Menkeu AS Sebut Militer Iran Hancur 100, Teheran: Tak Masuk Akal

Menkeu AS Sebut Militer Iran Hancur 100, Teheran: Tak Masuk Akal

Terkini | inews | Selasa, 25 Agustus 2026 - 06:46
share

TEHERAN, iNews.id - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent menyebut kemampuan militer Iran telah dilumpuhkan dan hampir 100 persen pabrik senjatanya dihancurkan. Pernyataan tersebut langsung dibantah Iran yang menilai narasi Washington tidak masuk akal.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyoroti klaim Bessent bahwa AS telah melumpuhkan kekuatan militer Iran, menghancurkan hampir seluruh pabrik militernya, serta mengubur program nuklir Teheran.

"Narasi Anda tidak masuk akal, Anda mengatakan kekuatan militer Iran telah 'dilumpuhkan', 100 persen pabrik militernya 'dihancurkan', dan program nuklirnya 'dikubur'," ujar Gharibabadi dalam unggahan di media sosial X, dikutip Selasa (25/8/2026).

Menurut Gharibabadi, klaim tersebut justru menunjukkan kegagalan AS dan Israel mencapai tujuan perang mereka terhadap Iran sejak 28 Februari lalu. Dia menegaskan operasi ekonomi yang kini dilancarkan Washington juga akan bernasib sama dengan operasi militernya.

Gharibabadi bahkan menyebut pernyataan AS mengenai "invasi finansial terbesar dalam sejarah" serta pengerahan seluruh institusi dan kekuatan AS terhadap Iran sebagai sesuatu yang ironis.

"Apakah ini sebuah kemenangan atau pengakuan atas kekalahan Amerika?" tulisnya.

Pernyataan tersebut muncul setelah Bessent mengatakan AS memasuki tahap baru dalam tekanan terhadap Iran melalui perang ekonomi. Dalam opini yang diterbitkan Financial Times pada Minggu (23/8/2026), Bessent menyebut langkah tersebut sebagai "serangan finansial terbesar yang pernah dilakukan terhadap musuh".

Bessent juga mengatakan, operasi ekonomi itu merupakan kelanjutan dari serangkaian tindakan AS yang sebelumnya diklaim telah melumpuhkan kemampuan militer Iran, menghancurkan hampir 100 persen pabrik senjata, dan mengubur program nuklir negara tersebut.

AS juga akan memberlakukan sanksi ekonomi besar-besaran terhadap Iran. Bessent dijadwalkan menjelaskan secara rinci daftar sanksi baru tersebut pada Senin (24/8/2026) waktu AS.

Presiden AS Donald Trump menyebut kebijakan itu sebagai operasi ekonomi yang bertujuan menekan Iran melalui jalur perdagangan dan keuangan. Sanksi tersebut diperkirakan akan semakin mengisolasi Iran dari sistem perdagangan dan keuangan global.

Trump bahkan menyebut perang ekonomi terhadap Iran sebagai sesuatu yang belum pernah dialami negara mana pun sebelumnya.

Namun, Teheran menilai langkah tersebut tidak akan membuat Iran menyerah. Gharibabadi mengatakan tekanan ekonomi AS akan gagal mencapai tujuan sebagaimana operasi militer sebelumnya.

Topik Menarik