan Hegemoni Jepang di Indonesia: Sejarah Perbudakan Seks dalamNarasi Sastra. Suluk: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, 3(2), 150-160.


Topik Menarik