KemenPPPA: KDRT Timbulkan Luka Fisik dan Psikis Bagi Korban dan Anak

KemenPPPA: KDRT Timbulkan Luka Fisik dan Psikis Bagi Korban dan Anak

Nasional | jawapos | Minggu, 6 Februari 2022 - 17:02
share

JawaPos.com Kaum perempuan dan anak merupakan kelompok yang rentan menjadi korban kekerasan di ranah domestik atau yang lebih awam disebut kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dalam kasus ini, perlawanan terhadap budaya kekerasan harus terus dilakukan.

Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Ratna Susianawati menuturkan, pemberantasan harus dimulai dari hulu dalam bentuk pencegahan hingga hilir dalam bentuk pendampingan para korban kekerasan.

Dalam kelompok masyarakat, perempuan dan anak adalah kelompok rentan, sehingga kita semua wajib melindungi dan menghindarkan mereka menjadi korban kekerasan. Banyak kasus KDRT yang terjadi di lingkungan masyarakat, namun para korban KDRT biasanya tidak mau melaporkan kasus yang dialaminya dengan banyak alasan.

Misalnya takut dengan pelaku KDRT yang notabene adalah keluarga korban atau mengganggap KDRT merupakan masalah rumah tangga, sehingga merupakan aib apabila permasalahan rumah tangganya diketahui oleh lingkungan sekitar, ujar dia, Minggu (6/2).

Ratna menuturkan, KDRT menimbulkan dampak sangat besar, baik bagi si korban maupun keluarganya. Kondisi ini bisa diperparah dengan lingkungan sekitar yang kurang tanggap terhadap kejadian KDRT di sekitarnya, dengan alasan KDRT merupakan masalah domestik sehingga apabila ada kejadian KDRT, orang lain tidak perlu campur tangan.

Selain menimbulkan luka fisik dan psikis berkepanjangan bagi perempuan dan anak yang menjadi korban KDRT, peristiwa kekerasan akan terekam dalam memori otak anak-anak yang menyaksikannya, tutur dia.

Jadi, jangan heran jika anak-anak yang menyaksikan dan bahkan menjadi korban KDRT akan melakukan hal serupa dengan teman sebaya mereka dan ke anak-anak mereka kelak. Anak yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang mengalami KDRT, cenderung akan meniru ketika mereka dewasa.

Anak perempuan yang melihat ibunya dipukul ayahnya dan ibunya diam saja, tidak melapor atau melawan, maka anaknya cenderung memiliki reaksi yang sama ketika mengalami KDRT saat berumah tangga, ungkap Ratna.

Topik Menarik