Vaksin Covid-19 Sedikit Ubah Siklus Menstruasi, tak Pengaruhi Kesuburan

Nasional | republika | Published at Minggu, 09 Januari 2022 - 06:21
Vaksin Covid-19 Sedikit Ubah Siklus Menstruasi, tak Pengaruhi Kesuburan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi terbaru menemukan pemberian vaksin Covid-19 memang dapat memengaruhi siklus menstruasi. Namun, menurut penelitian yang terbit di jurnal Obstetrics & Gynecology itu perempuan yang divaksinasi hanya mengalami sedikit perubahan dalam siklus menstruasinya, yakni kurang dari sehari.

Penulis utama studi tersebut, dr Alison Edelman, mengatakan bahwa penelitiannya dapat membantu meyakinkan, mengonfirmasi, dan menjadi alat konseling untuk perempuan yang masih khawatir vaksin Covid-19 akan memengaruhi kesuburan dan menstruasinya. Kesimpulan penelitian ini memperlihatkan dampak vaksin kecil pada tingkat populasi.

"Namun, hal itu mungkin bermakna sesuatu yang berbeda untuk setiap individu yang menstruasi," kata dr Edelman yang juga profesor kebidanan dan ginekologi di Oregon Health and Science University School of Medicine, dr Alison Edelman, kepada Today , dikutip Sabtu (8/1/2022).

Menurut dr Edelman, penelitian tersebut memberikan lebih banyak bukti bahwa vaksin Covid-19 tidak memengaruhi kesuburan dan efeknya pada menstruasi berjangka pendek. Wakil presiden untuk kegiatan praktik di American College of Obstetricians and Gynecologists dr Christopher M Zahn menjelaskan, menstruasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk stres, perubahan gaya hidup, atau berbagai kondisi yang mendasarinya.

"Makalah baru yang diterbitkan di Obstetrics & Gynecology memberikan bukti baru yang penting yang menggarisbawahi bahwa dampak apapun dari vaksin Covid-19 pada menstruasi adalah minimal dan sementara," kata Zahn.

Untuk penelitian ini, Edelman dan rekan-rekannya menganalisis data dari 3.959 perempuan dengan "panjang siklus haid normal" yang menggunakan aplikasi pelacakan yang disebut Natural Cycles. Sekitar 2.403 peserta tersebut divaksinasi menggunakan jenis vaksin Pfizer-BioNTech, Moderna, atau Johnson & Johnson.

Sementara peserta yang tersisa, sekitar 1.556, belum menerima vaksin Covid-19. Para peneliti memeriksa tiga siklus haid sebelum vaksinasi, tiga selama, dan sesudahnya.

Siklus menstruasi yang sehat umumnya berlangsung dari 24 hari hingga 38 hari dan dapat bervariasi hingga delapan hari. Setelah suntikan vaksin Covid-19 pertama, siklus seorang wanita 0,71 hari lebih lama dan setelah suntikan kedua 0,91 hari lebih lama.

"Dalam jangka panjang, kami tidak melihat apapun yang dapat mencegah seseorang untuk divaksinasi," kata dr Edelman.

Lewat penelitiannya, dr Edelman dapat memberi informasi kepada para perempuan bahwa mereka mungkin akan mengalami sedikit perubahan dalam panjang siklus menstruasinya. Namun, itu temporer saja.

Para ahli sepakat bahwa temuan ini seharusnya menghibur mereka yang khawatir tentang ketidaksuburan sebagai dampak dari vaksinasi Covid-1. Profesor di Feinstein Institutes for Medical Research di Northwell Health yang tidak terlibat dalam penelitian ini, Christine Metz, mengatakan bahwa salah satu kekhawatiran utama di antara mereka yang tidak divaksinasi adalah karena mereka takut vaksin akan memengaruhi kesuburan mereka.

"Apa yang ditunjukkan oleh makalah ini adalah bahwa panjang siklus menstruasi, yang merupakan tanda dari kondisi reproduksi yang sehat, tidak diubah oleh vaksin. Perubahan ini kecil, 7/10 hari," kata Metz.

Meski begitu, Metz mengatakan, penelitian tersebut memiliki beberapa keterbatasan. Aplikasi ini membutuhkan biaya untuk digunakan hingga mengurangi keragaman populasi yang menggunakannya.

"Ada lebih banyak orang kulit putih yang terwakili dalam kelompok ini. Lebih banyak orang berpendidikan perguruan tinggi yang terwakili dalam kelompok tersebut," katanya

Metz mengaku kecewa karena beberapa orang yang menggunakan aplikasi ini melacak kesuburan mereka untuk keluarga berencana atau menggunakannya sebagai alat kontrasepsi non-hormonal. Terlebih lagi, penelitian ini tidak meneliti sesuatu yang umum diketahui memengaruhi menstruasi, yakni stres.

"Para penulis tidak menilai stres. Mungkin ada stres terkait vaksin dan juga stres pandemi. Mungkin orang yang divaksinasi memiliki lebih banyak stres terkait pandemi daripada mereka yang tidak," kata Metz.

Artikel Asli