Greenpeace Bentangkan Spanduk di Bundaran HI Singgung Krisis Iklim, Istana Buka Suara

Greenpeace Bentangkan Spanduk di Bundaran HI Singgung Krisis Iklim, Istana Buka Suara

Terkini | inews | Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:33
share

JAKARTA, iNews.id - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi merespons aksi aktivis Greenpeace Indonesia yang membentangkan spanduk protes di atas Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Selasa (20/10/2026). Dia menegaskan pemerintah terus berupaya menangani berbagai persoalan lingkungan, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dalam aksinya, Greenpeace Indonesia menyoroti persoalan lingkungan yang dinilai berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan "Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup" yang menghadap ke arah utara atau Istana Merdeka.

Sementara itu, spanduk lainnya bertuliskan "Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?" yang menghadap ke arah selatan.

Menanggapi aksi tersebut, Prasetyo mengatakan pemerintah terus berupaya maksimal menangani bencana yang terjadi di Indonesia, termasuk karhutla.

"Yah, kita semua berusaha sekeras-kerasnya, semua dilakukan," ujar Prasetyo dalam keterangannya.

Dia menegaskan pemerintah tidak menginginkan bencana terjadi ataupun berlangsung berlarut-larut. Karena itu, berbagai upaya terus dilakukan untuk mempercepat penanganan karhutla.

"Bukan juga kemudian tidak ngapa-ngapain sebagaimana yang ditulis di spanduk," katanya.

Prasetyo menjelaskan, pemerintah telah mengerahkan pasukan darat, armada udara, serta relawan untuk memadamkan kebakaran. Penanganan juga dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik lahan gambut yang berbeda dengan tanah mineral.

"Pasukan darat termasuk relawan berjibaku tak mengenal waktu. Peralatan udara senua dikerahkan meskipun karakteristik gambut berbeda dengan tanah mineral," tuturnya.

Selain pemadaman, pemerintah juga menjalankan penegakan hukum terhadap pihak yang terlibat dalam karhutla. Prasetyo menyebut sanksi berat dapat diberikan, termasuk pencabutan izin korporasi yang terbukti terlibat.

Pemerintah juga terus mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), termasuk menggunakan metode baru dengan dry ice atau es kering.

"Edukasi terus menerus dilakukan karena faktor utama kebakaran itu karena ada faktor manusianya. OMC-OMC terus dilakukan termasuk dengan metode baru dry ice," pungkasnya.

Operasi Modifikasi Cuaca di Empat Provinsi

Berdasarkan data penanganan karhutla hingga Selasa (20/10/2026) pukul 06.00 WIB, operasi modifikasi cuaca berlangsung di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.

Di Sumatera Selatan, OMC telah dilakukan sejak 16 Oktober dengan delapan sorti penerbangan. Bahan semai yang digunakan terdiri atas 1.600 kilogram natrium klorida (NaCl) dan 4.000 kilogram dry ice.

Dukungan juga diberikan melalui Posko Lampung pada 15-18 Oktober. Sebanyak enam sorti penerbangan dilakukan dengan 4.800 kilogram dry ice untuk mengantisipasi kendala jarak pandang di Palembang. Berdasarkan laporan, operasi tersebut menunjukkan hasil berupa penurunan konsentrasi PM2.5 dan peningkatan jarak pandang di Sumatera Selatan.

Di Kalimantan Tengah, OMC telah berlangsung sejak 26 Agustus dengan 48 sorti penerbangan dan penggunaan 43.800 kilogram NaCl. Volume curah hujan yang dihasilkan selama operasi dilaporkan mencapai 67,45 juta meter kubik.

Posko bantuan dari Kalimantan Selatan juga mulai beroperasi pada 18 Oktober untuk mengatasi kendala jarak pandang di Kalimantan Tengah. Operasi tersebut mencakup dua sorti penerbangan dengan penggunaan masing-masing 800 kilogram dry ice dan 800 kilogram NaCl.

Laporan petugas lapangan serta alat pengukur cuaca otomatis menunjukkan hujan terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kapuas, Gunung Mas, dan Barito Timur.

Sementara itu, di Kalimantan Selatan, OMC telah dilakukan sejak 10 Oktober dengan 23 sorti penerbangan menggunakan 23.000 kilogram NaCl. Operasi yang didukung dua armada pesawat tersebut menghasilkan volume curah hujan yang dilaporkan mencapai 222,67 juta meter kubik.

Hujan juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Tabalong, Tapin, dan Barito Kuala.

Adapun di Kalimantan Barat, operasi modifikasi cuaca telah berlangsung sejak 22 Agustus dengan 107 sorti penerbangan dan penggunaan 98.800 kilogram NaCl. Volume curah hujan yang dihasilkan selama kegiatan dilaporkan mencapai 471,2 juta meter kubik.

Pada 19 Oktober 2026, hujan dilaporkan terjadi di Kabupaten Sanggau, Kubu Raya, Sambas, Landak, Kayong Utara, Pontianak, Bengkayang, Kapuas Hulu, Kota Singkawang, dan Kabupaten Ketapang.

Pemerintah terus mengandalkan pemadaman darat dan udara, operasi modifikasi cuaca, edukasi masyarakat, serta penegakan hukum untuk menangani karhutla di sejumlah wilayah tersebut.

Topik Menarik