Semakin Tinggi Ilmu, Semakin Rendah Hati Pendekar Betawi

Semakin Tinggi Ilmu, Semakin Rendah Hati Pendekar Betawi

Nasional | republika | Sabtu, 26 Maret 2022 - 09:09
share

CERITA ABAH: Artikel ini adalah warisan berupa tuturan dari sejarawan sekaligus wartawan senior (Almarhum) Alwi Shahab kepada kami dan kami tulis ulang. Selamat Menikmati.

KURUSETRA -- Salam Sedulur... Perkumpulan pencak silat tidak menutup diri pada masalah-masalah sosial. Sejumlah jawara atau jagoan Betawi ikut terlibat dalam berbagai pemberontakan para petani seperti di Condet, Jakarta Timur (1916), Slipi, Tanah Abang dan Cakung (1913), serta Tangerang 1924 dan Tambun (1869). Mereka berontak mencegah pasukan VOC dan tuan tanah jahat yang akan melakukan penyitaan terhadap kediaman para petani karena tidak sanggup membayar blasting (pajak) hasil bumi.

Ini membuat para pendekar silat di Betawi selalu dicurigai penjajah. Tidak seorang pun pendekar (baik jago maupun jagoan) dari generasi terdahulu yang bersedia menyebutkan siapa gurunya. Dahulu latihan maen pukulan sifatnya tertutup. Bahkan, ada yang memulai latihan pada tengah malam dan berakhir menjelang siang.

Di tempat latihan maen pukulan ini sifat kependekaran ditempa. Adat pendekar Betawi adalah menang buah menang papan. Artinya, berantem menang, perkara di pengadilan juga harus menang. Karena itu, kiat untuk memenangkan perkara di pengadilan juga dibahas di tempat latihan maen pukulan.

Sejak 1950-an tempat latihan maen pukulan yang tertutup berubah menjadi perguruan silat Betawi yang terbuka. Misalnya, Perguruan Silat Pusaka Sentra Kencana (berdiri 1952), Perguruan Silat Pendidikan Sinar Paseban, Kampung Kramat Sawah III (juga berdiri 1952), dan Perguruan Silat Putera Utama, Kayu Manis (berdiri 1960).


Aliran silat Sabeni (namanya di abadikan menjadi nama jalan di Tanah Abang), yang terkenal dengan jurus kelabang nyebrang dan merak ngigel diasuh oleh keturunan Sabeni sendiri. Ia adalah jagoan dari generasi sebelum perang dunia II. Ia lahir (1865) di Tenabeng, yang kini menjadi nama jalan Sabeni.

Seorang jago, menurut H Irwan Syafiie, adalah seorang yang bijak dan mau membantu orang yang sedang kesusahan, serta menolong orang yang lemah. Seorang yang disebut jago akan segera bertindak untuk mendamaikan orang atau kelompok yang sedang ribut/berkelahi, sekaligus memberi nasihat yang baik. Dia pun tidak mau membuat kesalahan, seperti menyinggung perasaan orang lain, memaki, memukul, apalagi sampai melukai dan membunuh.

Seorang jago mempunyai falsafah, hidup dan mati seorang manusia tergantung bagaimana amal perbuatannya. Karena falsafah hidup yang Islami itulah, maka hubungan mualim (guru agama) dengan jagoan tidak konfrontatif bahkan ada hubungan fungsional antara keduanya.

Jagoan membaca doa-doa tertentu untuk peningkatan maen pukulan-nya. Senjata-senjata jagoan seperti golok, atau pisau raut biasanya diberi wafak pada bilah logam tersebut. Yang mengajarkan wafak adalah mualim.


Karena itu, banyak jagoan Betawi yang melaksanakan rukun Islam kelima. Seperti H Entong Gendut (Condet), Haji Ung (Kemayoran-kakek dari almarhum Benyamin S), Haji Darip (Klender), Haji Asenie (Petamburan), Haji Madalih Pitung (Kreo, Ciledug) dan masih banyak lagi.

Bagi jago atau jagoan Betawi istilah lu jual, gua beli ternyata bukan hanya sekedar gertak sambel tapi sudah menjadi tekad menjaga ketenteraman dan ketertiban ibu kota. Seperti saat para jagoan berada dalam organisasi COBRA pimpinan Kapten Imam Syafeie.

TONTON VIDEO PILIHAN UNTUK ANDA:

.

Ikuti informasi penting seputar berita terkini, cerita mitos dan legenda, sejarah dan budaya, hingga cerita humor dari KURUSETRA. Kirim saran dan kritik Anda ke email kami: kurusetra.republika@gmail.com. Jangan lupa follow juga Youtube, Instagram, Twitter, dan Facebook KURUSETRA.

Topik Menarik