Kisah Menyedihkan Pasien Kanker Gaza Sulit Berobat: Saya Hanya Menunggu untuk Mati
GAZA, iNews.id - Bagi pasien kanker di Gaza, melawan penyakit mematikan bukan satu-satunya perjuangan. Mereka juga harus menghadapi sulitnya mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan, sementara kondisi tubuh terus memburuk dari hari ke hari.
Salah satu kisah paling memilukan datang dari Khuloud Abu Sahmoud, perempuan Palestina berusia 33 tahun yang menderita kanker ovarium stadium lanjut.
Khuloud telah menunggu kesempatan untuk keluar dari Gaza agar bisa mendapatkan perawatan di Mesir atau negara lain. Namun, waktu terus berjalan dan penyakit yang dideritanya semakin menyebar. Kanker tersebut kini telah mencapai paru-paru dan tulangnya.
Di tengah kondisi itu, Khuloud menggambarkan hidupnya seperti menunggu kematian. Seperti apa kisah pilu Khuloud berjuang melawan kanker di Gaza?
Kisah Perjuangan Pasien Kanker di Gaza Berpacu dengan Waktu
"Setiap hari penyakit saya berkembang dan kondisi saya sangat memprihatinkan. Semua kuku saya sudah rontok, tidak ada satu pun yang tersisa. Saya hanya menunggu untuk mati," ujar Khuloud, dikutip dari The Straits Times, Kamis (13/8/2026).
Kalimat tersebut menggambarkan betapa berat perjuangan pasien kanker di Gaza yang tidak memiliki akses memadai terhadap pengobatan.
Kondisi Khuloud menjadi gambaran bagaimana keterbatasan akses terhadap pengobatan dapat membuat pasien kanker kehilangan waktu yang sangat berharga.
Ia telah menunggu sejak gencatan senjata pada Oktober untuk dapat meninggalkan Gaza dan menjalani perawatan. Namun, selama masa penantian tersebut, penyakitnya justru terus berkembang.
Bagi pasien kanker, waktu menjadi sangat penting. Ketika pengobatan tidak segera diberikan, penyakit dapat berkembang ke bagian tubuh lain dan membuat kondisi pasien semakin sulit ditangani.
Situasi itu pula yang disaksikan dokter-dokter di Gaza.
Mohamed Abu Selmia, kepala Rumah Sakit Al Shifa, mengatakan sejumlah besar pasien kanker meninggal setiap hari karena tidak mendapatkan kemoterapi yang dibutuhkan.
"Kami mencatat sejumlah besar kematian, berkisar tiga hingga lima setiap hari, karena pasien tidak menerima kemoterapi yang dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa mereka," kata Abu Selmia.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum perang. Sobhi Skaik, dokter bedah Palestina yang sebelumnya memimpin Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina, mengatakan sebelum perang sekitar satu hingga dua pasien kanker meninggal setiap hari.
Tak Punya Tempat untuk Menjalani Terapi
Perjuangan pasien kanker semakin berat setelah Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina, fasilitas khusus kanker di Gaza, dihancurkan pada 2025.
Kehancuran fasilitas tersebut membuat pasien kehilangan salah satu tempat utama untuk mendapatkan terapi kanker.
Dokter mengatakan rumah sakit-rumah sakit yang masih beroperasi juga mengalami kekurangan berbagai perlengkapan medis penting, termasuk kebutuhan untuk diagnosis dan pengobatan kanker.
Akibatnya, pasien yang membutuhkan kemoterapi maupun perawatan lanjutan harus menghadapi pilihan yang sangat terbatas.
Sebagian harus menunggu kesempatan untuk keluar dari Gaza agar dapat menjalani pengobatan di luar wilayah. Namun, tidak semua pasien berhasil mendapatkan kesempatan tersebut.
Hasil Timnas Vietnam vs Gangwon FC: Menang 2-1, Pasukan Kim Sang-sik Menggila di Korea Selatan
Bagi Khuloud, penantian itu bukan sekadar menunggu perjalanan menuju rumah sakit lain. Ia menunggu sambil merasakan penyakit terus mengambil alih tubuhnya.
Kanker telah menyebar ke paru-paru dan tulang. Kukunya bahkan telah rontok seluruhnya. Di tengah kondisi tersebut, ia tidak tahu kapan bisa mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan.
"Setiap hari penyakit saya berkembang," katanya.
Kesaksiannya menjadi potret memilukan pasien kanker di Gaza yang harus menghadapi penyakit mematikan tanpa kepastian kapan dapat memperoleh terapi.
Bagi mereka, pengobatan bukan lagi sekadar tentang menyembuhkan penyakit. Pengobatan menjadi harapan untuk mendapatkan waktu hidup yang lebih panjang.
Namun, ketika obat dan terapi sulit didapatkan, harapan itu pun perlahan menipis.










