Siswa SD di Ungaran Diduga jadi Korban Bullying Teman Kelas, Mimisan hingga Trauma

Siswa SD di Ungaran Diduga jadi Korban Bullying Teman Kelas, Mimisan hingga Trauma

Nasional | inews | Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:07
share

SEMARANG, iNews.id –Seorang siswa SD di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, berinisial R diduga menjadi korban bullying atau perundungan dua teman sekelasnya. Korban mengalami luka-luka di sejumlah bagian tubuh, demam tinggi, hingga pendarahan pada hidung (mimisan).

Kondisi kesehatan korban dilaporkan terus menurun akibat luka memar pada lengan, bibir, serta bagian belakang telinga, disertai trauma psikologis yang mendalam. 

Insiden dugaan penganiayaan tersebut dialami R pada Rabu pekan lalu. Kepada orang tuanya, R mengaku mendapat tindakan kekerasan fisik dari dua teman sekelasnya yang diduga merupakan anak dari Ketua Yayasan dan anak Ketua Paguyuban sekolah setempat.

Orang tua korban sengaja angkat bicara ke media agar kasus kekerasan di lingkungan pendidikan ini dapat ditindaklanjuti secara transparan dan tidak menimpa siswa lainnya. 

"Kami sengaja berbicara di depan media agar ke depannya tidak ada lagi siswa yang menjadi korban kekerasan di sekolah," kata orang tua korban, Arief Prasetyo, Kamis (1/10/2026).

Menanggapi peristiwa tersebut, pihak SD Hj Isriati Moenadi Ungaran membenarkan adanya tindakan kekerasan yang menimpa salah satu siswanya di dalam lingkungan sekolah.

Kepala SD Hj Isriati Moenadi Ungaran, Yosita Kumalasari, menjelaskan, insiden terjadi di dalam ruang kelas saat wali kelas sedang mendampingi sejumlah siswa perempuan di musala. Namun, pihak sekolah membantah adanya unsur kesengajaan atau penganiayaan murni.

"Awalnya main perang-perangan di dalam kelas yang kemudian berujung perkelahian," kata Kepala SD Hj Isriati Moenadi Ungaran, Yosita Kumalasari.

Pihak sekolah menyatakan telah mengambil tindakan dengan memberikan sanksi pembinaan khusus kepada kedua terduga pelaku melalui pendekatan bimbingan keagamaan serta pemanggilan orang tua. Sementara itu, keluarga korban berharap ada evaluasi menyeluruh terkait pengawasan siswa di ruang kelas.

Topik Menarik