Desainer Muda SFA Hadirkan Warisan Dayak hingga Gaun Avant-Garde di Fashion Nation 2026

Desainer Muda SFA Hadirkan Warisan Dayak hingga Gaun Avant-Garde di Fashion Nation 2026

Gaya Hidup | inews | Senin, 21 September 2026 - 17:32
share

JAKARTA, iNews.id - Panggung Fashion Nation 2026 di Senayan City, Jakarta, menjadi ruang bagi desainer muda untuk menerjemahkan berbagai inspirasi ke dalam bahasa fashion yang lebih modern. 

Mulai dari warisan budaya Dayak hingga gaun avant-garde, sejumlah karya menunjukkan keberagaman gagasan generasi baru di industri mode. Penasaran seperti apa karya mereka?

Dalam gelaran Fashion Nation 2026 – SFA 13th Anniversary, para desainer muda Sparks Fashion Academy (SFA) tampil membawa tema 'The Future Nostalgic'. Tema tersebut menjadi titik temu antara inspirasi masa lalu dan eksplorasi fashion masa depan.

Desainer muda SFA di Fashion Nation 2026. (Foto: Istimewa)

Pada sequence The New Wave, sembilan desainer muda SFA, yakni Asta, Marsha, Ayesha, Gina, Cherry, Ratih, Meike, Yeane, dan Ersi, menampilkan karya masing-masing.

Karya mereka memperlihatkan bagaimana elemen masa lalu dapat diolah tanpa harus kehilangan sentuhan kontemporer. Eksplorasi dilakukan melalui siluet, tekstur, detail, hingga pendekatan eksperimental yang mencerminkan perspektif generasi baru.

Setelah The New Wave, panggung berlanjut dengan sequence Emerging Brands yang menghadirkan Malsa Sarah, Destyani Samadi, dan Christa Flora Lay.

Malsa Sarah membawa koleksi "Arunika" yang berangkat dari budaya dan warisan masyarakat Dayak di Kalimantan. Kekayaan tradisi tersebut diterjemahkan melalui siluet, tekstur, dan detail busana.

Bukan hanya mengangkat unsur visual, koleksi tersebut juga mengambil gagasan mengenai kebersamaan dan hubungan antargenerasi. Nilai-nilai tersebut kemudian diolah menjadi bagian dari karakter busana yang ditampilkan di atas panggung.

Berbeda dengan Malsa, Destyani Samadi menjadikan alam Kalimantan sebagai sumber inspirasi. Lewat koleksi "Black Orchid of Borneo", dia mengeksplorasi karakter anggrek hitam khas Kalimantan ke dalam rancangan yang lebih modern.

Karakter bunga tersebut diterjemahkan melalui siluet dan bentuk busana, sehingga elemen alam tidak hadir secara harfiah, tetapi menjadi bagian dari identitas visual koleksi.

Sementara itu, Christa Flora Lay menghadirkan pendekatan yang lebih dramatis melalui koleksi "Saint and Sinners".

Koleksi tersebut menampilkan gaun avant-garde dengan dominasi warna merah dan putih. Dua warna tersebut digunakan untuk merefleksikan gagasan mengenai dua sisi dalam perubahan manusia.

Rangkaian koleksi tersebut memperlihatkan beragam cara desainer muda dalam membangun identitas melalui fashion. Budaya, alam, hingga gagasan mengenai manusia menjadi sumber inspirasi yang kemudian diterjemahkan menjadi karya dengan karakter masing-masing.

Kehadiran mereka di Fashion Nation 2026 juga menjadi bagian dari proses memperkenalkan karya desainer muda kepada publik melalui panggung fashion profesional. Tidak hanya menghasilkan busana, mereka mulai membangun narasi dan identitas yang dapat menjadi fondasi dalam perjalanan menuju industri fashion.

Lewat tema "The Future Nostalgic", para desainer muda SFA menunjukkan bahwa warisan masa lalu masih dapat menemukan bentuk baru. Tradisi dan nostalgia tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi dapat diolah menjadi gagasan fashion yang lebih relevan dengan generasi saat ini.

Topik Menarik