Kapten Jack, Berani Jemput Paksa Sambo saat Nyali Polisi Lain Ciut
Kapten Jack menjemput Irjen Ferdy Sambo saat penyidik ciut menangani kasus pembunuhan berencana Brigadir J.
Para penyidik takut berhadapan Irjen Ferdy Sambo yang saat itu masih menjabat sebagai Kadiv Propam Polri.
Irjen Slamet Uliandi adalah alumni Akpol tahun 1994. Ia satu angkatan Irjen Ferdy Sambo.
Sosok Irjen Slamet Uliandi ini juga merupakan orang yang disegani oleh Ferdy Sambo.
Penangkapan Irjen Ferdy Sambo berawal adanya pengakuan dari Bharada E.
Hal itu disampaikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo usai menghadiri RDP dengan DPR RI terkait kasus kematian Brigadir J dan Ferdy Sambo, Rabu, (24/8/2022).
Hal itu yang membuat Irjen Slamet Uliandi langsung disebut-sebut sebagai orang yang ditakuti Irjen Ferdy Sambo.
Praktis, usai disebut Kapolri Listyo Sigit sebagai jenderal yang menjemput Ferdy Sambo, nama Irjen Slamet Uliandi langsung mencuat menuai sorotan.
Lalu siapa Irjen Slamet Uliandi?
Irjen Slamet Uliandi adalah jenderal yang lahir di Jakarta pada tanggal 15 Juli tahun 1971 dan saat ini berusia 51 tahun.
Selamet Uliandi menjalani karier di dunia kepolisian usai diumumkan lulus dari Akademi Kepolisian pada 1994.
Dia diketahui memiliki pengalaman di bidang reserse.
Sebelum memiliki jabatan jenderal bintang dua, Irjen Pol Selamet Uliandi menempati posisi Direktur Tindak Pidana Siber atau Dirtipid Siber Bareskrim Polri.
Kini dirinya menjabat sebagai Kepala Divisi TIK Polri sejak 2021.
Irjen Pol Slamet Uliandi mendapat julukan `Kapten Jack` lantaran dia memiliki postur tubuh yang tinggi dan besar.
Salah satu kasus yang sukses diselesaikan oleh Irjen Slamet adalah kasus yang melibatkan Abu Janda hingga kasus Sugi Nur Raharja atau Gus Nur.
Profil Irjen Slamet Uliandi
Nama Lengkap: Irjen. Pol. Slamet Uliandi, S.I.K.
Nama Julukan: Kapten Jack
Lahir: Jakarta, 15 Juli 1971 (umur 51)
Almamater: Akademi Kepolisian (1994)
Dinas/cabang: Kepolisian Negara Republik Indonesia
Masa dinas: 1994 hingga sekarang
Pangkat: Inspektur Jenderal Polisi (Bintang 2)
Satuan: Reserse
Riwayat Jabatan:
Perwira menengah Pusdik Reskrim Lemdiklat Polri
- Kabagmon Robinopsnal Bareskrim Polri (2011)
- Kabagmon Robinopsnal Bareskrim Polri
- Karobinopsnal Bareskrim Polri(2019)
- Dirtipid Siber Bareskrim Polri (2020)
- Kadiv TIK Polri (2021)
Penyidik Ketakutan Hadapi Ferdy Sambo
Polri sempat kesulitan mengungkap kasus tewasnya Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.
Brigadir J tewas tewas di rumah dinas eks Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo, Duren Tiga, Jakarta, Rabu (7/9/2022).
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut salah satu kendala dihadapi pengungkapan kasus Brigadir J ialah adanya ketakutan dari penyidik.
Apalagi kasus tersebut terjadi di rumah dinas eks Kadiv Propam Polri, sehingga mereka takut berhadapan dengan Irjen Ferdy Sambo.
"Kemudian kami lihat bahwa penyidik pun saat itu sempat takut. Sempat takut karena ada bahasa-bahasa bahwa mereka semua nanti akan berhadapan dengan yang bersangkutan," ujar Listyo Sigit Prabowo di Kompas TV, Rabu (7/9/2022).
Sehingga pihaknya langsung memutasi Irjen Ferdy Sambo termasuk 24 orang di Propam Polri.
Setelah Irjen Ferdy Sambo dinonaktifkan, kasus tewasnya Brigadir J perlahan mulai terungkap.
"Alhamdulillah begitu kami ganti waktu itu proses mulai berjalan lancar, mulai terbuka. Kemudian kejanggalan-kejanggalan yang pada saat itu kami dapat itu mulai bisa terjawab," katanya.
Sigit kemudian membentuk tim khusus (timsus) yang melibatkan pejabat utama Polri seperti Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono, Irwasum Komjen Pol Agung Budi Maryoto dan Kabareskrim Komjen Agus Andrianto.
"Kita libatkan para pejabat utama Polri, saya libatkan Pak Wakapolri, Pak Irwasum, Kabareskrim serta beberapa tim yang memiliki integritas," ujarnya.
Kapolri tidak memungkiri bahwa kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J merupakan pukulan bagi Polri, dimana saat ini sedang memperbaiki citra institusi.
Menurutnya, pada saat hasil survei awal, Polri di angka 74 persen, sehingga kemudian dengan melaksanakan berbagai program transformasi menuju Polri yang presisi pada saat itu.










