Loading...
Loading…
CIPS Sebut Tren Kenaikan Harga Pangan Terjadi Sejak Akhir 2021

CIPS Sebut Tren Kenaikan Harga Pangan Terjadi Sejak Akhir 2021

Nasional | republika | Jumat, 24 Juni 2022 - 00:46

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengemukakan tren kenaikan harga pangan mulai terjadi sejak akhir tahun 2021. Ini berlangsung hingga pertengahan 2022 hampir di seluruh komoditas.

Peneliti muda CIPS Azizah Fauzi dalam webinar mengenai gejolak harga pangan mengatakan data dari Pusat Informasi Harga Pangan (PIHPS) menunjukkan harga minyak goreng telah mengalami kenaikan sejak Oktober 2021 dari Rp 16 ribu per liter menjadi Rp 24 ribu per liter hingga Mei 2022. Tren kenaikan juga terdapat pada komoditas daging sapi yang mengalami kenaikan sejak awal tahun 2022 yaitu menembus Rp 130 ribu per kg pada Maret hingga mencapai Rp 150 ribu per kg hingga saat ini.

Komoditas bawang merah juga mengalami kenaikan sejak Desember 2021, sedangkan cabai merah mengalami fluktuasi yang tinggi sejak awal tahun 2022. Bawang merah mulai menembus harga di atas Rp 28 ribu per kg pada Desember 2021 dan terus merangkak hingga Rp 40 ribu per kg hingga saat ini. Sementara harga cabai merah menembus Rp 30 ribu per kg pada September 2021 hingga Mei berada di atas Rp 50 ribu per kg.

"Faktor cuaca sangat berpengaruh terhadap produktivitas dari kedua komoditas pangan ini," kata Azizah, Kamis (23/6/2022).

Baca Juga :
Harga Komoditas Pangan Meroket, Daya Beli Masyarakat Jadi Sorotan

Namun di tengah tren kenaikan harga tersebut, komoditas pangan yang cenderung stabil harganya adalah beras dan gula. Harga beras stabil di kisaran Rp 11.800 per kg sejak pertengahan tahun lalu hingga saat ini, sementara harga gula stabil di Rp 14 ribu sejak Juni 2021 hingga Februari 2022, dan baru menembus Rp 15 ribu per kg sejak April 2022.

Merujuk data Badan Pangan Dunia (FAO), Azizah menyebutkan terdapat kenaikan harga pangan yang sangat tinggi di era pandemi pada 2020 hingga 2022. Pada Mei 2022, Food Price Index FAO menunjukkan penurunan 0,9 persen menjadi 157,4 poin dibandingkan bulan April 2022.

"Penurunan ini disebabkan oleh penurunan pada indeks harga minyak nabati dan susu," kata Azizah.

Original Source

Topik Menarik