Tak Mau Tunduk dari Tekanan, PM Kanada Balas Tarif 50 AS: Ini soal Kedaulatan
TORONTO, iNews.id - Perdana Menteri Kanada Mark Carney berani melawan domoniasi Amerika Serikat (AS). Dia belakangan ini menjadi perhatian internasional, termasuk menyerukan negara-negara kekuatan menengah untuk menolak tekanan ekonomi dari negara-negara besar.
Presiden AS Donald Trump pun langsung memberi ujian kepada Kanada dengan menerapkan tarif baru yang dapat menunjukkan seberapa besar penderitaan ekonomi yang dapat ditanggung Kanada.
Ketegangan meningkat sejak Jumat pekan lalu, Kanada menarik diri dari perundingan setelah Carney mengatakan AS menuntut terlalu banyak sebagai imbalan atas pemangkasan tarif.
Sehari kemudian, AS justru menaikkan tarif masuk untuk barang Kanada sebesar 50 persen. Sebagai pembalasan, Carney menerapkan besara tarif yang sama untuk barang masuk dari AS, berlaku mulai 8 September.
“Kami akan membalas,” kata Carney, saat itu, seperti dikutip dari Associated Press, Senin (24/8/2026).
Keputuan Carney tersebut cukup mengejutkan karena melakukan apa yang sejauh ini dihindari banyak sekutu AS.
Carney mengatakan, AS menambahkan syarat baru pada jam-jam terakhir menjelang kesepakatan. Dampak jika menerima syarat AS itu, hak Kanada untuk membuat kesepakatan dagang dengan negara lain menjadi sangat terbatas.
Carney menegaskan tuntutan itu tidak bisa diterima karena masuk dalam ranah kedaulatan.
Menteri Kepala British Columbia, David Eby, mendukung Carney dengan mengatakan, menerima syarat seperti itu sama saja menempatkan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS secara ekonomi.
Trump membalas lagi dengan mengatakan Kanada adalah negara yang sangat bergantung pada AS.
"Kanada hidup karena Amerika Serikat. Ingat itu, Mark, jika lain kali Anda menyampaikan pernyataan," kata Trump.
Sebelumnya Trump berulang kali mengatakan ingin menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS.
Teranyar, Trump menulis di akun Truth Social bahwa Kanada akan mendapat banyak manfaat jika menjadi negara bagian.
"(Kanada mengenakan tarif) Dalam jumlah besar (kepada petani AS selama bertahun-tahun). Tidak akan terjadi lagi," tulisnya.









