Urine Mendadak Lebih Sedikit usai Lari? Waspada Gejala Cedera Ginjal Akut!

Urine Mendadak Lebih Sedikit usai Lari? Waspada Gejala Cedera Ginjal Akut!

Gaya Hidup | inews | Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:11
share

JAKARTA, iNews.id - Urine yang tiba-tiba keluar jauh lebih sedikit setelah olahraga berat, seperti lari, jangan selalu dianggap sebagai tanda tubuh sekadar kelelahan. Kondisi tersebut bisa menjadi salah satu tanda cedera ginjal akut atau Acute Kidney Injury (AKI), terutama jika disertai pembengkakan, mual, lemas, atau sesak napas.

Hal ini menjadi perhatian setelah kisah seorang pria berusia 32 tahun yang gemar berlari viral di media sosial. Cerita tersebut dibagikan oleh akun X @icalbhimaa dan mendapat perhatian lebih dari 10 juta netizen. 

Dalam cerita yang dibagikan, pria tersebut sebelumnya dikenal memiliki gaya hidup sehat. Ia rajin berolahraga, memiliki tubuh bugar, menjaga pola makan, serta tidak merokok.

Namun, setelah menyelesaikan lari jarak jauh di tengah cuaca panas, kondisi tubuhnya berubah.

Beberapa hari kemudian, kedua kakinya mengalami pembengkakan. Ia juga merasakan mual dan lemas berat. Yang paling mengkhawatirkan, urine yang keluar menjadi sangat sedikit hingga hampir tidak buang air kecil.

Pemeriksaan di rumah sakit menunjukkan kadar kreatinin meningkat dan pasien didiagnosis mengalami AKI.

Salah satu hal yang kemudian menjadi perhatian adalah kebiasaannya mengonsumsi ibuprofen sebelum berlari untuk mencegah nyeri, kemudian kembali mengonsumsinya setelah olahraga karena tubuh terasa pegal.

Urine Sedikit Bisa Menjadi Tanda Penting

Ginjal memiliki fungsi penting untuk menyaring darah dan membuang produk sisa metabolisme melalui urine. Ketika fungsi ginjal turun secara tiba-tiba, produksi urine dapat ikut menurun.

Menurut Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO), AKI dapat dikenali antara lain melalui peningkatan kreatinin dalam darah atau penurunan produksi urine. Dalam kriteria KDIGO, salah satu parameter AKI adalah volume urine kurang dari 0,5 mililiter per kilogram berat badan per jam selama sedikitnya enam jam.

Namun, perubahan jumlah urine tidak selalu berarti seseorang mengalami AKI. Produksi urine juga dapat berkurang karena kurang minum atau kehilangan cairan. Karena itu, urine yang mendadak jauh lebih sedikit perlu dilihat bersama gejala dan kondisi lain.

Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) mencatat sejumlah gejala AKI, seperti lebih jarang buang air kecil, rasa haus, mual atau muntah, pembengkakan pada kaki, kelelahan, pusing, kebingungan, hingga sesak napas.

Apa Hubungannya dengan Lari dan Dehidrasi?

Pada kasus pelari yang viral, salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah olahraga jarak jauh dalam cuaca panas. Saat berolahraga, tubuh kehilangan cairan melalui keringat. Jika kehilangan cairan cukup banyak dan tidak tergantikan, seseorang dapat mengalami dehidrasi.

Dehidrasi berat dapat menurunkan volume darah yang beredar, sehingga aliran darah menuju ginjal ikut berkurang. Kondisi tersebut dapat menyebabkan fungsi penyaringan ginjal terganggu.

MedlinePlus juga menjelaskan bahwa paparan panas dan dehidrasi dapat menyebabkan berkurangnya volume cairan tubuh dan aliran darah ke ginjal, yang pada akhirnya dapat memicu gangguan fungsi ginjal.

Artinya, olahraga itu sendiri bukan penyebab otomatis terjadinya cedera ginjal. Masalahnya dapat muncul ketika olahraga berat menyebabkan kehilangan cairan yang signifikan, terutama jika disertai faktor risiko lain.

Mengapa Ibuprofen Bisa Menjadi Masalah?

Ibuprofen termasuk kelompok obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID). Obat serupa antara lain naproksen dan diklofenak.

NSAID bekerja dengan menghambat pembentukan prostaglandin, senyawa yang antara lain berperan dalam mempertahankan aliran darah ke ginjal dalam kondisi tertentu.

Ketika tubuh mengalami dehidrasi, ginjal sudah berada dalam kondisi aliran darah yang lebih rendah. Pada situasi tersebut, NSAID dapat mengganggu mekanisme perlindungan ginjal.

Hal ini bukan sekadar teori. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menyebut NSAID, termasuk ibuprofen dan naproksen, dapat menyebabkan AKI jika dikonsumsi ketika seseorang mengalami dehidrasi atau tekanan darah rendah.

Karena itu, kombinasi olahraga berat dan kehilangan cairan serta penggunaan NSAID perlu diperhatikan.

Namun, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa ibuprofen pasti menjadi satu-satunya penyebab kondisi pria tersebut hingga mengalami gagal ginjal. Berdasarkan informasi kasus yang beredar, diperlukan data medis lengkap untuk menentukan penyebab AKI secara pasti.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Perubahan jumlah urine setelah olahraga perlu mendapat perhatian lebih jika berlangsung tidak seperti biasanya atau disertai gejala lain.

Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain:

  • Urine jauh lebih sedikit dari biasanya
  • Hampir atau sama sekali tidak buang air kecil
  • Kaki, pergelangan kaki, atau wajah membengkak
  • Mual atau muntah
  • Lemas berat
  • Pusing atau kebingungan
  • Sesak napas

NHS menyarankan seseorang mencari pertolongan medis jika mengalami gejala yang mengarah pada AKI. Diagnosis biasanya dilakukan melalui pemeriksaan darah untuk melihat kadar kreatinin dan dapat dilengkapi pemeriksaan urine serta pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien.

Kisah pelari berusia 32 tahun yang viral menjadi pengingat bahwa olahraga untuk menjaga kesehatan tetap perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi tubuh.

Bukan berarti pelari dilarang mengonsumsi ibuprofen atau semua orang yang minum ibuprofen akan mengalami gangguan ginjal. Namun, penggunaan NSAID saat tubuh mengalami dehidrasi perlu dihindari kecuali atas arahan tenaga kesehatan. 

NIDDK secara khusus memperingatkan bahwa NSAID dapat memicu AKI ketika dikonsumsi dalam kondisi dehidrasi.

Bagi pelari, yang tidak kalah penting adalah memastikan kebutuhan cairan terpenuhi, memperhatikan kondisi cuaca, memberi tubuh waktu pemulihan, dan tidak menjadikan obat pereda nyeri sebagai kebiasaan rutin untuk mengantisipasi rasa pegal.

Jika urine mendadak jauh lebih sedikit setelah olahraga, terlebih disertai pembengkakan, mual, lemas berat, atau sesak napas, jangan buru-buru menganggapnya sebagai efek kecapekan.

Perubahan tersebut bisa menjadi sinyal bahwa tubuh, termasuk ginjal, sedang mengalami masalah dan membutuhkan pemeriksaan medis.

Topik Menarik