Kisah Korban Selamat dari Banjir Bandang Nepal, Istri dan Anak Tewas dalam Hitungan Detik

Kisah Korban Selamat dari Banjir Bandang Nepal, Istri dan Anak Tewas dalam Hitungan Detik

Terkini | inews | Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:38
share

NEPAL, iNews.id – Bencana banjir bandang dahsyat yang menerjang Nepal meninggalkan kisah memilukan sekaligus mencekam. Seorang pria berhasil menyelamatkan diri dari terjangan air bah, tetapi harus menghadapi kenyataan pahit karena istri dan putranya yang berusia 18 tahun hilang dalam bencana tersebut.

Banjir datang begitu cepat hingga warga nyaris tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri. Dalam hitungan detik, air bah menerjang permukiman, menyeret orang-orang, kendaraan, rumah, hingga berbagai benda yang berada di jalurnya.

Hingga laporan terbaru, 175 jenazah telah ditemukan, sementara 823 orang masih dinyatakan hilang.

Tim penyelamat masih menyisir wilayah terdampak untuk mencari korban yang belum ditemukan. Namun, upaya tersebut tidak mudah karena lumpur setebal beberapa meter menutupi rumah, jalan, jembatan, dan berbagai fasilitas publik.

"Banjir Itu Datang dalam Hitungan Detik"

Kisah pilu tersebut disampaikan seorang pedagang yang memiliki toko pakaian di Pasar Trishuli, distrik Nuwakot.

Korban selamat banjir Nepal. (Foto: AP)

Pria itu menjadi salah satu warga yang berhasil menyelamatkan diri. Namun, keselamatannya harus dibayar dengan kehilangan dua orang yang paling dicintainya. Istri dan putranya yang berusia 18 tahun hingga kini belum ditemukan.

Ia menggambarkan bagaimana banjir datang dengan sangat cepat.

"Banjir itu datang dalam hitungan detik," kata si pria, dikutip dari Jagran, Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, pada pagi hari pihak berwenang sempat mendatangi kawasan tersebut dan memberi tahu warga bahwa bendungan di Sungai Bhote Koshi di sisi Tibet telah jebol.

Air dalam jumlah sangat besar disebut mengalir menuju wilayah mereka. Warga kemudian diperintahkan untuk segera berlari menuju tempat yang lebih tinggi. Namun, waktu yang tersedia sangat terbatas.

"Sangat sedikit orang yang berhasil mencapai tempat aman tepat waktu, karena banjir menyapu banyak orang dalam hitungan detik," ujarnya.

Di tengah kepanikan, warga berlarian menyelamatkan diri tanpa mengetahui seberapa besar gelombang air yang akan datang.

Tak Ada Hujan saat Banjir Menerjang

Yang membuat bencana ini semakin mencekam adalah kondisi sebelum banjir datang. Menurut kesaksian warga, tidak ada hujan di kawasan tersebut ketika bencana terjadi.

Warga masih menjalankan aktivitas sehari-hari. Tidak ada tanda-tanda yang membuat mereka menyangka bahwa gelombang air besar akan menerjang permukiman.

Kemudian, semuanya berubah dalam waktu sangat singkat.

Air bah tiba-tiba datang dengan membawa lumpur, bebatuan, dan berbagai material lainnya. Gelombang tersebut bergerak menuju kawasan hilir dan menghantam permukiman di distrik Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading.

Warga yang berada di jalur banjir hanya memiliki waktu beberapa saat untuk mencari tempat perlindungan. Sebagian berhasil melarikan diri. Sebagian lainnya terseret arus.

Tanah Bergetar, Gelombang Air Muncul dari Atas

Kesaksian mengerikan juga disampaikan Rajendra Dhungana, kepala petugas bea cukai di Rasuwa.

Kepada Kathmandu Post, Dhungana mengatakan dirinya merasakan tanah bergetar sebelum akhirnya berlari keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Di hadapannya, terlihat gelombang air besar bergerak dari arah atas.

Lebih mengerikan lagi, gelombang tersebut disusul sesuatu yang tampak seperti awan asap dan bergerak cepat menuju Timure Bazaar.

Dhungana sadar bahwa mereka tidak memiliki banyak waktu. Ia bersama puluhan orang lainnya kemudian berlari menuju hutan terdekat untuk menyelamatkan diri.

Mereka hanya bisa menyaksikan dari tempat yang lebih tinggi ketika banjir menghantam kawasan di bawahnya.

Lebih dari 300 kendaraan dan truk yang sedang menunggu di pos pemeriksaan bea cukai ikut tersapu derasnya air.

Desa Hanyut, Lumpur Menimbun Rumah

Dalam waktu singkat, kawasan yang sebelumnya dipenuhi aktivitas warga berubah menjadi hamparan lumpur dan puing.

Beberapa permukiman dilaporkan tersapu banjir. Lumpur setebal beberapa meter kemudian menutupi rumah, jalan, jembatan, hingga ruang publik.

Rekaman dari lokasi bencana memperlihatkan bangunan yang sebagian besar tertutup material lumpur. Kondisi tersebut membuat tim penyelamat harus bekerja ekstra keras untuk menemukan korban.

Setiap gundukan lumpur berpotensi menyimpan korban yang belum ditemukan. Sementara itu, keluarga para korban masih menunggu kabar dari orang-orang yang mereka cintai.

Bencana Bermula dari Runtuhnya Gletser

Menurut pejabat setempat, rangkaian bencana diduga bermula ketika gletser runtuh dan menghalangi aliran Sungai Lhende, anak sungai Bhote Koshi.

Sumbatan tersebut membuat permukaan air naik secara tiba-tiba. Ketika aliran air menerobos, air dalam jumlah besar kemudian bergerak dengan cepat menuju kawasan di hilir.

Daerah Timure dekat Rasuwagadhi, yang berada di perbatasan Nepal dengan Tibet, menjadi salah satu wilayah pertama yang dihantam banjir. Dalam hitungan menit, air kemudian menerjang wilayah lainnya.

Nepal hingga kini melaporkan sedikitnya 175 orang meninggal dunia, sementara 823 orang masih hilang. Angka ini masih dapat berubah karena operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan.

Medan yang rusak parah menjadi tantangan besar bagi petugas. Jalan dan jembatan rusak, sementara lumpur tebal menutup sejumlah lokasi yang diduga menjadi tempat korban terseret.

Topik Menarik