Loading...
Loading…
Rusia Disebut Minta Bantuan China untuk Perkuat Invasi di Ukraina

Rusia Disebut Minta Bantuan China untuk Perkuat Invasi di Ukraina

Nasional | law-justice.co | Senin, 14 Maret 2022 - 10:23

Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa Pemerintah Rusia telah meminta bantuan China untuk memperkuat invasi di Ukraina sejak 14 Februari.

Pejabat militer Amerika Serikat mengungkapkan bahwa Rusia meminta dukungan militer termasuk bantuan drone dari China.

Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan, mengatakan bantuan China untuk Rusia itu amat mengkhawatirkan.

"Kami mengawasi secara ketat untuk melihat apakah China memberikan sokongan berupa materi hingga ekonomi kepada Rusia. Ini merupakan kekhawatiran bagi kami," ujar Sullivan seperti melansir cnnindonesia.com.

"Kami terus berkomunikasi dengan Beijing kami tidak akan diam saja dan membiarkan negara manapun memberikan kemudahan Rusia dari sanksi ekonomi," tutur Sullivan.

Sullivan menegaskan bahwa AS akan memberikan sanksi ekonomi dalam skala yang lebih besar lagi kepada Rusia.

"Kami tidak akan membiarkan itu (invasi Rusia) berlanjut dan membiarkan ada celah bagi Rusia lolos sanksi ekonomi dari negara-negara mana pun di dunia," ucap Sullivan.

Sullivan dijadwalkan bertemu dengan pejabat senior Kementerian Luar Negeri China di Roma Senin (14/3) ini.

Baca Juga :
China Beri Bantuan untuk Invasi, Diduga Bikin Rusia Makin Kuat

Sementara itu, juru bicara Kemenlu China Liu Pengyu mengatakan bahwa dia belum mendengar soal permintaan bantuan dari Rusia.

"China amat khawatir dan prihatin atas situasi di Ukraina. Kami berharap tensi bakal lebih berkurang dan akan segera tercipta kembali perdamaian. Situasi di Ukraina saat ini memang membingungkan. Upaya maksimal harus terus dilakukan untuk mendukung Rusia dan Ukraina dalam melanjutkan negosiasi meskipun situasi sulit untuk menghasilkan perdamaian," tutur Pengyu.

"Kami mendukung dan mendorong upaya yang kondusif untuk penyelesaian krisis secara damai. Prioritas sekarang adalah mencegah ketegangan bahkan situasi yang tak terkendali. Ada konsensus tentang hal ini di antara komunitas internasional," katanya lagi.

Original Source

Topik Menarik