AS Ikut Lobi Saudi agar Terima Bantuan Israel Lawan Houthi, Pangeran MBS Tetap Menolak
RIYADH, iNews.id - Arab Saudi tetap menolak tawaran bantuan militer Israel untuk menghadapi kelompok Houthi Yaman, meski Amerika Serikat (AS) ikut turun tangan melobi Riyadh. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) tidak tertarik menerima bantuan dari Israel di tengah meningkatnya serangan Houthi ke wilayah kerajaan tersebut.
Penolakan itu memperlihatkan bahwa tekanan keamanan akibat serangan Houthi belum mengubah sikap Arab Saudi terhadap Israel. Riyadh juga memperhitungkan konsekuensi politik jika menjalin kerja sama militer dengan negara yang hingga kini tidak memiliki hubungan diplomatik dengannya.
Surat kabar Israel, Haaretz, mengutip sumber pejabat Israel, melaporkan MBS menolak tawaran tersebut. Kerja sama militer Saudi-Israel dikhawatirkan memicu reaksi keras, baik dari publik internasional maupun masyarakat di dalam negeri.
Operasi Pencarian Jurnalis Diperpanjang Tiga Hari, Keluarga Berharap Korban Segera Ditemukan
Di sisi lain, Israel memiliki kepentingan diplomatik di balik tawaran bantuan itu. Seorang sumber pejabat Israel mengatakan, pemerintahnya berharap kerja sama militer dengan Saudi dapat memperkuat hubungan bilateral dan membuka jalan menuju normalisasi hubungan diplomatik melalui Perjanjian Abraham.
Namun, upaya tersebut terbentur sikap Riyadh yang tetap mensyaratkan kemerdekaan Palestina sebelum normalisasi hubungan dengan Israel dapat terwujud.
Israel Ingin Perkuat Hubungan dengan Saudi
Tawaran bantuan militer Israel muncul ketika Arab Saudi menghadapi peningkatan serangan Houthi, kelompok Yaman yang didukung Iran. Serangan tersebut meningkat sejak Juli dan semakin intensif dalam sepekan terakhir.
Salah satu sasaran serangan adalah Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Serangan itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai ratusan lainnya.
Situasi tersebut menjadi latar belakang upaya Israel menawarkan kerja sama militer kepada Saudi. Bagi Israel, hubungan keamanan dengan Riyadh berpotensi menjadi langkah penting untuk memperluas hubungan dengan negara-negara Arab.
Akan tetapi, pemerintah Saudi tidak ingin persoalan keamanan membuatnya mengesampingkan pertimbangan diplomatik dan politik terkait Palestina.
Palestina Tetap Jadi Syarat Normalisasi
Arab Saudi hingga kini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Riyadh secara konsisten menyatakan normalisasi hubungan dengan Israel hanya dapat terwujud jika Palestina merdeka.
Sikap itu menjadi penghalang utama bagi upaya Israel membangun hubungan resmi dengan kerajaan tersebut, meskipun keduanya menghadapi sejumlah persoalan keamanan di kawasan yang sama.
Perjanjian Abraham, yang menjadi kerangka normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab, dipandang Israel sebagai jalur untuk memperluas hubungan regional. Namun, Arab Saudi belum mengikuti langkah negara-negara yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel melalui kesepakatan tersebut.
Penolakan MBS terhadap tawaran bantuan militer itu menunjukkan bahwa kerja sama menghadapi ancaman bersama tidak otomatis membuka jalan bagi normalisasi diplomatik.
Konflik Saudi-Houthi Kembali Memanas
Arab Saudi terlibat dalam konflik Yaman sejak Maret 2015 dengan memimpin koalisi militer yang bertujuan memulihkan pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional setelah digulingkan Houthi pada 2014.
Kedua pihak kemudian mencapai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada April 2022. Namun, eskalasi kembali meningkat pada Juli lalu.
Di tengah serangan yang kembali meningkat, Saudi menghadapi tantangan untuk melindungi wilayahnya sekaligus menjaga posisi diplomatiknya. Sementara Israel berupaya memanfaatkan peluang kerja sama keamanan untuk memperkuat hubungan dengan Riyadh, pemerintah Saudi tetap menolak tawaran tersebut.
Dengan demikian, keterlibatan AS dalam lobi tidak cukup untuk mengubah keputusan MBS. Persoalan Palestina dan risiko reaksi politik tetap menjadi faktor penting dalam hubungan Saudi-Israel.










