Langka, Batuan Geopark Meratus Simpan Misteri Bumi Kalsel Berusia 180 Juta Tahun
apahabar.com, BANJARMASIN Bebatuan yang terdapat di Sungai Kembang, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, menyimpan misteri.
Masih berada di kawasan Geopark Meratus, bebatuan itu disebut-sebut menyimpan misteri bumi Kalsel berusia 180 juta tahun.
Kawasan Sungai Kembang, memiliki aliran air deras dan terdapat beberapa bebatuan.
Nampak berlumut, sehingga dianggap seperti batu biasa, sehingga ada yang rusak, diambil dan diinjak-injak begitu saja.
Namun, bebatuan ini dianggap bernilai tinggi untuk sebuah penelitian, khususnya sejarah terbentuknya bumi Kalsel.
Aku pikir batuan di Sungai Kembang, ya, seperti batu cadas biasa, atau unggukan batubara yang muncul di permukaan sungai, tidak tahu kalau batu tersebut termasuk yang langka, kata seorang pengunjung ketika berada di lokasi tersebut seperti dilansir Antara, Sabtu (19/2).
Sungai Kembang merupakan salah satu destinasi wisata Kalsel. Lokasinya dekat dari perkotaan.
Kepala Bidang Air Tanah, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalsel, Ali Mustofa tak membantah, jika bebatuan Sungai Kembang bernilai tinggi untuk penelitian.
Lantaran batuan Sungai Kembang termasuk batu unik dan langka dan tak ditemui di daerah lain. Yakni jenis sekis hijau/biru (blue sekis) yang terbentuk akibat penunjaman lempeng pada awal terbentuknya Pegunungan Meratus sekitar 180 juta tahun yang lalu.
Berdasarkan literatur, sekis (bahasa Inggris: schist) adalah salah satu dari jenis batuan metamorf.
Batuan ini terbentuk pada saat batuan sedimen atau batuan beku yang terpendam pada tempat yang dalam mengalami tekanan dan temperatur yang tinggi.
Berdasarkan komposisi utama penyusun batuannya yang klorit dapat diketahui bahwa mineral ini terbentuk dari batuan beku basa ataupun ultra basa yang mengalami metamorfosa, dengan pengaruh yang dominan adalah pengaruh tekanan.
Klorit sendiri merupakan mineral ubahan dari olivine ataupun piroksen, mineral ini sangat melimpah pada batuan beku basa ataupun ultra basa. Tekanan mengakibatkan penjajaran-penjajaran mineral pipih dan mineral prismatic.
Diperkirakan batuan ini terbentuk karena metamorfosa regional pada zona penunjaman lempeng, karena metamorfisme pada daerah ini memiliki pengaruh tekanan yang tinggi.
Menurut Ali Mustofa, bukan bebatuan Sungai Kembang saja yang unik di gugusan Geopark Meratus ini, tetapi juga bebatuan yang lain.
Salah satunya adalah Jenis batuan plagiogranit yang ditemukan di Gunung Batu Besar Mentewe, Kabupaten Tanah Bumbu.
Menurutnya, batuan di Mentewe juga termasuk langka karena berdasarkan data hanya ada di Athena, Yunani, dan Perancis.
Namun menurutnya, memang harus dipastikan lagi, melalui penelitian apakah pasti itu bebatuan plagiogranit. Jika itu benar maka Indonesia adalah negara ketiga punya bebatuan jenis itu.
Penelitian
Seorang ahli, Profesor Ibrahim Komoo telah melakukan verifikasi dan meninjau di Kalsel selama empat hari terkait Geopark Pegunungan Meratus untuk menuju UNESCO Global Geopark (UGG).
Hasilnya cukup menarik. Usai melakukan serangkaian penelitian, ia menyebutkan bebatuan tersebut mengarah ke batuan plagiogranit.
Jika saja itu benar, maka terdapat warisan dunia bernilai tinggi, sebab terjadi lantaran proses geologi sejak 180 juta tahun yang lalu.
Bumi Kalsel ada pulau Jawa belum ada, kehidupan manusia pun belum ada, katanya sambil tersenyum.
Dia menambahkan, bumi Kalsel dengan Pegunungan Meratusnya sangat kaya dengan warisan kejadian bumi. Dan ini sudah sangat cocok jika terdaftar UGG.
Ia juga menuturkan, batuan di bukit Langgara Loksado HSS termasuk jenis batu gamping paling tua di Meratus yang terbentuk sejak zaman kapur.
Batu gamping ini merupakan batuan yg terbentuk di laut hasil pengendapan hewan laut jenis orbitulina.
Hasil penelitian menyebutkan batu gamping di Bukit Langara berasal dari fosil binatang laut yang membeku.
Batu kapur tersebut merupakan yang tertua di wilayah ini, kata Ali Mustofa.
Batu ini sudah terbentuk sejak lempeng benua Australia yang bergerak dan menumbuk lempeng Sunda Land yang sekarang berada di lingkungan bersama dengan ofiolit Meratus.
Ali mengungkapkan, batu Bukit Langara beda dibandingkan batu gamping di daerah lain. Seperti batu gamping di daerah Bajuin, Kabupaten Tanah Laut.
Batu Langara dari hasil penelitian geologi justru adalah binatang kerang yang membatu.
Batuan ini sama persis seperti batu gamping yang ada di Australia, rupanya saat jutaan tahun lalu, batu Australia ini migrasi atau terpental ke Gunung Langara ini, tuturnya.
Dengan keunikan serta langka bebatuan di kawasan Geopark Meratus ini sudah selayaknya dipublikasikan lagi secara luas, untuk sebuah penelitian, pendidikan, dan objek wisata.
Kini tinggal bagaimana memanajemen kawasan Geopark Meratus memanfaatkannya untuk masyarakat setempat.










