Kemenkes Ungkap Kualitas Udara di 25 Wilayah Terdampak Karhutla, Pontianak Status Berbahaya

Kemenkes Ungkap Kualitas Udara di 25 Wilayah Terdampak Karhutla, Pontianak Status Berbahaya

Terkini | inews | Sabtu, 29 Agustus 2026 - 06:15
share

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap kualitas udara di 25 kabupaten/kota dari tujuh provinsi terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dari data tersebut, sejumlah wilayah masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan Kota Pontianak, Kalimantan Barat, berada pada status berbahaya dengan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 328.

Berdasarkan laporan Update Penanganan Karhutla dan Gempa Flores Kemenkes per 28 Agustus 2026, tujuh provinsi telah menetapkan status siaga darurat bencana akibat karhutla. Ketujuh provinsi tersebut yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.

Data ISPU per 27 Agustus 2026 pukul 16.26 WIB menunjukkan pencemaran udara terjadi di sejumlah wilayah pada tujuh provinsi tersebut. Sebanyak 16 wilayah tercatat memiliki status tidak sehat.

Wilayah dengan status tidak sehat antara lain Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, dengan nilai ISPU 183; Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 182; Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, 171; serta Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, 158.

Selanjutnya, Palembang, Sumatera Selatan, tercatat memiliki nilai ISPU 139; WT Kpkn Ikn, Kalimantan Timur, 137; Kabupaten Pelalawan, Riau, 127; Kabupaten Mura, Sumatera Selatan, 123; Mobile AQMS BPBD Kalteng, Kalimantan Tengah, 122; Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, 122; dan Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, 113.

Kemudian Kabupaten Rokan Hilir, Riau, memiliki nilai ISPU 112; Pekanbaru, Riau, 111; Kabupaten Kampar, Riau, 111; Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, 104; serta Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, 103.

Selain itu, delapan wilayah masuk kategori sangat tidak sehat. Kabupaten Tebo, Jambi, memiliki nilai ISPU tertinggi dalam kategori ini, yakni 287, disusul Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, 274; dan Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, 258.

Berikutnya, Kabupaten Pali, Sumatera Selatan, tercatat 255; Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, 237; Kabupaten Kapuas, Kalimantan Barat, 230; Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, 229; serta Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, 219.

Sementara itu, Kota Pontianak menjadi wilayah dengan pencemaran udara paling parah. Nilai ISPU di wilayah tersebut mencapai 328 sehingga masuk kategori berbahaya.

Kondisi kualitas udara tersebut berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Sejumlah gangguan yang dapat muncul antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), gangguan pernapasan, serta iritasi mata dan kulit.

Paparan asap karhutla juga berisiko meningkatkan gangguan kesehatan sistemik, seperti penyakit jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi. Risiko tersebut terutama perlu diwaspadai oleh kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja luar ruangan.

Asap karhutla mengandung partikel halus (PM2.5), karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO₂), serta senyawa organik beracun yang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.

Untuk menangani dampak karhutla, Kemenkes melakukan sejumlah langkah promotif dan preventif. Upaya tersebut meliputi edukasi kepada masyarakat mengenai pengurangan risiko krisis kesehatan akibat karhutla, pemantauan penyakit terkait kebakaran hutan, serta surveilans kualitas udara dalam ruang dan dampak kesehatan di permukiman yang berada di wilayah berisiko.

Kemenkes juga telah menerbitkan Surat Kewaspadaan Karhutla bagi dinas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Selain itu, pemerintah menyiagakan Public Safety Center (PSC) 119 dan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) di berbagai wilayah terdampak. Sebanyak 1.691 puskesmas disiapkan sebagai pos pelayanan kesehatan, bersama 360 rumah sakit rujukan dan 87 laboratorium kesehatan masyarakat untuk pengujian kualitas udara.

Kemenkes juga mengerahkan 18.457 dokter umum, 280 dokter spesialis mata, 189 dokter spesialis paru, 212 dokter spesialis kedokteran emergensi, serta 238 dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).

Topik Menarik