Utang Israel Tembus Rp8.094 Triliun, Mantan Jenderal Peringatkan Keruntuhan Ekonomi
TEL AVIV, iNews.id - Utang nasional Israel membengkak hingga sekitar 1,4 triliun shekel atau setara Rp8.094 triliun. Lonjakan beban keuangan akibat perang berkepanjangan itu memicu peringatan dari mantan jenderal militer Israel, Itzhak Brik, yang menilai negaranya menghadapi ancaman keruntuhan ekonomi.
Brik memperingatkan kondisi keuangan Israel semakin tertekan akibat besarnya pengeluaran militer, potensi sanksi internasional, pembatasan pasokan senjata, hingga risiko isolasi dari sistem keuangan global.
Dalam artikel opini yang diterbitkan surat kabar Maariv, Brik menghubungkan membengkaknya utang negara dengan dampak perang yang terus berlangsung. Dia memperingatkan beban tersebut akan semakin berat jika konflik dan tekanan internasional tidak segera mereda.
Menurut Brik, persoalan Israel bukan hanya menyangkut besarnya utang. Negara Yahudi itu juga menghadapi ancaman melemahnya perekonomian akibat tekanan eksternal dan keluarnya tenaga-tenaga profesional dari dalam negeri.
Data yang dikutip Al Jazeera pada Agustus 2026 juga menyebut utang Israel telah mencapai sekitar 1,4 triliun shekel atau sekitar 480 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat dibandingkan sebelum perang pada Oktober 2023, ketika utang tercatat sekitar 1,07 triliun shekel.
Tekanan terhadap keuangan negara semakin terasa karena biaya pertahanan dan pembayaran bunga utang terus meningkat. Meski penerimaan pajak Israel mencapai rekor pada 2025, pertumbuhan biaya pertahanan dan pembayaran utang disebut melampaui kenaikan tersebut.
Brik juga menyoroti kemungkinan Israel menghadapi pembatasan ekonomi dan sanksi dari negara-negara lain. Dia memperingatkan isolasi keuangan internasional dapat memperburuk kondisi perekonomian dan mengancam stabilitas sektor perbankan.
Mantan jenderal itu bahkan mengkritik gagasan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang disebut ingin memanfaatkan mata uang kripto untuk menghadapi kemungkinan sanksi Uni Eropa. Brik menilai gagasan tersebut naif dan tidak masuk akal.
Dia turut memperingatkan memburuknya kondisi ekonomi bisa berdampak langsung terhadap masyarakat, termasuk mengancam tabungan warga Israel.
Peringatan Brik muncul di tengah tekanan ekonomi yang juga menjadi perhatian lembaga-lembaga internasional. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan konsultasi ekonomi Israel pada Juli 2026 memperkirakan rasio utang publik terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 70,1 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 70,7 persen pada 2027.
IMF juga menyoroti risiko dari konflik regional berkepanjangan, tingginya belanja pertahanan, serta keterbatasan pasokan tenaga kerja akibat mobilisasi militer.
Sementara itu, Bank of Israel pada Oktober 2026 memperkirakan rasio utang terhadap PDB berada di kisaran 68 persen pada akhir 2026. Bank sentral tersebut juga mengingatkan proyeksi ekonomi masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan besarnya kebutuhan belanja pertahanan.
Brik menilai persoalan-persoalan tersebut saling berkaitan dan dapat memperburuk kondisi Israel jika tidak segera ditangani. Dia memperingatkan kombinasi utang yang membengkak, tekanan internasional, dan masalah struktural di dalam negeri bisa mengancam masa depan negara tersebut.










