Viral Ratusan Pemusik Tetap Mainkan Orkestra di Tengah Kepulan Gas Air Mata Demo Prancis

Viral Ratusan Pemusik Tetap Mainkan Orkestra di Tengah Kepulan Gas Air Mata Demo Prancis

Terkini | inews | Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:13
share

PARIS, iNews.id - Aksi ratusan pemusik yang tetap memainkan instrumen orkestra di tengah kepulan gas air mata saat demonstrasi di Paris, Prancis, menjadi sorotan. Para musisi tersebut berusaha melanjutkan pertunjukan meski situasi di sekitar mereka memanas dan aparat menembakkan gas air mata.

Peristiwa itu terjadi di Place de la République, Paris, pada Sabtu (17/10/2026). Lebih dari 400 musisi dari Orchestre du Nouveau Monde berkumpul untuk menggelar pertunjukan musik sebagai bentuk solidaritas terhadap gerakan pelajar yang menyuarakan persoalan pendidikan dan keadilan sosial.

Menurut laporan media Prancis Télérama, para musisi tiba sekitar pukul 11.30 waktu setempat untuk memulai latihan. Awalnya, situasi berlangsung tenang. Namun, sekitar tengah hari, gas air mata mulai menyebar di lokasi, disusul penggunaan granat pembubaran massa dan ancaman tindakan aparat.

Étienne Cognet, petugas hubungan pers Orchestre du Nouveau Monde sekaligus pemain tuba, menceritakan kejadian tersebut kepada Télérama.

"Selama lima tahun, ini pertama kalinya kami terkena gas air mata saat demonstrasi," demikian pernyataan Cognet, dikutip Selasa (20/10/2026).

Dia mengatakan, pertunjukan tersebut telah diberitahukan kepada pihak kepolisian dan dijadwalkan berlangsung pukul 13.00 waktu setempat. Meski demikian, para musisi mengaku tetap terdampak penggunaan gas air mata sebelum konser dimulai.

Di tengah kondisi tersebut, para musisi berusaha meneruskan permainan mereka selama sekitar 20 menit. Namun, situasi yang semakin tidak kondusif membuat mereka akhirnya harus meninggalkan lokasi.

Peristiwa ini kemudian menjadi gambaran kontras antara pertunjukan musik yang berlangsung secara damai dan ketegangan yang mewarnai demonstrasi di ibu kota Prancis.

Orkestra untuk Solidaritas Pelajar

Kehadiran Orchestre du Nouveau Monde dalam demonstrasi bukan sekadar pertunjukan seni. Kelompok musik yang dipimpin konduktor Étienne Jarrier itu dikenal menggunakan musik sebagai medium untuk menyuarakan isu keadilan sosial dan lingkungan.

Menurut laporan Télérama, orkestra tersebut sebelumnya juga tampil dalam sejumlah aksi gerakan pelajar. Kehadiran mereka pada 17 Oktober dimaksudkan untuk memberikan dukungan kepada para pelajar yang memprotes persoalan pendidikan, termasuk kekurangan guru dan ruang kelas yang terlalu padat.

Pertunjukan di Place de la République itu menjadi bagian dari rangkaian demonstrasi yang lebih luas. Aksi massa di berbagai wilayah Prancis turut menyoroti kenaikan biaya hidup, kondisi layanan publik, serta persoalan kesejahteraan masyarakat.

Bagi para musisi, musik menjadi sarana untuk mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam menyampaikan aspirasi. Mereka berupaya menghadirkan ruang solidaritas melalui pertunjukan yang dapat dinikmati bersama.

Dalam pernyataan yang dikutip media Cult, Orchestre du Nouveau Monde menegaskan pandangannya mengenai peran seni dalam kehidupan publik.

"Karena musik merupakan ruang kebebasan, kebersamaan, dan perlawanan, musik tidak boleh dibungkam dengan kekerasan," demikian pernyataan orkestra.

Demonstrasi Prancis Diwarnai Ketegangan

Demonstrasi pada 17 Oktober 2026 berlangsung di sejumlah kota di Prancis. Meski banyak peserta mengikuti aksi untuk menyampaikan aspirasi, bentrokan dan kerusakan juga dilaporkan terjadi di beberapa wilayah.

Di Paris, penggunaan gas air mata di sekitar Place de la République menjadi salah satu peristiwa yang menyita perhatian. Pada saat yang sama, aparat dan kelompok demonstran terlibat ketegangan di sejumlah titik.

Insiden yang dialami para musisi Orchestre du Nouveau Monde menambah sorotan terhadap situasi di lokasi demonstrasi. Mereka mengaku datang untuk menggelar pertunjukan secara damai, tetapi akhirnya harus membubarkan diri akibat kondisi yang tidak memungkinkan.

Peristiwa tersebut juga memunculkan perhatian terhadap ruang bagi ekspresi seni di tengah aksi massa. Para musisi yang awalnya datang untuk memainkan musik sebagai bentuk solidaritas justru harus menghentikan pertunjukan sebelum konser yang dijadwalkan berlangsung dapat terlaksana sepenuhnya.

Topik Menarik