Loading...
Loading…
Koalisi Golkar-PAN-PPP Bisa Dipake Ngusung Jagoannya Jokowi

Koalisi Golkar-PAN-PPP Bisa Dipake Ngusung Jagoannya Jokowi

Nasional | rm.id | Minggu, 15 Mei 2022 - 06:30

Koalisi Indonesia Bersatu yang digagas Golkar, PAN dan PPP sudah cukup mengantongi persyaratan mengusung capres di Pilpres 2024. Namun, siapa yang akan diusung sebagai capres, masih belum jelas. Sementara, ketiga parpol tersebut tidak memiliki jagoan di internal yang punya elektabilitas tinggi sebagai capes. Karena ketiga partai ini termasuk pendukung Jokowi saat ini, bisa saja koalisi ini nanti dipake kendaraan mengusung capres jagoan Jokowi.

Dari 3 ketum parpol koalisi ini, hanya Ketum Partai Golkar, Airlangga Hartarto yang selama ini dijagokan maju sebagai capres. Namun, versi sejumlah lembaga survei, Airlangga tidak memiliki elektabilitas sebesar Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Meskipun masuk dalam bursa capres, Airlangga selalu berada di papan bawah.

Padahal, secara matematis, koalisi yang digagar Golkar, PAN dan PPP ini telah memenuhi persyaratan mengajukan capres seperti disyaratkan dalam pasal 222 Undang-Undang Pemilu. Yakni, 20 persen kursi legislatif atau 25 persen suara sah secara nasional.

Secara perolehan suara sah nasional pada Pemilu 2019, Golkar memperoleh 12,31 persen, PAN 6,84 persen dan PPP 4,52 persen. Total, perolehan suara sah nasional koalisi ini mencapai 23,67 persen.

Baca Juga :
Koalisi Indonensia Bersatu Masih Rahasikan Capres 2024

Perolehan suara sah nasional tersebut memang belum memenuhi persyaratan 25 persen. Namun, ketiga parpol ini telah memenuhi persyaratan 20 persen kursi anggota DPR. Golkar mengantongi 85 kursi, PAN 44 kursi dan PPP 19 kursi. Dengan begitu, total kursi yang dimiliki Koalisi Indonesia Bersatu mencapai 148 atau melebihi ambang batas 115.

Ketua DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily membenarkan, koalisi yang digagas partainya bersama PAN dan PPP, bertujuan untuk menghadapi Pilpres 2024. Dalam pembentukan koalisi itu, kata dia, Golkar telah mematok syarat posisi calon presiden harus diisi oleh ketua umum mereka, Airlangga Hartarto.

Ace menyatakan, secara internal, Golkar telah menetapkan Airlangga sebagai capres dalam Musyawarah Nasional (Munas). "Keputusan Munas Partai Golkar soal pencapresan Pak Airlangga sudah diketahui PAN dan PPP," kata Ace, di Jakarta, kemarin.

Namun, Sekjen PAN, Eddy Soeparno membantah omongan Ace. Kata dia, pembentukan Koalisi Indonesia Bersatu belum sampai membahas atau menetapkan capres atau cawapres. Termasuk mengajukan Airlangga sebagai jagoan yang bakal diusung.

Baca Juga :
Koalisi Golkar-PAN-PPP Terbentuk, Nama Ganjar Pranowo Mulai Dilirik untuk Pilpres 2024?

"Kami hadir dalam pertemuan (Golkar-PAN-PPP) itu dengan pikiran terbuka, jadi merumuskan hal-hal yang sifatnya sangat luas, belum ada hal-hal yang menyangkut sesuatu yang konklusif," ujar Eddy, dalam diskusi di Jakarta, kemarin.

Eddy menilai, sah-sah saja bila Golkar punya keinginan untuk mengusung Airlangga sebagai capres. Yang terpenting, keinginan itu tidak dipaksakan untuk diterima oleh 2 parpol lainnya.

"Kalau misalnya, salah satu di antara teman-teman itu datang sudah dengan prasyarat, saya kira pertemuan tersebut tidak akan terjadi," ujar Eddy.

Pengamat Politik dari Saiful Mujani Research and Consulting, Saidiman Ahmad menilai cukup berat bila 3 parpol itu memaksakan mengambil capres dari internal mereka. Kalau pun mau mengusung, kata dia, maka peluangnya sebagai cawapres bukan capres. Sebab, dari 3 parpol itu, masing-masing ketua umumnya tidak memiliki elektabilitas yang mumpuni untuk bertarung dengan nama-nama besar lain.

"Kalau Koalisi Indonesia Bersatu ini lanjut ke 2024, tantangan terbesarnya adalah menemukan figur populer untuk menjadi calon presiden," kata Saidiman, kemarin.

Lantas siapa yang akan diusung? Saidiman menduga, tokoh yang bakal diusung oleh 3 parpol ini tak lepas dari peran Presiden Jokowi. Artinya, Jokowi yang nanti akan merekomendasikan jagoan untuk diusung sebagai capres dari koalisi ini. Apalagi, 3 parpol yang bergabung dalam koalisi ini, merupakan pendukung dari pemerintah. Bahkan, 2 ketua umum partainya merupakan anak buah Jokowi di kabinet.

"Mungkin saja, nanti Pak Jokowi menjagokan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Karena dari nama-nama capres yang muncul, yang paling mendekati karakter dan ideal, hanya Ganjar, ujarnya.

Founder KedaiKOPI, Hendri Satrio curiga, koalisi yang dibentuk Golkar, PAN dan PPP ini, ada kaitannya dengan Istana. Selain pembentukannya yang ujug-ujug, ketiga parpol pendirinya merupakan anggota koalisi pendukung Jokowi.

Saya ini selalu curiga sekarang, selalu ada arahan Istana. Sejak ada guliran isu tiga periode dan penambahan masa jabatan presiden itu," kata Hensat-sapaannya.

Namun, Wakil Ketua Umum PPP, Arsul Sani membantah kecurigaan itu. Dia bilang, pembentukan koalisi tersebut murni demi kemaslahatan rakyat, tidak ada sangkut pautnya dengan Istana.

Baca Juga :
Pertemuan Tiga Ketum, Adi Prayitno: Kode Keras Koalisi Pemilu 2024 dari Golkar, PAN dan PPP

"Tidak ada arahan Istana untuk mendukung sosok tertentu sebagai capres," tandas Arsul, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut Wakil Ketua MPR itu, pihak-pihak yang asal bicara soal Koalisi Indonesia Bersatu otaknya perlu dibersihkan. "Kalau ada yang berpikir ada arahan, maka yang bersangkutan sedang berimajinasi politik saja dalam alam pikirnya," cecar Arsul.

Ketua DPP Golkar, Dave Laksono cuma menyatakan, Koalisi Indonesia Bersatu bertujuan untuk membantu pemerintahan Jokowi hingga husnul khatimah. "Kesepakatan ini tentunya juga demi menjaga kekompakan partai-partai koalisi hingga akhir pemerintahan ini pada 2024 nanti," imbuh Dave.

Apa tanggapan Istana? Deputi IV Kepala Staf Presiden (KSP), Juri Ardiantoro menegaskan, Istana tidak ikut campur dengan praktik politik di lapangan. "Istana nggak mungkin lah memberi arahan-arahan begitu," singkat dia. [ UMM ]

Original Source

Topik Menarik