Tiket MotoGP Mandalika 2026 Laris 50 Persen, Dua Pembalap Indonesia Jadi Magnet
JAKARTA, iNews.id - Penjualan tiket MotoGP Mandalika 2026 telah mencapai sekitar 50 persen, meski balapan di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), masih menyisakan waktu 37 hari.
Direktur Operasi InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) Troy Warokka mengatakan perkembangan penjualan tiket menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap MotoGP Mandalika. ITDC berharap penjualan terus meningkat hingga hari pelaksanaan.
"Pergerakan tiket yang juga sudah hampir 50 persen dan saya rasa dengan sisa waktu 37 hari ini ke depan akan lebih baik," kata Troy saat ditemui usai acara Penandatanganan MoU Kolaborasi dan Sinergi Bisnis dalam mendukung Pertamina Grand Prix Indonesia of MotoGP 2026 di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Menurut Troy, keberadaan dua pembalap Indonesia yang akan tampil di MotoGP Mandalika 2026 menjadi salah satu faktor pendorong minat penonton. Kehadiran wakil Indonesia dinilai memberi daya tarik tambahan bagi masyarakat untuk datang langsung ke sirkuit.
Leo/Daniel Siapkan Sabar Ekstra di Final Taipei Open 2026, Duo Aaron dari Malaysia Bukan Lawan Mudah
"Penyediaan tiket early bird itu habis dalam waktu satu minggu setelah diluncurkan. Artinya mereka punya semangat untuk nonton. Dan sekarang sudah masuk ke pre-sale kedua," ujarnya.
Selain pembalap Indonesia, persaingan para rider papan atas MotoGP juga diperkirakan menjadi magnet bagi penonton. Nama Marc Marquez turut menjadi sorotan menjelang seri balapan di Mandalika.
"Tidak hanya local heroes, tapi pembalap yang sudah ada nih gimana nih yang punya nama besar atau nama-nama baru yang tidak diperhitungkan tiba-tiba muncul. Kan itu bisa terjadi," tutur Troy.
ITDC menargetkan jumlah penonton MotoGP Mandalika 2026 mencapai 145 ribu orang. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan jumlah penonton tahun sebelumnya yang berada di kisaran 140 ribu orang.
Pada penyelenggaraan tahun lalu, MotoGP Mandalika disebut memberikan dampak ekonomi sekitar Rp4,9 triliun. ITDC berharap perputaran ekonomi tahun ini dapat meningkat seiring dengan target jumlah penonton yang lebih besar.
"Tahun ini yang pasti kita berharap lebih tinggi. Karena sesungguhnya, sampai di tahun ini dukungan pemerintah lebih baik," katanya.
Akomodasi Mulai Tertekan
Peningkatan minat terhadap MotoGP juga mulai terasa pada sektor akomodasi. ITDC menyebut kapasitas penginapan di kawasan Mandalika semakin terbatas sehingga alternatif akomodasi perlu disiapkan untuk mengantisipasi kedatangan penonton.
ITDC menggandeng sejumlah mitra dari sektor transportasi dan pariwisata untuk mengantisipasi kebutuhan selama periode balapan. Mitra tersebut mencakup maskapai, perusahaan tour and travel, Himbara, hingga penyedia akomodasi alternatif.
Dari sisi penerbangan, tambahan penerbangan menuju Lombok juga menjadi salah satu opsi untuk mengantisipasi peningkatan jumlah penumpang. Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, penerbangan tambahan bahkan dapat berlangsung hingga dua hari setelah balapan.
Sementara itu, keterbatasan kapasitas penginapan di Mandalika diantisipasi melalui sejumlah pilihan, mulai dari camping ground, hotel, guest house, hingga paket yang menggabungkan tiket, transportasi dan akomodasi.
Troy mengatakan peningkatan permintaan tempat menginap tidak hanya terjadi di kawasan Mandalika. Aktivitas tersebut mulai memberikan dampak ke sejumlah wilayah lain di Lombok, termasuk Senggigi dan Mataram.
"Mandalika sudah hampir 100 persen, sudah sampai berdampak ke Senggigi. Jadi artinya ini pergerakan cukup bagus, Mataram sudah pasti berdampak," ujarnya.
Perkembangan tersebut memperlihatkan efek MotoGP terhadap aktivitas pariwisata di NTB. Arus penonton tidak hanya berpotensi meningkatkan kunjungan ke kawasan sirkuit, tetapi juga mendorong permintaan transportasi dan akomodasi di wilayah sekitarnya.
Dengan penjualan tiket yang sudah mencapai 50 persen dan target 145 ribu penonton, ITDC kini berfokus memastikan kesiapan penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026. Ajang tersebut diharapkan kembali memberikan kontribusi terhadap pariwisata dan perekonomian NTB.










