Epidemiolog Ungkap Risiko Wabah Pes Rusia Masuk Indonesia Sangat Kecil

Epidemiolog Ungkap Risiko Wabah Pes Rusia Masuk Indonesia Sangat Kecil

Terkini | inews | Senin, 5 Oktober 2026 - 12:23
share

JAKARTA, iNews.id - Kasus meninggalnya seorang peneliti di laboratorium pes di Siberia, Rusia, memicu perhatian terhadap kemungkinan penyebaran penyakit tersebut ke negara lain, termasuk Indonesia.

Namun, Epidemiolog Griffith University Australia dr Dicky Budiman menilai risiko pes dari Rusia masuk dan menyebar di Indonesia sangat kecil. Apa alasannya?

Menurut dr Dicky, karakteristik penularan penyakit pes membuat kemungkinan penyebarannya ke Indonesia tergolong rendah. Penularan, kata dia, membutuhkan kontak yang dekat.

"Penularan ke Indonesia kecil sekali kemungkinannya. Karena ini penularan juga harus dekat, kontak dekat," kata dr Dicky saat diwawancarai iNews.id, Senin (5/10/2026).

Dia juga menilai kasus tersebut belum masuk dalam kategori yang perlu mendapatkan perhatian tinggi atau high alert. Potensi penyakit pes berkembang menjadi pandemi juga dinilai dr Dicky sangat kecil.

"Ini adalah kasus yang bukan masuk kategori high alert. Potensi pandeminya juga kecil sekali," ujarnya.

Pes Bukan Patogen Baru

Dokter Dicky menjelaskan, salah satu faktor yang membuat risiko pandemi pes rendah adalah penyakit tersebut bukan patogen baru.

Menurut dia, penyakit yang berpotensi menjadi pandemi umumnya memiliki sejumlah karakteristik, salah satunya merupakan patogen baru yang sebelumnya belum dikenal luas oleh sistem kesehatan.

Selain itu, pes juga sudah memiliki pengobatan. Antibiotik yang tersedia saat ini dapat digunakan untuk menangani infeksi akibat bakteri penyebab pes.

"Kedua, belum ada obat atau vaksin, sedangkan untuk ini ada obatnya, antibakteri yang efektif," tutur dr Dicky.

Dia mengatakan gejala penyakit tersebut juga dapat dideteksi dan ditangani menggunakan terapi yang tersedia.

"Biasanya akan bisa ditangani dalam dua sampai tiga hari dengan antibiotik yang ada saat ini," ujarnya.

Penularan Pes Perlu Diwaspadai

Meski risiko penyebaran ke Indonesia dinilai sangat kecil, bukan berarti penyakit pes dapat diabaikan. Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis dan memiliki beberapa bentuk, salah satunya pes pneumonik yang menyerang paru-paru.

Bentuk tersebut dapat menular antarmanusia melalui droplet pernapasan, terutama dalam kontak dekat. Karena itu, deteksi dini dan penanganan medis tetap penting apabila seseorang mengalami gejala yang mengarah pada penyakit tersebut setelah memiliki riwayat paparan.

Dokter Dicky menjelaskan, pola penularan juga menjadi salah satu faktor dalam menentukan apakah sebuah penyakit memiliki potensi berkembang menjadi pandemi.

Namun, menurut dia, kondisi tersebut tidak serta-merta menjadikan kasus pes di Rusia sebagai ancaman pandemi global.

Dengan tersedianya antibiotik efektif serta karakteristik penyakit yang sudah dikenal, dr Dicky menilai masyarakat Indonesia tidak perlu panik menyikapi kasus tersebut.

Topik Menarik